SITUBONDO, Tugujatim.id – Gelaran akbar memperingati Hari Santri Nasional menghadirkan momen istimewa di pusat Kabupaten Situbondo. Hidangan khas Nasi Tabheg menjadi sajian utama dalam perayaan tahun ini.
Ribuan pelajar pesantren berkumpul di Alun-Alun untuk upacara bersama yang diprakarsai Pemkab Situbondo.
Menurut penjelasan Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo yang biasa dipanggil Mas Rio makanan tersebut merupakan warisan kuliner komunitas pesantren.
Nasi dibungkus menggunakan daun pisang, kemudian digulung dan dikukus supaya awet. Pendamping lauk biasanya berupa telur dadar, tempe goreng kering, ikan asin, serta sambal.
“Dahulu kala, santri yang bepergian jauh menuju tempat belajar mereka membawa Nasi Tabheg sebagai perbekalan,” ungkap Mas Rio pada Rabu (22/10/2025).

Ia menekankan bahwa kegiatan santap bersama ini memiliki dimensi lebih dalam. Bukan sekadar soal santapan, tetapi mengenai spirit kebersamaan, hidup sederhana, dan rasa bersyukur yang warga Situbondo dan generasi santri.
Lebih lanjut ia menjelaskan filosofi di balik tradisi tersebut yang sarat dengan nilai kemandirian dan ketulusan hati. “Para santri dididik untuk menjalani kehidupan yang tidak berlebihan namun bermakna. Melalui Nasi Tabheg, kita memahami bahwa kebahagiaan hakiki bukan berasal dari hal-hal mewah, melainkan dari kebersamaan dan sikap syukur,” jelas Mas Rio.
Peserta yang hadir dalam jumlah masif tampak menikmati suasana kekeluargaan yang hangat. Tak hanya pelajar dari lembaga pendidikan Islam terkemuka seperti Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo dan Walisongo, namun juga siswa sekolah umum, pegawai negeri sipil, dan warga biasa turut merasakan hidangan tradisional ini. Momen ini membuktikan bahwa ajaran pesantren telah mengakar dalam budaya masyarakat lokal.

Program peringatan juga diperkaya dengan lantunan shalawat dan doa bersama demi keselamatan negara. Jalan yang diberi nama sesuai ulama besar KHR As’ad Syamsul Arifin, pendiri Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah menjadi lokasi bersejarah yang menyaksikan semangat solidaritas dan persaudaraan masyarakat.
“Perayaan Hari Santri bukan ritual kosong, namun kesempatan emas untuk memperkokoh nilai keislaman, jiwa nasionalisme, dan kecintaan kepada negeri. Santri Situbondo wajib menjadi teladan santri kontemporer yang tidak meninggalkan akar tradisinya,” tegas Mas Rio.
Tradisi makan Nasi Tabheg secara massal ini merupakan bagian dari serangkaian agenda memperingati Hari Santri Nasional 2025 di Situbondo. Lewat program ini, pemerintah setempat bermaksud mempererat ikatan harmonis antara birokrasi, institusi pesantren, dan masyarakat luas.
“Visi kami adalah menjadikan Situbondo sebagai daerah santri yang religius, kompetitif, dan berakhlak mulia. Tradisi semacam ini harus dilestarikan karena ini adalah jati diri kita,” tandasnya.
Dengan mengusung tema “Jihad Santri Jayakan Negeri”, peringatan tahun ini bukan semata mengenang sejarah, tetapi juga memantapkan komitmen untuk menjaga warisan nilai keikhlasan, kesederhanaan, dan kebersamaan dari para kiai dan santri generasi terdahulu.
Wakil Bupati Ulfiyah atau yang akrab disapa Mbak Ulfi berperan sebagai inspektur upacara. Dalam sambutannya, ia menyampaikan penghargaan tinggi terhadap kontribusi santri dalam memelihara persatuan bangsa dan menegakkan ajaran Islam yang penuh kasih sayang bagi semesta.
Ia menegaskan bahwa santri bukan hanya penjaga moralitas negara, tetapi juga garda depan dalam memperkuat ketahanan nasional melalui bidang pendidikan, dakwah, dan pengabdian sosial.
“Santri telah membuktikan peran vitalnya dalam perjuangan merebut kemerdekaan dan membangun bangsa. Tantangan kita sekarang adalah bagaimana menjadikan santri sebagai pionir kemajuan sambil tetap berpegang pada prinsip keislaman dan kebangsaan,” kata Mbak Ulfi di hadapan massa peserta upacara.
Menurutnya, semangat santri harus terus berkobar di tengah dinamika zaman yang semakin rumit. Santri generasi sekarang dituntut mampu beradaptasi dengan perubahan, menguasai teknologi, dan memiliki jiwa mandiri.
“Tetapi yang terpenting, jangan sampai meninggalkan akhlak dan sopan santun, karena itulah identitas sejati seorang santri,” tegasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: Diki Febrianto
Editor: Darmadi Sasongko








