SIDOARJO, Tugujatim.id – Upaya pembangunan kembali Ponpes Al Khoziny Sidoarjo memasuki fase penting setelah insiden ambruknya salah satu bangunan beberapa waktu lalu. Pemerintah Pusat datang memastikan rekonstruksi dilakukan dengan standar keselamatan tinggi dan berorientasi jangka panjang.
Tiga kementerian yakni Kementerian Agama, Kemenko PMK, dan Kementerian PUPR melakukan kunjungan lapangan untuk meninjau lokasi pembangunan ulang. Kunjungan ini tidak semata-mata inspeksi, tetapi juga bentuk pendampingan intensif agar proses rekonstruksi berjalan aman, tertib, dan sesuai aturan konstruksi.
Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kemenag Basnang Said, menegaskan bahwa aktivitas para santri telah kembali normal.
“Alhamdulillah, proses mengaji dan belajar mengajar sudah berjalan kembali. Ini menjadi pengingat bahwa pesantren harus mendapatkan perhatian serius, terutama dalam hal kesiapan infrastruktur,” kata Basnang, dari keterangan yang diterima Tugu Jatim, pada Selasa, (18/11/2025).
Dalam dialog dengan pengelola pesantren, pemerintah menekankan bahwa seluruh proses pembangunan harus mengikuti standar teknis yang ketat. Keamanan dinilai sebagai fondasi utama, mulai dari kekuatan struktur bangunan, fasilitas pembelajaran, hingga area tinggal para santri.
“Bangunan pesantren digunakan publik dan dihuni ratusan hingga ribuan santri. Keselamatan mereka adalah prioritas. Semua pekerjaan rekonstruksi wajib tunduk pada perencanaan, perizinan, dan standar konstruksi,” tegas Basnang.
Kemenko PMK dan PUPR memastikan akan mengawal proses administratif, perizinan, hingga finalisasi desain konstruksi, sehingga bangunan baru tidak hanya kokoh, tetapi benar-benar layak huni dan fungsional bagi kegiatan pendidikan.
Penguatan Sistemik: Pembentukan Ditjen Pesantren
Selain rekonstruksi fisik, pemerintah juga menyiapkan penguatan ekosistem pesantren dalam skala nasional. Basnang menyampaikan bahwa Kemenag tengah memfinalisasi pembentukan Direktorat Jenderal khusus Pesantren.
“Ditjen ini tidak akan mencampuri metode pembelajaran pesantren. Fokusnya adalah sarana dan prasarana, agar pesantren memiliki dukungan infrastruktur yang memadai,” jelasnya.
Pembentukan Ditjen Pesantren disebut sebagai langkah strategis untuk mengakselerasi modernisasi fasilitas tanpa menghilangkan karakter khas pendidikan pesantren.
Beasiswa Santri untuk Bidang Strategis: Dorong Kaderisasi ke Pesantren
Dalam kesempatan yang sama, Kemenag juga memperkenalkan program beasiswa baru bagi santri yang ingin melanjutkan pendidikan tinggi, khususnya di bidang teknik sipil, kedokteran, keperawatan, hingga manajemen.
Basnang berharap para penerima beasiswa kelak menjadi sumber daya strategis bagi pesantren.
“Dengan ilmu yang dimiliki, mereka dapat kembali mengabdi untuk memperkuat tata kelola, layanan kesehatan, hingga pembangunan fisik pesantren,” ungkapnya.
Program ini akan diimplementasikan melalui kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi, sementara pesantren akan mengirimkan santri-santri terbaiknya untuk diseleksi.
Apresiasi Daerah Lewat Pesantren Award
Sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem pesantren, Kemenag juga memberikan Pesantren Award kepada pemerintah daerah yang dinilai memiliki komitmen serius dalam mendukung pesantren melalui anggaran, fasilitas, maupun kebijakan.
Dengan pengawalan pemerintah dan sejumlah program strategis, rekonstruksi Ponpes Al-Khoziny diharapkan tidak sekadar memperbaiki bangunan yang rusak, tetapi menjadi momentum memperkuat kualitas infrastruktur, pendidikan, dan keberlanjutan pesantren sebagai pusat pembentukan karakter bangsa.
“Kami ingin memberikan apresiasi kepada daerah yang benar-benar hadir untuk pesantren,” pungkas Basnang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter : Layla Aini
Editor: Darmadi Sasongko








