PROBOLINGGO, Tugujatim.id — Tim peneliti yang diketuai Wakil Rektor III Universitas Negeri Malang (UM) Prof Dr Ahmad Munjin Nasih MAg menyelenggarakan focus group discussion (FGD) di Ayo Renne Café & Resto Probolinggo. Kegiatan peneliti UM ini digelar pada Selasa (16/09/2025).
Acara peneliti UM bertajuk “Model Islam Transformatif Berbasis Inklusi Sosial dalam Pencegahan Kekerasan Seksual di Pesantren Berbentuk Satuan Tugas”. Kegiatan ini terlaksana berkat dukungan pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
FGD peneliti UM ini menghadirkan peserta dari unsur Pemerintah Kabupaten Probolinggo yang terdiri dari dinas sosial dan dinas pemberdayaan perempuan, perlindungan anak, pengendalian penduduk, dan keluarga berencana (DP3AP2KB).
Selain itu, hadir pula kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo beserta jajaran pimpinan yang membidangi pendidikan diniyah dan pondok pesantren serta perwakilan dari Unit PPA Polres Kabupaten Probolinggo, organisasi keagamaan, akademisi, dan para pengasuh pondok pesantren di Kabupaten Probolinggo.
Peserta FGD Beri Masukan Draft Buku Saku di Pesantren
Diskusi ini fokus pada upaya penguatan konsep Islam transformatif berbasis inklusi sosial sebagai landasan pembentukan satuan tugas (satgas) pencegahan kekerasan seksual di pesantren. Para peserta memberikan berbagai masukan konstruktif terhadap draft buku saku yang tengah disusun tim peneliti.
Buku saku ini dirancang sebagai panduan praktis bagi kiai, gus, ning, dan para santri dalam menciptakan lingkungan pesantren yang aman, inklusif, dan bebas dari kekerasan seksual.
Wakil Rektor III Universitas Negeri Malang (UM) Prof Dr Ahmad Munjin Nasih MAg mengatakan, pesantren memiliki posisi strategis sebagai lembaga pendidikan dan pembinaan karakter.
“Dengan model Islam transformatif yang menekankan nilai inklusi sosial, kami berharap tercipta budaya pesantren yang lebih terbuka, partisipatif, dan berdaya dalam melindungi seluruh warga pesantren,” ujarnya.

Maraknya kasus kekerasan seksual di lingkungan pesantren menjadi ironi yang mencederai nilai-nilai luhur pendidikan Islam yang sejatinya menjunjung tinggi akhlak, martabat manusia, serta prinsip rahmatan lil alamin.
Dia mengatakan, pesantren yang selama ini dikenal sebagai pusat pembinaan moral, spiritual, dan intelektual generasi muda, justru mendapat sorotan ketika sebagian kecil oknum mencoreng nama baik lembaga dengan praktik yang tidak manusiawi. Fenomena ini bukan hanya merusak citra pesantren di mata masyarakat, tetapi juga mengkhianati amanah pendidikan yang bertujuan membentuk pribadi beriman, berilmu, dan berakhlak mulia.
Melalui kegiatan ini, dia berharap terbangun sinergi antara pemerintah daerah, aparat penegak hukum, tokoh agama, akademisi, dan pesantren untuk melahirkan model pencegahan yang komprehensif, edukatif, serta berakar pada nilai-nilai keislaman. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Editor: Dwi Lindawati








