MALANG, Tugujatim.id – Universitas Negeri Malang (UM) menegaskan perannya sebagai salah satu pusat pengembangan pendidikan global melalui penyelenggaraan Education International Conference Universitas Negeri Malang 2025 (EDICON UM 2025).
Konferensi internasional bergengsi ini sukses menghadirkan para pakar dunia yang memberikan pemikiran mendalam mengenai masa depan pendidikan, inovasi pembelajaran, serta penguatan prinsip keberlanjutan dan inklusivitas sebagai fondasi transformasi pendidikan masa depan.
Dengan mengusung tema “Ensuring the Future of Education for All through Fair and Sustainable Actions”, konferensi ini menawarkan ruang diskusi strategis bagi para akademisi, peneliti, praktisi, dan pembuat kebijakan dari berbagai negara.
“EDICON UM bukan hanya konferensi, tetapi gerakan bersama untuk mewujudkan pendidikan yang lebih adil, inklusif, dan berkelanjutan bagi semua,” tegas Ediyanto, Ph.D., Ketua Konferensi Education International Conference Universitas Negeri Malang (EDICON UM) 2025.
Para peserta berupaya merumuskan arah baru pendidikan global yang lebih adil, inklusif, adaptif terhadap teknologi, serta mendorong partisipasi aktif semua kalangan. EDICON UM 2025 mempertemukan pemikiran lintas budaya dan keilmuan melalui sesi keynote, plenary, dan presentasi paralel, melibatkan pakar dari Malaysia, Taiwan, Australia, Latvia, India, Malaysia, dan Indonesia.
Empat Keynote Utama: Masa Depan Pendidikan dalam Perspektif Global
- Prof. Melor Md Yunus (Malaysia): Re-Imagining Teaching-Learning Interaction
Dalam pemaparannya, Prof. Melor menggarisbawahi pentingnya merancang interaksi pembelajaran yang lebih komunikatif, aktif, dan humanistik di era digital. Ia menekankan bahwa pembelajaran masa depan harus berbasis kolaborasi, teknologi, dan kreativitas tanpa meninggalkan sentuhan pedagogis manusiawi. Menurutnya, pendidik dituntut untuk tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga memahami dinamika kebutuhan peserta didik dalam konteks global yang cepat berubah. Prof. Melor menekankan bahwa “masa depan pendidikan ditentukan oleh kemampuan guru untuk mempersonalisasi pembelajaran sekaligus mempertahankan keterhubungan emosional dengan siswa.” Perspektif ini menegaskan urgensi inovasi pedagogis dalam kerangka keberlanjutan.
- Prof. Hsin-Kai Wu (Taiwan): Developing Young Children’s Science Practices
Sebagai pakar pendidikan sains, Prof. Wu menyoroti kebutuhan mendesak pengembangan kurikulum berbasis praktik ilmiah sejak usia dini. Ia menjelaskan bahwa merancang pengalaman sains yang eksploratif, inkuisitif, dan berbasis masalah akan menumbuhkan generasi yang kritis serta siap menghadapi tantangan teknologi masa depan. Dalam penelitiannya, Prof. Wu menegaskan bahwa pembelajaran sains untuk anak harus mencakup tiga aspek penting: conceptual understanding, scientific reasoning, dan practical inquiry. Ia mengajak pendidik untuk merancang pembelajaran yang tidak hanya mentransmisikan konsep, tetapi memberikan pengalaman bermakna yang mengakar pada kehidupan nyata.
- Prof. Sumarmi (Indonesia): What is Education for Sustainable Development (ESD)?
Prof. Sumarmi memberikan landasan filosofis dan praktis tentang ESD sebagai pilar penting pendidikan global. Ia memaparkan bagaimana pendidikan berkelanjutan harus menanamkan kesadaran ekologis, etika sosial, serta kemampuan adaptasi terhadap perubahan iklim dan dinamika global. Menurutnya, ESD bukan hanya konten tambahan dalam kurikulum, tetapi paradigma menyeluruh yang memandu kebijakan, pembelajaran, hingga budaya sekolah. Pendidikan harus mendorong siswa untuk memahami hubungan antara manusia dan lingkungan, serta menumbuhkan tindakan konkret demi keberlanjutan planet.
- Prof. Ferry Jie (Australia): Higher Education in Society 5.0
Prof. Ferry menutup sesi keynote dengan refleksi penting mengenai transformasi pendidikan tinggi dalam era Society 5.0—suatu fase ketika interaksi antara teknologi canggih dan kehidupan manusia menyatu secara harmonis. Ia menekankan perlunya perguruan tinggi mengembangkan ekosistem pendidikan yang berfokus pada manusia, meskipun berbasis teknologi seperti AI, big data, dan robotika. Perguruan tinggi dituntut menghasilkan lulusan yang adaptif, berintegritas, dan mampu menjadi agen perubahan di tengah perkembangan digital.

