JEMBER, Tugujatim.id – Industri gula lokal di Jember menghadapi tantangan serius dalam penjualannya. Sekitar 10.000 ton gula hasil panen petani tebu terakumulasi di fasilitas penyimpanan PG Semboro sejak pertengahan tahun 2025 ini. Situasi ini mencerminkan dampak negatif dari penetrasi gula rafinasi impor yang mengganggu keseimbangan pasar domestik.
Diputra Risman, yang mengelola aspek keuangan dan administrasi di PG Semboro, mengungkapkan bahwa fenomena penumpukan ini bermula pada awal Juni 2025. Kondisi ini sangat kontras dengan pola normal dimana produk gula biasanya langsung habis terjual melalui mekanisme lelang yang dikoordinasikan oleh Asosiasi Petani Tebu Rakyat.
“Kondisi inventory yang stagnan ini telah berlangsung sejak Juni hingga sekarang. Bukan berarti produk mengalami kerusakan, namun belum ada pembeli yang berminat,” jelasnya saat dikonfirmasi pada Kamis (28/8/2025).
Meskipun produk tersimpan dalam kondisi layak, Risman memberikan peringatan mengenai keterbatasan kapasitas penyimpanan. Fasilitas gudang diprediksi mampu menampung stok hingga dua bulan ke depan, namun aktivitas penggilingan yang berlanjut sampai November akan terus menambah volume produksi.
Risman menekankan bahwa masalah utama bukan terletak pada mutu produk gula petani yang sebenarnya telah memenuhi standar kualitas. Hambatan terbesar muncul dalam proses pelelangan dimana para pedagang menunjukkan keengganan untuk membeli sesuai Harga Acuan Pemerintah sebesar Rp14.500 per kilogram, dengan hanya menawarkan harga di bawah ketentuan tersebut.
“Petani menolak penawaran di bawah harga acuan, sehingga terjadi kebuntuan. Situasi ini bukan disebabkan kualitas produk yang buruk, melainkan karena pasar dibanjiri gula rafinasi,” ungkap Risman.
Dalam situasi normal, ketika mekanisme lelang mengalami kemacetan, pemerintah biasanya mengintervensi melalui Bulog untuk mengamankan produksi petani dengan harga yang telah ditetapkan.
Infiltrasi gula rafinasi menjadi faktor dominan yang menghambat penyerapan produk lokal. Seharusnya, gula jenis ini hanya diperuntukkan bagi keperluan industri makanan, minuman, dan farmasi. Namun pada kenyataannya, produk ini telah merambah ke segmen konsumen rumah tangga.
“Para pedagang cenderung memilih gula rafinasi karena harganya lebih ekonomis. Inilah tantangan utama yang dihadapi,” papar Risman.
Disparitas harga yang signifikan antara gula petani dan gula rafinasi telah memposisikan produk lokal dalam situasi yang tidak menguntungkan. Jika kondisi ini terus berlanjut, keberlangsungan usaha petani tebu akan terancam.
Sementara itu, Sutrisno, yang memimpin APTRI PG Semboro, menegaskan bahwa akumulasi gula petani berdampak langsung terhadap kontinuitas usaha pertanian. Setelah periode panen berakhir, petani memerlukan modal substansial untuk menggarap lahan kembali.
“Banyak petani terpaksa mencari pinjaman dari lembaga keuangan karena dana dari penjualan gula belum dapat dicairkan,” kata Sutrisno.
Berdasarkan perhitungan menggunakan HAP Rp14.500 per kilogram, total nilai ekonomi gula yang terakumulasi di gudang PG Semboro mencapai sekitar Rp145 miliar. Dana tersebut seharusnya sudah kembali kepada petani untuk membiayai kegiatan penanaman, pemanenan, dan perawatan lahan.
“Petani sangat membutuhkan injeksi modal baru. Tanpa penjualan gula yang lancar, mereka akan mengalami kesulitan untuk musim produksi berikutnya,” tambahnya.
Informasi terkini menunjukkan bahwa pemerintah telah menyiapkan program penyerapan gula petani. Melalui kerjasama PT Danantara dan BUMN sektor pangan ID Food, pemerintah merencanakan pembelian gula rakyat sebagai komponen cadangan pangan nasional.
Kesepakatan terbaru menetapkan bahwa Danantara akan mengamankan 80 persen dari stok gula petani, sementara porsi sisanya diharapkan dapat diserap oleh pedagang swasta. “Rencana pembayaran dijadwalkan mulai Rabu minggu depan. Semoga tidak ada penundaan lagi,” harap Sutrisno.
Meski demikian, implementasi pembayaran masih belum terealisasi. “Petani hanya dapat berharap pembayaran segera dilaksanakan. Meskipun produk aman tersimpan, kebutuhan biaya operasional tidak dapat ditangguhkan,” tegasnya.
Menurut Sutrisno, fenomena penumpukan gula di gudang bukanlah hal baru. Namun, intensitas masalah tahun ini jauh lebih severe. “Dulu maksimal seminggu, sekarang sudah dua bulan produk tidak dapat dipasarkan,” jelasnya.
Kondisi ini dianggap sebagai situasi genting bagi masa depan perkebunan tebu rakyat. Apabila penetrasi gula rafinasi tidak segera dikendalikan, target swasembada gula nasional akan semakin sulit dicapai.
“Jika situasi ini dibiarkan, petani dapat kehilangan kemampuan untuk melanjutkan budidaya tebu. Target swasembada gula akan semakin menjauh,” lanjut Sutrisno.
Gula rafinasi merupakan hasil pemrosesan lanjutan dari gula mentah yang umumnya berasal dari impor. Produk ini memiliki karakteristik warna putih bersih, tingkat kemurnian tinggi, namun rendah kandungan nutrisi. Mengingat sifat-sifat tersebut, gula rafinasi seharusnya hanya digunakan untuk keperluan industri makanan, minuman, dan farmasi.
Dari perspektif kesehatan, konsumsi langsung gula rafinasi kurang direkomendasikan. Sutrisno menekankan bahwa gula petani seharusnya mendapat prioritas untuk konsumsi rumah tangga.
“Penetrasi gula rafinasi yang terus berlanjut akan mempersulit pemasaran produk lokal. Padahal kualitas gula rakyat lebih superior,” pungkas Sutrisno.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: Diki Febrianto
Editor: Darmadi Sasongko








