MALANG, Tugujatim.id – Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) dari tim Universitas Negeri Malang (UM) yang diketuai Prof Dr Agung Winarno MM melanjutkan pengembangan Kampung Eduwisata Seni dan Budaya Mentaraman.
Pada kesempatan ini, para pengelola Desa Eduwisata Mentaraman mengikuti diklat lapangan di Desa Semen, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar. Kegiatan ini bertujuan memperkuat kapasitas manajerial dan pemahaman praktik dalam mengelola desa wisata berbasis community cased tourism (CBT) dengan baik.
Baca Juga: Tim Dosen UM Bangun Jejaring, Perkuat Desain Wisata Desa Sumberdem bareng SMKN 1 Wonosari
Acara tersebut dimulai pada 10.16 WIB di gedung serbaguna kantor Desa Semen. Di mana kegiatan ini dihadiri oleh Prof Dr Agung Winarno MM beserta anggotanya Dr Desti Nur Aini SS MPd, Dr Sopingi SSos MPd, tim alumni mahasiswa S-1 dan S-2, para pengelola Kampung Eduwisata Seni dan Budaya Mentaraman, perangkat Desa Semen, serta pengelola Desa Wisata Semen.
Program ini merupakan bagian dari program PkM pendanaan Direktorat dan Pengabdian Kepada Masyarakat (DPPM) 2025 tahun kedua dan sebagai wujud implementasi tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) No 17, yakni “Kemitraan untuk Mencapai Tujuan”. Tim PkM melakukan pendampingan intensif terhadap pengembangan potensi lokal di Kampung Seni dan Budaya Mentaraman. Melalui pendekatan partisipatif untuk mendorong masyarakat dalam mengembangkan sumber daya manusia dalam mengelola potensi seni, budaya, dan lingkungan sekitar.
“Saya mengajak masyarakat Pagelaran berkunjung ke sini untuk membangun semangat masyarakat dalam mengembangkan potensi yang ada. Kami di sini harus lebih banyak mengamati dan mempelajari semua hal yang ada di desa ini sebagai acuan dalam mengembangkan sistem manajerial,” ujar ketua tim PkM dalam menyampaikan tujuannya.
Dua Kunci Sukses Desa Wisata
Dalam sambutannya, Kepala Dusun Semen menyampaikan bahwa kunci kesuksesan dalam mengembangkan desa wisata adalah regenerasi dan penguatan SDM.
“Kalau kita tidak bergerak, semua tidak ada artinya. Uang bukan hal yang utama, karena kunci utama adalah manusianya,” tegasnya.
Desa Semen dikenal sebagai model desa wisata berbasis komunitas dengan destinasi populer, seperti bumi perkemahan dan outbound, kampung biru edukasi, air terjun, dan puncak sekawan. Selain wisata alam, desa ini pun aktif dalam mengembangkan seni dan budaya lokal yang mendapatkan dukungan dana desa.
Kepala Desa Pagelaran mengungkapkan kekaguman dan rasa terima kasihnya.
“Awalnya kami masuk ke Desa Semen tanpa ekspektasi apa pun, namun yang kami lihat sungguh luar biasa. Banyak pelajaran yang dapat kami ambil, terutama mengenai pentingnya semangat dari sumber daya manusianya. Kami pulang dari sini seperti dari supermarket, yakni membawa ilmu dan mimpi yang harus diwujudkan. Tidak lupa kami ucapkan terima kasih karena sudah menerima kami untuk belajar di sini,” tutur peserta diklat.

Kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian materi dari Eko Wihadi yang menjelaskan prinsip CBT sesuai standar ASEAN. Adapun beberapa poin penting yang disampaikan, pentingnya visi dan misi yang sama, human resources yang adaptif, hospitality yang ramah dan terbuka terhadap kritik, serta mentalitas manajerial yang terus berkembang.
Selain itu, Desa Wisata Pagelaran pun dimotivasi untuk membangun bank sampah sebagai infrastruktur yang dapat membangun perekonomian dan kelestarian lingkungan.
Seluruh peserta diklat sangat antusias, hal ini terbukti dalam sesi tanya jawab peserta aktif bertanya. Pertanyaan yang disampaikan oleh peserta meliputi isu regenerasi dan strategi mempertahankan semangat budaya agar tidak tergerus oleh zaman.
Sebagai penutup, peserta mengunjungi Kampung Budaya untuk melihat secara langsung praktik pelestarian budaya dan pengelolaan wisata berbasis komunitas. Kegiatan ini mempertegas bahwa diklat ini tidak hanya sekadar belajar teori, tetapi melibatkan masyarakat secara langsung dalam membangun semangat. (adv)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Maret Tika Wulandari (Mahasiswa UM)
Editor: Dwi Lindawati








