JEMBER, Tugujatim.id – Tangis guru honorer di Jember pecah di halaman Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Jember pada Rabu (22/1/2025).
Para guru honorer yang didampingi Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Jember meminta keadilan setelah kelulusan Pegawai Pemerintahan dengan Perjanjian Kontrak (PPPK) dibatalkan tanpa pemberitahuan sebelumnya.
“Di webnya Panselda (Panitia Seleksi Daerah, Red) dinyatakan lolos ke-22 orang tersebut,” ujar Ketua PGRI Jember, Supriyono saat mengunjungi DPRD Jember bersama para guru honorer.
BACA JUGA: Kronologi Wanita Asal Lumajang Tewas di Hotel Bintang Lima Surabaya
Ia menjelaskan, ke-22 guru honorer itu diduga menjadi korban kebijakan, setelah muncul Surat Edaran (SE) Bupati Jember yang memuat kriteria kelulusan tenaga honorer Kategori 2 (K2) yang sebelumnya tidak lulus menjadi lulus.
Kejadian itu disinyalir membatalkan kelulusan ke-22 guru honorer yang sebelumnya diterima PPPK. Salah seorang guru bernama Cornelia Martha menjelaskan, selain mengalami kerugian waktu, dirinya juga mengalami kerugian secara psikis.
“Keluarga kami yang sudah bangga dengan kelulusan saya, bahkan saya pribadi juga sampai mengorbankan waktu dan meninggalkan anak saya yang masih balita, untuk saya bisa fokus pemberkasan ini,” ujar Cornelia Martha diiringi sesenggukan tanginya.
Guru di SDN Dukuhmencek 03 Kecamatan Sukorambi itu mengaku dipermainkan dan menuai kekecewaan. Tidak hanya dirinya, bahkan kekecewaan tersebut juga dialami keluarga besarnya.
“Pengumuman kami lulus itu tanggal 7 Januari 2025, kemudian kami menyelesaikan pemberkasan itu tanggal 15 Januari 2025 sudah selesai semua,kemudian kami dinyatakan tidak mendapatkan formasi atau status kami berubah itu tanggal 17 Januari 2025,” terangnya.
BACA JUGA: Rekomendasi Cafe Hidden Gem di Jember, Tawarkan Berbagai Nuansa dari Mexico Hingga Alam
Oleh karena itu, Cornelia Martha bersama para guru yang lainnya meminta keadilan. Banyak pengorbanan yang telah dilakukan, mulai dari meninggalkan peserta didik di sekolah hingga keluarga.
“Jadi ada momen seperti saya pribadi pada tanggal 12 saat saya ujian itu seharusnya saya bisa mengantar suami saya tugas kemanusiaan di Lebanon, tetapi saya memilih untuk tidak mengantarkan, saya menghadap komandan untuk izin, saya tidak mengantarkan suami untuk ujian,” tandas Cornelia Martha dengan tetesan air matanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter : Diki Febrianto
Editor: Darmadi Sasongko








