TUBAN, Tugujatim.id – Di antara rindangnya pepohonan Blimbing madu di Palang, Kabupaten Tuban, Kuslan (41) tampak sumringah. Musim panen kembali datang, membawa harapan manis meski jumlah buah kali ini tak begitu melimpah. Namun baginya, stabilnya harga jual adalah berkah yang tak bisa diabaikan.
“Alhamdulillah panen kali ini tetap memuaskan. Meski buahnya tidak terlalu banyak, tapi harga masih stabil,” kata Kuslan saat ditemui di kebunnya, Desa Tasikmadu, Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban.
Produksi blimbing sangat ditentukan oleh kondisi cuaca. Pada musim kemarau seperti beberapa bulan terakhir, tiap pohon hanya mampu menghasilkan rata-rata 4 kilogram buah. Namun menjelang musim hujan, jumlahnya bisa meningkat dua kali lipat hingga mencapai 10 kilogram per pohon. Kebun Kuslan sendiri memiliki sekitar 120 pohon blimbing madu
“Kalau sudah mulai musim hujan, pengairan lebih dari cukup. Biaya perawatan juga lebih ringan dibanding kemarau,” jelasnya.
Blimbing madu sendiri bukan buah musiman. Dalam satu tahun, Kuslan mengaku bisa panen hingga empat kali. Proses dari pembungkusan hingga masa panen membutuhkan waktu sekitar 45 hari. Bahkan saat curah hujan bagus, buah lebih cepat matang.
“Mulai usia dua tahun pohon sudah bisa menghasilkan,” tambahnya.

Namun musim hujan juga punya tantangan sendiri. Bungkus buah yang terbuat dari kertas yang dibalut plastik lebih cepat rusak karena sering terkena air. Jika saat kemarau bisa dipakai hingga empat kali, di musim hujan sering kali hanya bisa sekali pakai.
Kuslan memasarkan buah panennya melalui Pasar Agro Babat di Kabupaten Lamongan, pengepul luar kota, hingga ke wilayah Semarang. Harga jual blimbing madu bervariasi tergantung kualitas atau grade.
BACA JUGA: Glamour Pool Tuban Fasilitas Biliar Wadah Pembinaan Atlet dan Jaga Kebugaran
Untuk grade A dengan isi empat buah per kilogram, harga bisa mencapai Rp12 ribu per kilogram. Sementara grade di bawahnya seperti B, C, D, hingga E dan GR turun seribu rupiah tiap tingkatannya.
Selain jumlah panen, kualitas buah juga dipengaruhi cuaca. Pada musim kemarau, warna buah lebih cerah, kulitnya mengilap, dan rasanya manis legit. Namun saat terlalu sering terguyur hujan, tampilan buah cenderung lebih gelap dan kadar manisnya sedikit berkurang.
“Kalau bunga terlalu sering kena hujan, banyak yang rontok. Jadi hasilnya bisa berkurang,” ungkap Kuslan.

Meski tantangan tetap ada, Kuslan berharap musim hujan nanti membawa keberkahan lebih besar. Produksi meningkat, biaya membungkus buah bisa ditekan, dan harga tetap bersahabat.
“Selama harga tidak anjlok dan buah tetap diserap pasar, petani seperti kami masih bisa tersenyum,” ucapnya.
Menariknya, banyak pembeli yang sengaja datang langsung ke kebun. Seperti yang dilakukan Nur Kholis, warga Kecamatan Widang, Tuban. Ia datang membeli blimbing madu sebanyak 15 kilogram.
“Rasanya manis dan segar. Enaknya beli langsung di kebun, buahnya masih fresh, bisa pilih sendiri, dan bonusnya dapat suasana yang adem,” ujarnya sambil tertawa kecil.
Buah yang dibeli Nur Kholis sebagian untuk konsumsi keluarga, sebagian lagi adalah titipan dari sanak kerabatnya yang memang sangat suka rasa manis buah blimbing madu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: Mochamad Abdurrochim
Editor: Darmadi Sasongko








