Tugujatim.id – Pernah nggak sih kamu ngerasa deja vu? Jadi kamu ngalamin satu momen padahal itu baru kali pertama terjadi. Lagi ngobrol, tiba-tiba kamu mikir, “Eh, kok kayaknya pernah deh?” Rasanya seperti menjalani kembali momen-momen yang telah berlalu, namun kamu tidak bisa mengingat dari mana asalnya. Kok bisa ya? Yuk, intip penjelasannya.
Kamu sudah pernah kenal istilah deja vu? Ternyata de javu berasal dari bahasa Prancis yang berarti “sudah terlihat”. Namun dalam kehidupan sehari-hari, déjà vu adalah perasaan aneh ketika kita merasa pernah mengalami suatu hal, meskipun itu baru saja terjadi.
Menurut health.clevelandclinic.org, diperkirakan 97% orang pernah mengalami déjà vu setidaknya sekali dalam hidup mereka. Sering kali, itu hanyalah sensasi singkat yang membuat Anda berhenti sejenak. Lalu, semuanya kembali normal.
Baca Juga: Mitos atau Fakta, Kode Warna di Tube Pasta Gigi Ungkap Rahasia Kandungan Bahan Kimia?
Fenomena ini memang bikin bingung. Sampai saat ini, para ilmuwan masih meneliti faktor-faktor pasti yang menyebabkan fenomena déjà vu. Salah satu kesulitannya adalah karena kejadian ini muncul secara mendadak, dan bisa dirasakan oleh semua orang termasuk mereka yang tidak memiliki masalah kesehatan. Jika kamu belum mengetahuinya, mungkin kamu tidak menyadari bahwa kamu baru saja mengalami sedikit “gangguan” dalam sistem penyimpanan memori otakmu.
Beberapa dugaan terjadinya fenomena de javu yang sering dialami, yaitu:
1. Persepsi yang Terbagi
Salah satu teori tentang déjà vu menyebutkan bahwa fenomena ini terjadi karena kita melihat sesuatu dua kali tapi dengan cara yang berbeda. Contohnya begini: kamu lagi duduk di kafe, ngobrol sambil sesekali melirik ke arah dekorasi dinding. Karena kamu tidak berkonsentrasi, pikiranmu hanya dapat memproses sedikit ingatan. Namun, tanpa kamu sadari pikiranmu mulai merekam ingatan itu.
Beberapa hari kemudian, kamu lewat di tempat lain yang punya dekorasi yang serupa. Kali ini kamu melihatnya dengan lebih jelas dan penuh perhatian. Nah, otak langsung menghubungkan momen itu dengan memori yang pernah terekam sebelumnya—meski kamu nggak ingat pernah melihatnya.
2. Korslet Otak Mini
Ada teori yang menyatakan bahwa de javu muncul karena otak kita mengalami semacam “korsleting listrik” kecil. Sama seperti gangguan ringan yang kadang dialami penderita epilepsi, tapi dalam versi yang nggak berbahaya.
Contohnya, bayangkan kamu masuk ke ruangan baru, dan tiba-tiba merasa seperti pernah ke sana sebelumnya. Padahal, jelas-jelas belum pernah. Itu bisa jadi karena otak langsung menyimpan momen itu ke memori jangka panjang, seolah-olah kamu sedang mengingat masa lalu, bukan mengalami masa kini.
3. Ingatan Memori
Déjà vu bisa terjadi karena kamu melihat sesuatu yang mirip dengan pengalaman lama, tapi kamu nggak ingat pernah mengalaminya. Contohnya, lagi jalan-jalan kamu lihat gedung tua dan merasa familier. Padahal belum pernah ke sana.
Kamu mungkin pernah mengunjungi tempat yang serupa ketika masih kecil, namun tidak ingat. Intinya otak mengenali suasana yang mirip dengan memori lama yang tersimpan di alam bawah sadar hingga muncul rasa “pernah mengalami”.
Beberapa masalah kesehatan yang memicu pengalaman déjà vu, yaitu:
1. Kelelahan atau Kurang Tidur
Jika Anda tidak mendapatkan tidur yang kurang berkualitas, hal ini dapat mengganggu kemampuan otak dalam mengenali sesuatu. Hal itu juga dapat menjelaskan mengapa orang lebih sering mengalami fenomena ini di malam hari.
2. Stres dan Kecemasan
Saat stres, otak Anda dapat mengubah cara Anda memahami dan memproses informasi. Ini semacam mekanisme koping untuk menciptakan jarak antara apa yang terjadi di sekitar Anda dan bagaimana Anda mengalaminya.
3. Migrain
Orang yang rentan terhadap migrain mungkin mengalami déjà vu baik selama fase aura maupun selama episode migrain itu sendiri. Nyeri migrain dapat menyebabkan disorientasi dan mempersulit pemrosesan informasi baru dan mengingat kembali ingatan.
4. Demensia
Orang yang menderita demensia frontotemporal sering mengalami déjà vu yang persisten dan cenderung mencoba merasionalisasi ilusi tersebut. Contohnya epilepsi dan kejang.
5. Lobus Temporal
Tidak semua kejang seperti yang Anda lihat di film. Kejang yang hanya terjadi di lobus temporal dapat menghasilkan kesalahan yang menciptakan sensasi déjà vu, bukan getaran atau tanda-tanda motorik yang lain.
Dej avu ini istilah yang paling umum dipakai untuk merasakan sesuatu yang familier. Namun, ada beberapa istilah lain yang hampir menyerupai fenomena tersebut, yaitu:
- Deja entendu: pernah mendengar.
- Deja epreuve: pernah dialami.
- Deja fait: pernah selesai.
- Deja pense: pernah dipikirkan.
- Deja raconte: pernah diceritakan.
- Deja voulu: pernah menginginkan.
Meski terdengar mistis, déjà vu sebenarnya punya penjelasan logis. Beberapa teori menyebut ini sebagai hasil dari otak yang “salah kirim” sinyal memori, atau proses pengolahan informasi yang sedikit terlambat. Jadi, ini bukan sebuah tanda mistis, melainkan menunjukkan seberapa rumit dan hebatnya cara otak kita berfungsi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Diandra Talifta/Magang
Editor: Dwi Lindawati








