TUBAN, Tugujatim.id — Pengrajin Arang Kayu Asem Tuban panen pesanan menjelang Hari Raya Idul Adha 2025.Tidak hanya memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri, tetapi juga mulai rutin ekspor ke Timur Tengah.
Dari balik kepulan asap tungku-tungku tradisional, geliat ekonomi lokal hidup. Para pekerja terlihat sibuk mengolah batang-batang kayu asem yang siap dibakar. Bau khas dari proses pembakaran itu justru menjadi nilai jual yang tinggi.
Permintaan pasar meningkat drastis, bahkan mencapai 60 persen dibanding bulan biasa. Para pengrajin tak punya pilihan selain menggenjot produksi agar tak kehilangan peluang.

“Biasanya kami produksi 15 sampai 20 ton per bulan. Tapi bulan ini, kapasitas dinaikkan hingga hampir 40 ton,” ujar Purna Irawan, salah satu pemilik usaha arang kayu di Tuban, Selasa (13/05/2025).
Purna mengungkapkan, lonjakan ini sudah diprediksi sejak awal karena permintaan arang selalu tinggi menjelang hari raya kurban. Terlebih, arang dari kayu asem punya karakteristik yang dicari banyak orang—aroma khas yang menambah cita rasa saat memanggang daging.
Tak hanya warung sate dan pedagang pasar tradisional yang memesan, pembeli dari luar negeri juga ikut antre. Negara seperti Qatar dan Arab Saudi disebut rutin mengimpor arang dari Tuban, terutama menjelang perayaan keagamaan seperti Idul Adha.

“Biasanya ekspor satu sampai dua kontainer, sekitar 40 ton. Permintaan dari luar negeri cukup stabil,” jelas Purna, tanpa menyebut nilai transaksi secara rinci.
Ia menambahkan, harga jual arang berkisar antara Rp 4.000 hingga Rp 5.000 per kilogram, tergantung jenis kayu dan kualitas pembakaran. Harga ini dianggap terjangkau oleh pasar lokal, dan tetap kompetitif untuk kebutuhan ekspor.
BACA JUGA: Sapi Kurban Tuban Jadi Incaran, Diminati Pembeli Jateng dan Jabar
Di tengah lonjakan pesanan, strategi produksi pun diubah. Para pengrajin mengaktifkan seluruh tungku pembakaran yang ada. Tak cukup sampai di situ, mereka juga merekrut tambahan tenaga kerja untuk menjaga kecepatan produksi.
“Tenaga kerja kita tambah, tungku semuanya hidup. Ini momen penting buat kami,” tutur Purna.
Sementara itu, pedagang lokal mulai menimbun stok arang dalam jumlah besar. Di pasar-pasar tradisional Tuban, tumpukan karung arang sudah terlihat sejak awal Mei, menandakan tingginya potensi perputaran uang selama musim kurban.
Kini, arang kayu asem bukan lagi sekadar bahan bakar dapur. Ia berubah menjadi komoditas ekspor potensial, membawa angin segar bagi UMKM lokal yang perlahan menembus pasar global.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: Mochamad Abdurrochim
Editor: Darmadi Sasongko







