• Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Gen Z

Ilustrasi Gen Z. Sumber foto: Pinterest

Gen Z Generasi Polyworker: Ketika Satu Gaji Tak Lagi Cukup

Darmadi Sasongko by Darmadi Sasongko
10 months ago
in Bisnis
0
Share on FacebookShare on Twitter

Tugujatim.id — Di tengah lanskap ekonomi global yang penuh ketidakpastian, Generasi Zilenial (Gen Z) tidak hanya beradaptasi, mereka menciptakan norma baru. Jauh dari sekadar tren, fenomena polyworking—memiliki beberapa pekerjaan tetap secara bersamaan—adalah respons strategis dan terkadang terpaksa dari kaum muda yang baru memasuki dunia kerja.

Mereka menavigasi pasar yang labil dan biaya hidup yang terus melonjak dengan cara yang belum pernah dilakukan generasi sebelumnya.

You might also like

GBC ke-74

GBC ke-74 Coach Fahmi Dimulai di Malang, 80 Pengusaha dari Berbagai Daerah Ikuti Pelatihan Bisnis

14/07/2026 1:52 PM
Gading Gajah

Polda Jatim Bongkar Penyelundupan Gading Gajah, Kupu-Kupu Langka dan Benih Lobster ke Luar Negeri

30/06/2026 12:15 PM

Data Global yang Mengonfirmasi Realitas

Anggapan bahwa sulit mencari pekerjaan hanya terjadi di Indonesia adalah sebuah kekeliruan. Data dari berbagai lembaga riset internasional menunjukkan bahwa ini adalah masalah global, dan Gen Z berada di garis depan. Jajak pendapat dari Capital One di Kanada mengungkapkan 36% Gen Z sudah memiliki pekerjaan sampingan, sebuah angka yang mencerminkan realitas finansial yang menekan. Lebih mencengangkan lagi, 45% dari mereka sedang mempertimbangkan untuk menambah pekerjaan demi bertahan hidup.

Faktanya, dorongan utama di balik fenomena ini bukanlah ambisi semata, melainkan kebutuhan mendesak. Lebih dari 70% respondenCapital One mengaku bahwa mereka bekerja ekstra untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ini adalah pergeseran drastis dari narasi karier konvensional yang berfokus pada passion; kini, energi dan sumber daya Gen Z lebih banyak terkuras untuk urusan perut dan cicilan.

Gen Z
Di tengah lanskap ekonomi global yang penuh ketidakpastian, Generasi Zilenial (Gen Z) tidak hanya beradaptasi, mereka menciptakan norma baru. Ilustrasi Gen Z. Sumber foto: Pinterest

Studi dari Academized pada 2025 memberikan gambaran yang lebih luas, melaporkan bahwa 52% milenial memiliki lebih dari satu pekerjaan. Angka ini bahkan lebih tinggi di kalangan Gen Z, dengan jajak pendapat Paychex di tahun 2023 menunjukkan hampir setengah dari mereka—tepatnya 47%—memiliki tiga atau lebih pekerjaan. Data ini bukan sekadar statistik, melainkan bukti nyata dari pergeseran fundamental dalam cara Gen Z memandang pekerjaan dan stabilitas finansial.

Kisah-Kisah di Balik Angka

Di balik setiap persentase, ada cerita personal yang menggambarkan perjuangan. Ambil contoh Gianluca Russo, seorang polyworker dari Arizona, AS. Ia tidak hanya bekerja di tim komunikasi LinkedIn, tetapi juga melakoni peran ganda sebagai pelatih sepeda, koreografer tari, penulis lepas, dan pengarang. Baginya, memiliki banyak profesi adalah hal biasa, sebuah tontonan yang telah ia saksikan di media sosial sejak remaja. “Kebebasan finansial yang saya peroleh berkat berbagai pekerjaan sungguh memberikan dampak luar biasa bagi hidup saya,” katanya

Cerita serupa datang dari Singapura, di mana Germaine (25) bekerja di dua perusahaan layanan pelanggan penuh waktu secara daring. Motivasi utamanya adalah membiayai kuliah tanpa harus terjerat utang. “Bekerja di dua tempat membantu saya melakukannya dan di masa mendatang, dengan gelar saya, saya bisa mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang lebih baik,” katanya kepada The Strait Times.

Menganalisis Akar Permasalahan

Fenomena polyworking tidak muncul dalam sekejap. Pandemi COVID-19 mempercepat perubahan lanskap dunia kerja. Gen Z, yang baru memasuki pasar kerja selama atau setelah pandemi, menjadi kelompok yang paling terdampak. Mereka menyaksikan langsung ketidakstabilan pasar dan ekonomi yang tidak menentu.