EDICON UM 2025: Moderator – Rizka Apriani (Universitas Negeri Malang) (kiri atas), Prof. Ferry Jie (Edith Cowan University) (kanan atas), Prof. Sumarmi (Universitas Negeri Malang) (bawah)
Tiga Plenary Speakers: Memperkuat Perspektif Inklusivitas, Teori Pendidikan, dan Pemahaman Kebutuhan Belajar
- Prof. Priyanka Singh (India): Educational Theory as the Foundation of Higher Education Transformation
Dalam sesinya, Prof. Priyanka menekankan peran penting teori pendidikan sebagai pondasi transformasi pendidikan tinggi. Ia mengingatkan bahwa inovasi teknologi dan kurikulum tidak dapat berjalan tanpa landasan konseptual yang kuat. Ia mengajak institusi pendidikan untuk kembali pada nilai dasar pendidikan: humanisme, inklusivitas, serta pembelajaran sepanjang hayat.
- Prof. Dzintra Iliško (Latvia): Intersectionality Toward Inclusive University
Prof. Dzintra membawa perspektif intersectionality dalam membangun universitas inklusif. Menurutnya, inklusivitas harus mencakup keberagaman identitas sosial, termasuk gender, disabilitas, latar geografis, dan status ekonomi. Ia menjelaskan bahwa universitas masa depan harus mampu mengakomodasi suara kelompok terpinggirkan dengan menyediakan ruang aman, kebijakan suportif, dan budaya akademik yang menghargai keberagaman.
- Prof. Low Hui Min (Malaysia): Understanding Unseen Learning Needs
Prof. Hui Min menyoroti kebutuhan belajar yang sering tidak terlihat (unseen learning needs) pada peserta didik. Ia menjelaskan bahwa tantangan pembelajaran tidak selalu tampak dalam bentuk fisik atau akademik, tetapi dapat berupa hambatan emosional, sensorik, hingga sosial.
Ia menegaskan bahwa pendidik perlu meningkatkan sensitivitas dan literasi inklusif untuk memahami kebutuhan yang tidak tampak tersebut, termasuk penggunaan teknologi asistif dan pendekatan pembelajaran multisensori.
Partisipasi Global dan Penguatan Jejaring Internasional
EDICON UM 2025 berhasil menghadirkan peserta dari lebih dari delapan negara dan lebih dari dua puluh institusi terkemuka dunia. Kegiatan ini tidak hanya menjadi wadah berbagi hasil riset, tetapi juga upaya memperkuat kolaborasi internasional melalui World Forum for Inclusive Education (WFIE) dan Inclusive STEAM Global Community — sebuah jejaring global yang mendorong riset lintas negara, publikasi bersama, dan pengembangan proyek internasional di bidang pendidikan inklusif dan berkelanjutan.
Dalam sesi paralel, para peneliti mempresentasikan riset terbaru mengenai literasi digital, teknologi inklusif, STEAM, kebijakan pendidikan, kesehatan mental, penggunaan AI dalam pendidikan, hingga inovasi pembelajaran berbasis bukti. Ini menggarisbawahi keberagaman tema dan metode penelitian yang dibahas.
Komitmen UM sebagai Pelopor Inklusivitas dan Keberlanjutan Pendidikan
Sebagai tuan rumah, Universitas Negeri Malang melalui Education Center, RICE UM menegaskan visi globalnya dalam memperkuat pendidikan inklusif dan berkelanjutan. Konferensi ini menjadi bukti nyata bahwa UM terus berkembang sebagai pusat rujukan regional dan internasional melalui kegiatan ilmiah yang komprehensif serta berorientasi masa depan.
Konferensi ini menarik lebih dari empat puluh lima peserta dari delapan negara, termasuk Australia, Malaysia, Taiwan, Latvia, India, Timor Leste, Singapura, dan Indonesia. Para delegasi berasal dari dua puluh dua institusi terkemuka seperti Edith Cowan University, Universiti Kebangsaan Malaysia, National Taiwan Normal University, Universitas Negeri Malang, Daugavpils University, Universiti Sains Malaysia, Amity University Uttar Pradesh, Nusa Putra University, Politeknik Negeri Jember, Universitas Negeri Surabaya, Universitas Airlangga, Universitas Pendidikan Indonesia, Universitas Pelita Harapan, Universitas Indonesia, Universitas Negeri Manado, University of Bengkulu, Universiti Teknologi PETRONAS, FXMedia Pte Ltd, Teesside University, Instituto Superior Cristal, Ministry of Education Malaysia, dan Universiti Malaya.
Melalui sesi paralel, para peneliti mempresentasikan kajian mengenai praktik inklusif, literasi digital, pedagogi berbasis STEAM, kebijakan pendidikan, serta inovasi yang selaras dengan Education and Sustainable Development Goals (SDGs).
Selain sesi presentasi, EDICON UM 2025 juga menjadi wadah penguatan kolaborasi internasional melalui World Forum for Inclusive Education (WFIE) dan Inclusive STEAM Global Community. Kedua jejaring ini bertujuan mendorong sinergi riset, publikasi bersama, serta proyek lintas institusi untuk memajukan pendidikan inklusif dan berkelanjutan di seluruh dunia.
Para peserta juga diundang untuk terus terlibat dalam pertemuan akademik berikutnya—The 2nd International Conference on Inclusive STEAM Education (ICTEME 2026) dan EDICON UM 2026. Untuk informasi lebih lanjut dan pembaruan, masyarakat dapat mengunjungi situs resmi di https://e-centerlppm.um.ac.id.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Editor: Darmadi Sasongko








