MOJOKERTO, Tugujatim.id – Mojokerto yang dikenal luas sebagai daerah industri tentu menyisakan cerita-cerita masa lalu. Seperti adanya stasiun kereta api Lespadangan yang berlokasi Terusan, Gedeg, Kabupaten Mojokerto. Kehadiran Lespadangan Mojokerto tersebut tidak lepas dari kian kuatnya industri gula pada masa lalu.
“Stasiun Lespadangan Mojokerto dibuka sekira 1912 silam untuk keperluan armada khusus pabrik gula. Dulu industri gula sedang sangat kuat ketika masa Hindia Belanda. Ada beberapa pabrik gula di daerah utara Sungai Brantas, seperti pabrik gula di Gempolkrep, lalu di Perning, hingga daerah Jombang,” ungkap Humas Balai Teknik Perkeretaapian Kelas I Surabaya Alfaviega Septian Pravangasta, Sabtu (07/06/2025).
Baca Juga: Diduga Stres, Sapi Kurban di Mojokerto Kabur hingga Tercebur ke Sungai
Vega, sapaan Alfaviega Septian Pravangasta, melanjutkan, sebelum jalur kereta api beroperasi, hasil produksi gula baik dari Mojokerto maupun Jombang kerap diangkut menggunakan perahu menuju Surabaya. Sebab, daerah Surabaya menjadi sentral hasil produksi gula pada masa lalu.
Tahun demi tahun, hasil produksi gula yang semakin tinggi membutuhkan armada pengiriman yang mumpuni. Sementara kebutuhan konsumen akan gula juga sedang ramai.
“Maka diputuskan untuk membangun jalur khusus kereta api, tentu demi efisiensi. Jadi hasil gula dari Jombang, Mojokerto maupun Sidoarjo bisa terangkut ke Surabaya dengan baik,” tambah Vega.
Namun, ada krisis yang membuat beberapa pabrik gula harus tutup. Anjloknya harga gula di pasaran mau tidak mau membuat banyak pabrik gula harus gulung tikar.
“Sekira 1978, sudah tidak aktif lagi. Karena hasil gula tidak sebanyak sebelum krisis di masa lalu. Padahal ketika masa jaya, Indonesia pernah menjadi produsen gula paling tinggi nomor 2 di dunia setelah Kuba,” sambung Vega.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Hanif Nanda Zakaria
Editor: Dwi Lindawati