Menurut konsultan karier Lynn Berger, saat ini tidak ada lagi jaminan kerja. Perusahaan besar maupun kecil pun cenderung menghemat biaya dengan mengurangi tawaran pekerjaan penuh waktu. Fenomena ini diperparah dengan meningkatnya biaya hidup dan inflasi global. Ini adalah badai sempurna yang memaksa Gen Z untuk mencari sumber pendapatan ganda demi keamanan finansial.

Namun, tidak semua motivasi bersifat defensif. Sebagian Gen Z melihat polyworking sebagai kesempatan untuk pertumbuhan pribadi. Ini memungkinkan mereka mengembangkan keterampilan, memperluas jaringan, dan merasakan otonomi yang lebih besar atas karier mereka. Ini adalah bentuk pemberontakan yang cerdas; daripada menuntut sistem, mereka menciptakan sistem mereka sendiri.

Sisi Gelap yang Tidak Terlihat

Namun, ada konsekuensi serius yang menyertai gaya hidup polyworking. Studi Academized menemukan bahwa 26% responden melaporkan dampak negatif pada hubungan pribadi mereka. Waktu untuk hobi, keluarga, dan teman-teman pun berkurang drastis.

Lebih dari itu, risiko burnout atau kelelahan mental dan fisik sangat tinggi. Psikiater Dave Rabin memperingatkan bahwa burnout dapat membuat seseorang tidak bisa bekerja sama sekali. Dampak non-finansial seperti stres, perceraian, dan masalah kesehatan mental adalah konsekuensi nyata yang sering tidak diperhitungkan. Bagi sebagian Gen Z, meskipun hasilnya sepadan, harganya bisa sangat mahal.

Kesimpulan: Kalibrasi Ulang Definisi Sukses

Polyworking adalah lebih dari sekadar strategi bertahan hidup. Ini adalah cerminan dari kecerdasan dan ketangguhan Generasi Z dalam menghadapi realitas ekonomi yang brutal. Mereka sedang menulis ulang definisi karier, di mana kesuksesan tidak lagi diukur dari satu pekerjaan tetap, melainkan dari kemampuan untuk beradaptasi, berkembang, dan bertahan di tengah badai. Fenomena ini jelas: satu pekerjaan saja tidak cukup untuk menjamin masa depan di era modern.

 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id

 

Penulis: Safiruddin Jailani/ Magang

Editor: Darmadi Sasongko

Tags: Gen ZLeadership ManagementMagang Universitas Abdul Chalim Mojokerto
Darmadi Sasongko

Darmadi Sasongko

Related Stories

GBC ke-74

GBC ke-74 Coach Fahmi Dimulai di Malang, 80 Pengusaha dari Berbagai Daerah Ikuti Pelatihan Bisnis

by Mochamad Abdurrochim
14/07/2026 1:52 PM
0

MALANG, Tugujatim.id – Grounded Business Coaching (GBC) angkatan ke-74 resmi dimulai di Kota Malang, Selasa (14/07/2026). Pelatihan bisnis yang dikenal...

Gading Gajah

Polda Jatim Bongkar Penyelundupan Gading Gajah, Kupu-Kupu Langka dan Benih Lobster ke Luar Negeri

by Mochamad Abdurrochim
30/06/2026 12:15 PM
0

SURABAYA, Tugujatim.id - Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Timur mengungkap tiga kasus penyelundupan dan perdagangan ilegal sumber daya alam yang melibatkan...

Bawang Merah

Probolinggo Gandeng Kota Malang Pasok Bawang Merah, Sekaligus Perluas Pasar UMKM

by Mochamad Abdurrochim
05/06/2026 8:55 AM
0

PROBOLINGGO, Tugujatim.id – Kabupaten Probolinggo terus memperluas jaringan pemasaran komoditas unggulan daerah. Terbaru, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo menjalin kerja sama...

Marketing FYP TikTok

Strategi Marketing FYP TikTok 2026, Cara Brand Menarik Perhatian Konsumen dalam Hitungan Detik

by Mochamad Abdurrochim
04/06/2026 9:30 PM
0

Tugujatim.id – Di tengah derasnya arus konten yang muncul setiap hari di TikTok, perhatian pengguna menjadi sesuatu yang sangat berharga....

Next Post
Huawei Swatch Ultimate 2

Huawei Watch Ultimate 2: Revolusi Smartwatch Premium dengan Teknologi Underwater Communication

Merawat Jawa Timur

  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Info Kerjasama
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Hubungi Kami

© 2025 Tugu Jatim ID

No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial

© 2025 Tugu Jatim ID