JEMBER, Tugujatim.id – Produksi kopi di Kabupaten Jember, Jatim, terus menunjukkan peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Tercatat, pada 2022 sebanyak 4.193,53 ton kopi Jember dihasilkan. Jumlah tersebut mengalami kenaikan meski tidak signifikan pada 2023 menjadi 4.477,11 ton.
Kenaikan produksi kopi Jember mengalami peningkatan yang cukup signifikan pada 2024 dengan jumlah mencapai 11.700 ton.
Ketua Fraksi Gerindra DPRD Jember Hanan Kukuh Ratmono yang konsen terhadap petani kopi di Kabupaten Jember, memprediksi pada 2025 produksi mencapai sekitar 15.000 ton.
Baca Juga: Festival Kopi dan Tembakau Nusantara 2025 Digelar di Jember
Kendati mengalami kenaikan dalam produksi, Hanan menyoroti rantai distribusi panjang yang harus dilalui kopi Jember. Hal tersebut menyebabkan anjloknya harga yang dirasakan langsung oleh petani kopi.
Selain itu, branding kopi Jember yang masih dinilai lemah menyebabkan daya saing kopi tidak kompetitif di pasaran. Karena itu, anggota DPRD Jember dari Fraksi Gerindra itu mendesak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember untuk segera melakukan branding kopi lokal.
Menurut dia, branding sangat penting untuk meningkatkan daya saing kopi Jember di pasar nasional maupun internasional.
“Branding kopi perlu dilakukan pemerintah (Pemkab Jember). Kami lihat kabupaten tetangga sudah melakukan branding sejak 5-10 tahun lalu. Jember harus membuat branding juga,” ujar Hanan dalam wawancara, Rabu (05/11/2025).
Hanan menjelaskan, potensi kopi di Jember sangat besar dengan produksi yang terus meningkat setiap tahun. Namun, ironisnya, kopi Jember justru kurang dikenal dibanding kopi dari daerah lain seperti Dampit.
“Kopi Jember lebih dikenal sebagai kopi Dampit. Padahal, sebagian besar produksinya dari Jember. Hal itu disebabkan karena Jember tidak punya branding sendiri,” keluhnya.
Dia juga mengusulkan beberapa nama branding untuk kopi lokal, seperti Kopi Raung atau Kopi Argopuro, mengingat Jember memiliki dua kawasan pegunungan penghasil kopi berkualitas.
“Kami punya dua sisi di Pegunungan Raung dan Argopuro, semuanya ditanami kopi dengan petani yang banyak. Ini harus dilakukan branding,” tegasnya.
Dari segi kualitas rasa, Hanan meyakini kopi Jember mampu bersaing di pasar. Kopi dari Raung dan Argopuro masing-masing memiliki ciri khas tersendiri karena perbedaan karakter ketinggian.
Perpendek Distribusi, Harga Kopi Petani Lebih Tinggi
Selain branding, Hanan juga menyoroti kendala yang dihadapi petani kopi, terutama panjangnya rantai distribusi dari petani hingga pabrik. Hal ini menyebabkan selisih harga yang cukup tinggi, dengan rata-rata berkisar Rp10.000 hingga Rp15.000 per kilogram.
“Dengan memperpendek rantai distribusi, margin bisa dikurangi agar harga di tingkat petani lebih tinggi,” jelasnya.
Fluktuasi harga juga menjadi masalah serius. Pada musim panen raya, harga kopi robusta bisa turun hingga Rp44.000-Rp45.000 per kilogram, sementara di luar musim panen, harganya mencapai Rp79.000 per kilogram. Kondisi ini merugikan petani dengan modal terbatas yang terpaksa menjual hasil panen saat harga sedang rendah.
Hanan berharap pemerintah dapat menjembatani masuknya investor dan kehadiran pabrik kopi di Jember untuk menyerap produksi lokal dan memangkas distribusi penjualan kopi yang dirasa panjang. Tidak hanya itu, langkah ini diharapkan dapat menstabilkan harga dan mencegah produksi kopi Jember mengalir ke kabupaten lain.
“Kami mewakili aspirasi petani kopi berharap pemerintah menghadirkan investor dan pabrik kopi agar ada branding sendiri khusus di Jember,” harapan Hanan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Diki Febrianto
Editor: Dwi Lindawati








