Tugujatim.id – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahaya global serangan penyakit Mpox atau yang dikenal dengan cacar monyet. Sebab, virus itu kini menyebar dengan cepat di sebagian dataran Afrika.
Apakah penyakit ini lebih ganas dari Covid-19? Apakah penyakit cacar monyet ini bakal menjadi pandemi?
“Singkirkan dari pikiran kita bahwa keadaan seperti Covid terjadi lagi dan kami bakal melaksanakan karantina wilayah atau akan terulang lagi seperti Mpox pada 2022,” tutur Dr Jake Dunning melansir dari BBC.
Memang belum ada kepastian tentang hal itu, tapi kita harus mengerti bahwa cacar monyet telah bercabang dan menjadi wabah di berbagai wilayah.
Baca Juga: Unesa Bakal Jadi PTN Indonesia Pertama yang Buka Kampus Baru di IKN
Pertama Kelas 1a, bersumber dari konsumsi manusia yang sembarangan. Mereka memakan satwa liar yang sudah terinfeksi virus. Kejadian ini muncul di daerah utara dan barat Republik Demokratik Kongo (DRC). Virus akan menyebar bila seseorang melakukan kontak dekat dengan penderita.
Kelas 1b, jenis baru ini telah mewabah ke daerah yang tidak masuk dari jangkauan Mpox sebelumnya seperti Kenya, Burundi, Uganda, dan Rwanda. Peredarannya berada di sepanjang jalur truk yang pengemudinya melakukan hubungan seksual dengan pekerja seks.
Diketahui pekerja seks tersebut merupakan orang yang dieksploitasi. Awalnya hanya menginfeksi wilayah timur DRC, tetapi berjalannya waktu meluas ke negara tetangga.
Kemudian kelas 2 merupakan wabah Mpox yang pernah melanda dunia pada 2022. Dan kembali lagi sumbernya memiliki keterkaitan yang erat dengan hubungan seks, khususnya berdampak pada komunitas biseksual dan gay. BBC juga mengatakan 98,6% gay berada di Inggris. Serta kini wabah itu belum usai.
Lantas jenis Mpox mana yang ditandai oleh WHO sebagai darurat global? Mpox kelas 1b.
Baca Juga: Kris Dayanti Pasang Story Batal Calonkan Walikota Batu
Kategori ini kabarnya ada pada 2024, namun Departemen Kesehatan Kivu Selatan sudah memeriksa induknya berada pada 2023. Tepatnya berada di pertambangan emas Kamituga, Provinsi Kivu Selatan Kongo.
“Ada perdagangan seks di wilayah pertambangan dan industri itu meluas dengan kencang ke berbagai negara di perbatasan. Sebab, banyak aktivitas manusia,” kata Leandre Murhula Masirika (koordinator penelitian Departemen Kesehatan Kivu Selatan) pada BBC.
Leandre menambahkan, jual beli seks adalah penyebaran virus yang paling dasar yang kemudian dapat ditularkan oleh orang tua pada anak maupun antar anak.
Tidak ayal, virus ini dapat menular ke seantero bumi karena perbuatan manusia yang gemar mampir di industri seks. Maka cara pencegahannya ialah kembali ke pribadi kita masing-masing untuk tidak memasuki ranah penyebaran virus ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer:Muhammad Wahib Ali/Magang
Editor: Dwi Lindawati








