SURABAYA, Tugujatim.id – Revitalisasi Kota Lama Surabaya menarik antusiasme wisatawan. Perencanaan cemerlang itu berkat kerja sama semua stakeholders terutama dari akademisi sejarah Universitas Airlangga Surabaya.
Wisata Kota Lama Surabaya akan diresmikan oleh Pemkot pada Minggu (23/6/2024) mendatang. Namun, sebelum terlihat cantik seperti saat ini, revitalisasi Kota Lama Surabaya melewati proses yang cukup panjang.
Salah satu akademisi yang terlibat yakni dari Unair Surabaya. Dosen Fakultas Ilmu Budaya (FIB), sejarawan sekaligus Tim Ahli Cagar Budaya Kota Surabaya, Purnawan Basundoro.
Sebagai daerah yang berjuluk Kota Pahlawan, Surabaya memang tidak lepas dari sisi historikal perjuangan melawan penjajah Hindia Belanda. Tidak heran, kalau di kawasan Kota Lama bangunan-bangunan yang tertinggal sangat khas dengan nuansa Eropa.
Faktor inilah yang menjadi tantangan saat proses revitalisasi Kota Lama Surabaya. Meskipun diubah menjadi kawasan wisata pada bangunan cagar budaya tersebut unsur sejarah, corak, motif hingga konstruksi bangunan tak bisa dihilangkan.
“Sebagai akademisi, kami memberikan advice atau masukan-masukan yang terkait dengan pemertahanan bangunan, gaya bangunan dan sebagainya, agar tetap terjaga aspek kebudayaannya,” katanya, Rabu (19/6/2024).
Ada tiga kawasan yang ditonjolkan untuk wisata baru di Surabaya ini; Pecinan, Arab dan Eropa. Tiga kawasan ini lokasinya sangat berdekatan.

“Dulunya pada abad ke-18, terdapat beberapa aktivitas, mulai pemukiman, perkantoran seperti kantor presiden, polisi, hingga kantor militer. Jadi, memang sebagian besar kawasan tersebut merupakan kawasan untuk pejabat kolonial,” jelasnya.
Nantinya, akademisi yang fokus terhadap Ilmu Sejarah Perkotaan ini akan turut terlibat dalam pencantuman narasi sejarah di setiap gedung di kawasan Kota Lama Surabaya.
“Karena dibutuhkannya narasi sejarah yang sebisa mungkin harus mampu menjelaskan kawasan ataupun bangunan di sana dari aspek kesejarahannya,” jelanya.
Narasi-narasi tersebut tentunya sebagai media edukasi bagi masyarakat atau pengunjung untuk mengetahui sejarah setiap bangunannya.
Dia mengusulkan, agar Pemerintah Kota Surabaya menata setiap wilayah agar lebih terinterasi. Misalnya, dengan tema-tema yanh sesuai.
“Ada tema perkantoran, religi, perdagangan yang berupa pasar-pasar tradisional, tema transportasi darat maupun sungai, tema etnis dan tema perkampungan yang ada di Surabaya,” terangnya.
Tak cukup sampai peresmian, alumnus Universitas Gadjah Mada tersebut berharap agar revitalisasi Kota Lama Sudabaya bisa berjalan hingga jangka panjang.
Maka, yang perlu dilakukan adalah menata dan menjaga kualitas di semua kawasan agar bangunan-bangunan cantik tersebut tetap hidup.
“Untuk jangka panjangnya, saya pikir itu mengenai bagaimana agar bangunan-bangunan bersejarah yang ada, bukan hanya yang telah ditetapkan, tetapi seluruh kawasan menjadi tertata secara keseluruhan, sehingga menjadi lebih nyaman untuk orang-orang berkunjung,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: Izzatun Najibah
Editor: Darmadi Sasongko








