SIDOARJO, Tugujatim.id – Tragedi memilukan terjadi di Ponpes Al Khoziny Sidoarjo. Bangunan utama pesantren berusia hampir satu abad itu ambruk saat para santri sedang melaksanakan salat Ashar berjamaah, Senin (29/9/2025) lalu.
Peristiwa yang diperkirakan terjadi pukul 15.00 WIB ini menelan lebih dari 100 orang, selain korban luka, tiga di antaranya meninggal dunia. Ambruknya bangunan tua ini tidak hanya meninggalkan kesedihan, tetapi juga mengingatkan publik akan jejak panjang Pondok Pesantren Al Khoziny.
Pondok Pesantren Al Khoziny yang terletak di Jalan KHR Moh Abbas I/18, Desa Buduran, Kecamatan Buduran ini merupakan salah satu pesantren tertua di Sidoarjo, bahkan menjadi pelopor pendidikan Islam modern di kawasan Buduran.
Berdiri Sejak 1927, Respon atas Kebutuhan Dakwah Islam
Dilansir dari jurnal Peranan Kh Abdul Mujib Abbas dalam Mengembangkan Pondok Pesantren Al Khoziny Buduran Sidoarjo 1964-2010, Ponpes Al Khoziny berdiri pada 1927 atas prakarsa KH. Khozin Khoiruddin, seorang ulama besar yang juga menantu KH. Ya’qub, pengasuh Pondok Pesantren Siwalanpanji.
Namun, menurut pengasuh generasi ketiga, KHR Abdus Salam Mujib, dalam acara Haul Masyayikh ke-80 dalam Nucare-Lazisnu, menyebut bahwa pondok ini sudah ada sejak sekitar 1920, atau bahkan lebih awal (rentang 1915–1920).
Pesantren Siwalanpanji kala itu dikenal sebagai pesantren tertua di Sidoarjo dengan pengaruh besar, dan KH. Khozin sendiri merupakan pengasuh pada periode ketiga.
Awalnya, KH. Khozin tidak berniat mendirikan pesantren baru. Ia hanya ingin menyediakan tempat tinggal untuk putranya, KH. Moh Abbas, yang baru kembali dari menuntut ilmu di Makkah selama hampir sepuluh tahun.
Namun, sambutan hangat masyarakat Buduran yang kala itu minim sentuhan ajaran Islam mendorong lahirnya sebuah pondok baru yang diberi nama Roudlatul Mustarsyidin.
Kala itu, bangunan awal pesantren masih sederhana, terbuat dari bambu, dan terletak di sebelah utara kediaman KH. Moh Abbas.
Pendirian pondok ditandai dengan adanya monumen istiwa’, alat tradisional berbasis sinar matahari untuk menentukan waktu salat. Sejak saat itu, Al Khoziny menjadi pusat dakwah Islam baru di Buduran.
Tokoh Besar yang Pernah Mondok
Sebelum berdirinya Al Khoziny, KH. Khozin Khoiruddin sudah dikenal luas di kalangan ulama Nusantara. Ia merupakan ahli tafsir terkemuka yang rutin menggelar khataman Tafsir Jalalain setiap Ramadan. Banyak tokoh besar yang pernah menimba ilmu di bawah bimbingannya di Pesantren Siwalanpanji, di antaranya:
• KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU).
• KH. Wahab Hasbullah, ulama besar NU asal Tambakberas, Jombang.
• KH. As’ad Syamsul Arifin, ulama karismatik dari Situbondo.
• KH. Nawawi, pendiri Pesantren Ma’had Arriyadl, Pare, Kediri.
• KH. Dimyati, ulama besar dari Banten.
Selain mereka, sejumlah ulama dari Madura, Bangkalan, hingga Jember juga tercatat pernah berguru kepada KH. Khozin. Hal ini menegaskan betapa kuatnya pengaruh KH. Khozin sebagai ulama intelektual di masanya.
Era KH Moh Abbas: Menjaga Tradisi Kitab Kuning
Pada periode awal (1927–1964), kepemimpinan pesantren berada di tangan KH. Moh Abbas. Saat itu, jumlah santri hanya sekitar 25 orang. Pengajian kitab kuning menjadi inti pendidikan, dengan metode tradisional seperti sorogan, bandongan, dan wetonan.
Meski hidup sederhana, KH. Moh Abbas dikenal sebagai sosok alim dan tawadhu’. Sebelum wafat pada 1979, ia meninggalkan pesan penting kepada santrinya: menjaga salat berjamaah, istiqamah salat witir setelah Isya, dan mengajarkan ilmu kepada masyarakat. Pesan ini hingga kini masih menjadi pegangan moral bagi para alumni.
Era Keemasan KH. Abdul Mujib Abbas
Estafet kepemimpinan kemudian dilanjutkan oleh putranya, KH. Abdul Mujib Abbas, yang telah menimba ilmu di beberapa pesantren besar seperti Darul Ulum Jombang, Mambaul Ulum Bata-bata Pamekasan, dan MUS Sarang Jawa Tengah.
Pada masa KH. Abdul Mujib, pesantren memasuki era keemasan (1964–2010). Di bawah kepemimpinannya, pesantren berganti nama menjadi Pondok Pesantren Al Khoziny, menisbatkan kepada nama kakeknya, KH. Khozin Khoiruddin.
Secara garis besar, beberapa tonggak sejarah perkembangan pesantren ini antara lain:
- 1964: Didirikan Sekolah Menengah Pertama Islam (SMPI) yang kemudian menjadi Madrasah Tsanawiyah Al Khoziny.
- 1970-an: Didirikan Madrasah Aliyah Al Khoziny dan jenjang sekolah persiapan lainnya.
- 1982: Pendirian Sekolah Tinggi Diniyah.
- 1993: Sekolah Tinggi Diniyah diformalisasi menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) dan Sekolah Tinggi Ilmu al-Qur’an (STIQ). Kini lembaga tersebut telah berubah menjadi Institut Agama Islam (IAI) Al Khoziny.
- Perubahan paling signifikan adalah masuknya sistem pendidikan formal. KH. Abdul Mujib mendirikan lembaga pendidikan mulai dari Madrasah Ibtidaiyah hingga Perguruan Tinggi, IAI Al Khoziny.
Langkah ini menjadikan Al Khoziny sebagai pondok pertama di Buduran Sidoarjo yang mengintegrasikan pendidikan formal dalam sistem pesantren.
Meski begitu, tradisi kitab kuning tetap dijaga ketat. KH. Abdul Mujib berhasil membuktikan bahwa pesantren bisa berkembang tanpa kehilangan akar tradisi keilmuan Islam.
Simbol Perpaduan Tradisi dan Modernisasi
Kini, hampir satu abad sejak berdirinya, Pondok Pesantren Al Khoziny telah mencetak ribuan alumni yang tersebar di berbagai daerah. Jejaknya sebagai pelopor modernisasi pendidikan Islam di Buduran membuat pesantren ini menjadi rujukan banyak kalangan.
Jejak sejarah Pondok Pesantren Al Khoziny menunjukkan betapa kuatnya peran pesantren dalam membentuk wajah peradaban Islam di Indonesia. Dari sebuah bangunan bambu dengan 25 santri, kini ia berdiri sebagai lembaga besar dengan jenjang pendidikan lengkap hingga perguruan tinggi.
Meski kini salah satu bangunannya ambruk, nilai dan warisan keilmuan pesantren ini tetap abadi. Al Khoziny bukan hanya milik masyarakat Buduran, tetapi juga bagian penting dari sejarah pesantren di Jawa Timur.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: Feni Yusnia
Editor: Darmadi Sasongko








