Tugujatim.id – Malam terasa lebih hening. Bukan karena sepi, tapi karena hati umat Islam larut dalam doa dan harap. Malam 1 Muharram datang sebagai penanda tahun baru hijriyah, sekaligus pintu untuk memulai hidup yang lebih baik.
Bagi kalangan Nahdlatul Ulama (NU), malam ini bukan sekadar pergantian angka. Ia adalah undangan lembut untuk merenung, mengevaluasi, lalu kembali mendekat kepada Allah.
Salah satu amalan yang dianjurkan adalah shalat tasbih. Menurut KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha), shalat ini menyimpan keutamaan luar biasa, ampunan atas segala dosa.
Empat rakaat dengan wirid khusus ini dipercaya mampu membersihkan diri dari kesalahan, baik yang disadari maupun tidak.
Tak hanya itu. NU juga mendorong umat untuk menghidupkan malam ini dengan shalat malam, membaca Al-Ikhlāṣ berulang kali, dan memperbanyak doa qunut. Para ulama meyakini, malam-malam seperti ini adalah momen paling tepat untuk mencurahkan isi hati kepada Sang Pencipta.
Di tengah suasana yang tenang, banyak pula yang memilih berpuasa di hari pertama Muharram. Rasulullah SAW bahkan menyebut, “Puasa terbaik setelah Ramadan adalah puasa di bulan Allah, Muharram.” (HR Muslim).
Namun Muharram tak melulu soal ibadah pribadi. NU juga menekankan pentingnya amal sosial. Di malam seperti ini, menurut para ulama, manusia punya ruang terbaik untuk berserah, menangis, dan berbicara dari hati yang paling dalam.
Di balik semua itu, malam 1 Muharram membawa pesan sederhana: jadikan awal tahun ini sebagai titik tolak untuk lebih baik. Baik kepada diri sendiri, kepada sesama, dan tentu saja kepada Tuhan.
Malam 1 Muharram memberi ruang bagi siapa saja yang ingin mulai dari awal. Tak perlu menunggu sempurna. Cukup dengan niat yang tulus dan langkah kecil yang konsisten.
Dalam suasana ini, kita belajar bahwa taubat bukan hanya untuk yang merasa banyak dosa, tapi untuk siapa saja yang ingin hidupnya lebih jernih. Kita diajak menyadari bahwa kebaikan tak selalu harus besar—kadang cukup dengan senyum tulus, ucapan maaf, atau doa dalam diam.
Lebih jauh, Muharram mengingatkan bahwa spiritualitas bukan hanya urusan pribadi. Ia juga tentang empati, kepedulian, dan hadir untuk sesama. Inilah semangat Islam yang membumi: menyambungkan hati dengan langit, dan tangan dengan manusia lain.
Di tengah riuhnya dunia, malam 1 Muharram seperti jeda. Kita berhenti sejenak, menyapa diri, lalu kembali berjalan—kali ini dengan hati yang lebih ringan dan tujuan yang lebih jelas.
Semoga malam ini menjadi awal yang benar-benar baru. Tahun baru hijriyah tak hanya menandai waktu, tapi juga menggerakkan kita untuk hidup lebih bermakna.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: Mochamad Abdurrochim
Editor: Darmadi Sasongko








