TUBAN, Tugujatim.id – Kasus demam berdarah dengue (DBD) belum mereda, kabar duka kembali terdengar. Seorang siswi madrasah meninggal dunia usai dirawat di RSUD dr. R. Koesma karena kondisi DBD di Tuban yang sudah sangat parah, Rabu malam (30/04/2025).
Korban DBD di Tuban ini adalah Nauratul Athiya Atsstaniyah, pelajar kelas 3 MI Al Asyhar Karangagung Timur. Dia meninggal setelah menjalani perawatan intensif di rumah sakit daerah tersebut.
Baca Juga: Waspada! 33 Kasus DBD di Tuban Selama Januari 2025
Kabar ini sontak menggugah kepedulian publik terhadap bahaya laten DBD yang kerap datang tiba-tiba dan berkembang cepat jika tidak segera ditangani.
Direktur RSUD dr R. Koesma Tuban dr Masyhudi mengungkapkan, pihaknya telah menerima sejumlah pasien DBD sejak awal tahun. Bahkan, dalam apel pagi sebelumnya, dia menyampaikan peringatan dari dokter spesialis anak tentang masih munculnya kasus baru.
“Kami minta semua waspada, kondisi cuaca sekarang rawan. Jaga lingkungan, jaga kesehatan,” ujarnya, Kamis (01/05/2025).
Data dari ruang perawatan menunjukkan bahwa kasus DBD di Tuban masih fluktuatif, namun cukup tinggi. Pada Ruang Anyelir, misalnya, tercatat 57 kasus pada Januari, 31 di Februari, 28 pada Maret, dan 34 kasus selama April.
Data Pasien DBD Dirawat di Tuban
Sementara di Ruang PICU tempat pasien kritis dirawat tercatat masing-masing 7 pasien pada Januari dan Februari, 6 pasien di Maret, serta 4 pasien sepanjang April.
Menurut dr Masyhudi, variasi tingkat keparahan gejala DBD menjadi tantangan tersendiri. Tidak semua pasien sama. Ada yang datang dalam kondisi ringan, tapi ada juga yang sudah sangat berat.
“Yang seperti ini biasanya sulit tertolong karena virusnya sudah menyebar ke banyak organ,” jelasnya.
Korban jiwa akibat DBD di RSUD Koesma selama tahun ini sudah mencapai tiga orang. Salah satunya adalah kasus terbaru yang dialami pasien. Dia datang ke rumah sakit dalam kondisi sudah sangat kritis.
“Kalau penanganan terlambat, peluang sembuh menipis. Kami selalu berupaya maksimal, tapi ada kasus yang memang sangat berat dari awal,” kata Masyhudi.
Dia mengimbau masyarakat agar lebih peduli dengan kebersihan lingkungan dan mengenali gejala DBD sejak dini. Demam tinggi mendadak, nyeri sendi, dan munculnya bintik merah di kulit bisa menjadi tanda awal yang harus segera ditindaklanjuti.
Dengan meningkatnya intensitas kasus, rumah sakit terus meningkatkan kesiagaan. Tenaga medis di semua lini diminta bersiap menghadapi kemungkinan lonjakan pasien.
“Kami tidak ingin ada korban lagi. Pencegahan harus dimulai dari rumah masing-masing,” tutupnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Mochamad Abdurrochim
Editor: Dwi Lindawati







