Oleh: Abdur Rahim*
Tugujatim.id – Setelah melalui proses seleksi panjang yang melibatkan sembilan pondok pesantren di lima provinsi, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) akhirnya menetapkan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, sebagai tuan rumah Muktamar ke-35 NU.
Keputusan ini disahkan dalam Rapat Gabungan Harian Syuriyah dan Tanfidziyah PBNU di Jakarta, Selasa malam (07/07/2026). Semula agenda ini dijadwalkan berlangsung pada 1–5 Agustus 2026, namun PBNU mengundurnya menjadi 27–31 Agustus 2026 untuk memberi waktu tambahan bagi panitia daerah menuntaskan kebutuhan infrastruktur.
Bagi banyak warga Nahdliyin, hasil ini tidak sepenuhnya mengejutkan. Sepanjang proses seleksi, nama Tambakberas konsisten disebut sebagai salah satu kandidat terkuat, bersanding dengan Pondok Pesantren Lirboyo di Kediri dan DKI Jakarta yang juga mendapat dukungan luas. Setidaknya ada delapan alasan yang, menurut saya, membuat Tambakberas paling logis dan paling matang untuk menjadi tuan rumah forum tertinggi NU ini.
Pertama, mengembalikan muktamar ke akar tradisi pesantren. Dengan digelar di lingkungan pesantren, bukan di gedung konvensi atau hotel berbintang, penyelenggaraan Muktamar di Tambakberas dinilai sesuai dengan ruh awal berdirinya NU pada 1926. Arah ini juga sejalan dengan semangat Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU 2026 di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, yang menegaskan pentingnya menguatkan kembali napas kepesantrenan dalam gerak jam’iyah.
Kedua, kedekatan dengan akar sejarah kelahiran NU. Bersama Pondok Pesantren Tebuireng, Tambakberas dikenal luas sebagai salah satu rahim sejarah lahirnya NU. Gagasan mendirikan organisasi ini tumbuh dari pemikiran KH. Abdul Wahab Chasbullah, tokoh sentral Tambakberas, atas restu Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari. Menggelar Muktamar di sini dapat dimaknai sebagai langkah pulang ke rumah para pendiri NU.
Ketiga, posisi sebagai jalan tengah dalam dinamika internal PBNU. Proses penentuan lokasi sempat diwarnai dinamika yang cukup tajam. Dalam forum Munas-Konbes di Ploso, polemik seputar opsi Lirboyo bahkan sempat memicu ketegangan antarpeserta, hingga Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar harus menegaskan bahwa keputusan lokasi belum final kala itu. Di tengah situasi tersebut, Tambakberas relatif diterima luas baik oleh kalangan Lirboyo maupun non-Lirboyo, sehingga posisinya dipandang mampu menjaga persatuan dan meredakan ketegangan menjelang forum tertinggi NU ini.
Keempat, ifrastruktur dan Sumber Daya Manusia (SDM) yang matang. Sejauh penelusuran saya, kompleks Tambakberas di bawah Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum menaungi 19 lembaga pendidikan formal dan 3 perguruan tinggi, didukung puluhan unit ribath atau asrama santri yang tersebar di kawasan pesantren. Jumlah santrinya diperkirakan mencapai 14.000 hingga 15.000 orang, dengan ratusan kiai dan nyai pengasuh serta ribuan tenaga pengajar. Skala ini sejalan dengan proyeksi PBNU bahwa Muktamar ke-35 NU akan dihadiri sekitar 5.000 hingga 6.000 peserta resmi, belum termasuk peninjau dan tamu undangan yang jumlahnya bisa jauh lebih besar.
Kelima, akses transportasi yang relatif mudah. Saya menyebutnya sebagai jalur sutra. Kendala geografis yang dulu identik dengan pesantren di kawasan pedesaan kini dinilai tidak lagi relevan. Lokasi Tambakberas relatif dekat dengan akses jalan tol serta sejumlah bandara utama di Jawa Timur, sehingga mobilisasi ribuan peserta dari berbagai wilayah Indonesia menjadi lebih mudah dan efisien.
Keenam, membawa kembali spirit “Yalal Wathan”. Nama besar KH. Abdul Wahab Chasbullah, pengubah lagu wajib Yalal Wathan, dijadikan simbol harapan agar Muktamar berlangsung teduh, damai, dan jujur, serta bebas dari intervensi kepentingan pemodal. Semangat ini sejalan dengan upaya mengembalikan esensi Muktamar pada nilai mahabbah dan khidmah kepada umat dan ulama.
Ketujuh, lolos dari proses seleksi yang ketat dan kompetitif. Penetapan Tambakberas bukan keputusan instan. Tim Survei Lokasi Muktamar Ke-35 NU bentukan PBNU sempat meninjau sembilan pondok pesantren di lima provinsi, mulai dari Sumatra Barat, DKI Jakarta, Jawa Barat, Nusa Tenggara Barat, hingga Jawa Timur, sebelum akhirnya mengerucut. Sempat pula muncul jajak pendapat digital yang untuk sementara mengunggulkan Jawa Barat, serta dukungan kuat sejumlah PWNU terhadap opsi Lirboyo dan Jakarta. Di tengah persaingan seketat itu, Tambakberas tetap dipertimbangkan serius berkat rekam jejaknya menggelar acara berskala besar, termasuk sebagai lokasi Apel Akbar Hari Santri 2025.
Kedelapan, memenuhi kriteria resmi Munas-Konbes 2026. Dari sisi konstitusi organisasi, kesiapan teknis dan administratif Tambakberas dinilai memenuhi kriteria yang diamanatkan Munas-Konbes 2026 di Ploso, Kediri, mulai dari aspek keamanan dan ketertiban persidangan, kesiapan finansial daerah penyelenggara, hingga pertimbangan spiritual yang selama ini selalu menjadi bagian penting dalam pengambilan keputusan besar di lingkungan NU.
Ini menurut saya momentum yang tepat menuju abad kedua NU. Menurut saya, memilih lokasi Muktamar bukan sekadar menentukan tempat berkumpul atau memilih ketua umum baru. Banyak pihak yang sudah menyerukan agar seluruh pengurus wilayah dan cabang bersiap menyukseskan forum ini dengan semangat kebersamaan, mengingat dinamika penentuan lokasi sebelumnya telah cukup menyita perhatian publik.
Dengan infrastruktur yang matang, dukungan sejarah yang kuat, serta proses seleksi yang telah teruji, Tambakberas kini mengemban amanah menjaga kelancaran forum permusyawaratan tertinggi NU sekaligus menandai langkah awal organisasi ini memasuki abad kedua usianya. Wallahu a’lam.
*Warga NU, tinggal di Simo, Kabupaten Tuban.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Editor: Dwi Lindawati








