JEMBER, Tugujatim.id – Di tengah teriknya matahari di Desa Puger Wetan, Kecamatan Puger, Kabupaten Jember, Jatim, Satira, seorang perempuan berusia 63 tahun, ini masih setia menggeluti pekerjaan yang telah ditekuninya selama lebih dari 40 tahun. Satira, demikian namanya, adalah salah satu pengusaha ikan asin Puger yang menjadi penopang ekonomi keluarganya sejak masih muda.
Dengan kulit yang kecokelatan akibat paparan matahari bertahun-tahun, Satira menuturkan perjalanan panjangnya di industri pengasinan ikan yang penuh dengan dinamika. Dari tangannya, ikan-ikan segar seperti benggol, lenguru, dan siyak-siyak bertransformasi menjadi ikan asin Puger berkualitas yang diminati pasar.
Satira menjelaskan bahwa proses pembuatan ikan asin Puger tidaklah sesederhana yang dibayangkan.
Baca Juga: Musim Kemarau, Produsen Ikan Asin di Tuban Dapat Berkah Panen Cuan
“Setelah ikan dibeli, kami langsung melakukan pengasinan selama tiga jam. Tidak boleh ditunda karena akan memengaruhi kualitas,” ujarnya sambil membalik-balik ikan yang sedang dijemur di halaman rumahnya pada Kamis (16/10/2025).
Tahap berikutnya adalah penjemuran di bawah sinar matahari. Proses ini membutuhkan kesabaran dan ketelitian ekstra. Selama penjemuran, kondisi ikan harus selalu dipantau untuk menentukan tingkat kekeringan yang tepat.
“Ikan harus dibalik agar seluruh bagiannya kering sempurna. Kalau cuaca panas sekali, pengeringan bisa selesai dalam satu hari saja. Tapi ya tergantung cuaca juga,” jelasnya.

Cuaca memang menjadi faktor penentu dalam usaha yang digelutinya. Musim hujan kerap menjadi tantangan tersendiri karena memperlambat proses pengeringan. Menariknya, Satira yang sudah berusia 63 tahun ini tidak gagap teknologi. Dia mengaku telah mengadaptasi cara pemasaran yang lebih modern.
“Dulu ada tengkulak yang biasa mengambil ikan asin di sini. Tapi sekarang sistemnya kami unggah di media sosial dan ada orang yang nanti mengambil dan menjualnya lagi,” tuturnya.
Transformasi digital ini membuka peluang pasar yang lebih luas. Dalam sekali produksi, Satira mampu menghasilkan hingga dua kuintal ikan asin. Produknya tidak hanya laku di Puger, tetapi juga merambah ke daerah sekitar seperti Kencong, Jombang, dan Jember Kota.
Seperti komoditas pertanian lainnya, harga ikan asin sangat dipengaruhi oleh ketersediaan bahan baku. Satira mengingat masa-masa sulit ketika harga ikan segar mencapai Rp100.000 lebih per keranjang dengan berat sekitar 2,5 kilogram.
“Itu biasanya karena ketersediaan ikan yang terbatas dari nelayan, bisa jadi karena cuaca ekstrem sehingga nelayan tidak melaut,” kenangnya.
Saat harga ikan melonjak tinggi, dia terpaksa menjual ikan asin Puger hasil produksinya di kisaran Rp60.000 per kilogram untuk tetap mendapat keuntungan. Namun ketika musim ikan tiba, harganya bisa anjlok drastis menjadi Rp10.000 hingga Rp16.000 per keranjang.
“Kalau musimnya, harga jual per kilo bisa Rp15.000 sampai Rp16.000. Sekarang sih di kisaran Rp60.000,” ungkapnya.
Selain modal pembelian ikan, Satira juga harus memperhitungkan biaya pembelian garam sebagai bahan pengasin utama. Untuk mendapatkan ikan segar berkualitas, dia tidak segan mendatangkan pasokan dari luar kota seperti Banyuwangi, Madura, dan Probolinggo.
4 Dekade Jaga Tradisi Pengasinan Ikan Turun-Temurun
Empat dekade bukanlah waktu yang singkat. Namun, Satira tetap bertahan dengan usahanya meski persaingan semakin ketat dan tantangan semakin kompleks. Ketekunannya bukan hanya soal mencari nafkah, tetapi juga menjaga tradisi pengasinan ikan yang telah diwariskan turun-temurun.
Di tengah gempuran produk impor dan perubahan gaya hidup masyarakat, keberadaan perajin ikan asin Puger seperti Satira menjadi pengingat akan pentingnya melestarikan industri lokal. Tangannya yang terampil dan pengalamannya yang kaya menjadi aset berharga yang patut diapresiasi.
Hingga kini, Satira masih bisa ditemui di tempat usahanya di Kecamatan Puger, sibuk mengolah ikan-ikan segar menjadi ikan asin yang siap dipasarkan. Matahari tetap menjadi sahabat terbaiknya dalam mengawetkan hasil laut menjadi sumber penghidupan yang berkelanjutan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Diki Febrianto
Editor: Dwi Lindawati








