MOJOKERTO, Tugujatim.id – Beragam cara dilakukan oleh umat Kristiani untuk memperingati Jumat Agung sebagai rangkaian dari hari suci Paskah. Seperti aksi teaterikal atau tablo jalan salib yang tersaji di Gereja Katolik Santo Yosef, Kota Mojokerto, Jumat (18/04/2025). Terlihat ratusan umat Katolik begitu khidmat mengikuti prosesi peringatan ini.
Salah satu pengurus gereja sekaligus sutradara teater, Frans Hery Suharsono menuturkan bahwa suguhan tablo jalan salib ini bukan sekadar drama.
Baca Juga: Tanggal Berapa Paskah 2025? Simak Sejarah, Perayaan, hingga Maknanya
“Namun ini menjadi cara penghayatan kesengsaraan Yesus ketika menerima penebusan dosa semua umatnya,” ungkapnya.
Tak pelak, isak tangis ratusan umat tidak tertahankan saat melihat adegan Yesus diangkat di kayu salib pada altar gereja. Sementara peringatan Jumat Agung ini berjalan penuh khidmat.
“Puji Tuhan hari ini berjalan dengan lancar,” sambung Frans.
Jumat Agung Inti dari Paskah
Sementara itu, laman Christianity menjelaskan bahwa Jumat Agung merupakan hari suci bagi umat Kristiani. Hari tersebut memperingati penyaliban Yesus dan kematian-Nya di Kalvari. Hari Jumat terakhir sebelum Paskah tersebut juga sering disebut sebagai Jumat Agung dan Suci, Jumat Suci, dan Jumat Hitam.
Lalu, laman Kementerian Agama Republik Indonesia menjelaskan bahwa Jumat Agung merupakan salah satu hari raya utama bagi umat Kristiani. Jumat Agung memiliki posisi yang istimewa. Meski perayaan ini hanya terpisah 3 hari sebelum hari raya Paskah, Jumat Agung bukan sekadar pendahuluan atau pengantar menuju Paskah, melainkan memiliki keagungannya tersendiri.
Masih dari laman yang sama, sebenarnya dapat dikatakan pula bahwa Jumat Agung adalah inti dari Paskah. Tanpa penderitaan dan kematian Tuhan Yesus di kayu salib, tidak akan pernah ada kebangkitan dan kemenangan di kubur itu. Tanpa kematian pada hari Jumat yang Agung itu, tidak mungkin ada kebangkitan yang mulia berkemenangan di hari Paskah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Hanif Nanda Zakaria
Editor: Dwi Lindawati







