LUMAJANG, Tugujatim.id – Erupsi Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, pada Rabu (19/11/2025) menyebabkan endapan sedimentasi vulkanik di sepanjang jalur Piket Nol, tepatnya di Jembatan Besuk Kobo’an.
Dari pantauan Tugujatim.id pada Kamis (20/11/2025) siang endapan menyebabkan jalan berdebu dan berpotensi membatasi jarak pandang pengendara, baik tidak dua maupun roda empat.
Menuju sore hari, hujan abu hasil erupsi Gunung Semeru melanda melanda Kecamatan Pronojiwo. Kendati demikian intensitasnya tidak begitu rapat. Hujan abu itu pun tak menghalangi para pengungsi maupun relawan untuk beraktivitas.
Sejumlah warga juga terlihat kembali ke pengungsian, setelah menyambangi kediamannya yang terkena hasil material dari semburan gunung tertinggi di Pulau Jawa itu.

Kerusakan yang dialami warga pun beragam, mualai dari rusak sedang hingga berat atau tidak menyisakan secuil puing-puing rumah akibat dilalap lahar panas Gunung Semeru.
Seperti yang dirasakan salah seorang warga Dusun Sumbersari, Desa Supiturang bernama Hanik Agustin. Ia menceritakan kondisi rumahnya yang telah terbawa dan tertimbun material vulkanik panas.
Karena tidak ada lagi rumah baginya untuk kembali, ibu rumah tangga berusia 25 tahun ini memutuskan untuk menetap di pengungsian, tepatnya di Balai Desa Oro-Oro Ombo. Bersama suami, buah hati dan keluarga besarnya, ia harus merelakan dua rumah sekaligus.
“Habis total rumah saya dan rumah orang tua. Tidak tersisa apa-apa,” ujar ibu satu anak itu dengan pasrah saat ditemui Tugujatim.id pada Kamis (20/11/2025).
Nasib berbeda dirasakan Sumarwi, warga Dusun Gumukmas, Desa Supiturang yang mengungsi di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Supiturang 4. Ia mengenang momen letusan Gunung Semeru yang membuatnya trauma.
Pria berusia 69 tahun itu mengaku, selama seumur hidupnya telah menyaksikan lima kali Gunung Semeru erupsi hebat. Terhitung sejak tahun 1993. Dari kelima letusan itu, baru kali ini erupsi yang membuatnya terngiang-ngiang di kepala.
Sebab, erupsi yang terjadi pada Rabu 19 November 2025 telah menghancurkan cukup banyak rumah tetangganya. Meski, kediamannya tidak terdampak begitu signifikan, ia merasa trauma atas kejadian tersebut.
“Yang paling parah yang sekarang. Dulu yang jadi korban banyak orangnya, sekarang rumahnya yang habis banyak,” kenang Sumarwi saat ditemui Tugujatim.id di lokasi pengungsian.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: Diki Febrianto
Editor: Darmadi Sasongko








