Penulis: Zulkarnain Mahmud, Santri Embongan
Tugujatim.id – Di tengah riuhnya konflik antar kiai atau ulama, sebagian warga Nahdlatul Ulama (NU) kerap terjebak dalam kesedihan, kekecewaan, bahkan kehilangan arah. Namun, dalam perspektif tasawuf, justru di sinilah letak peluang spiritual yang agung: ‘menggembirakan hati dalam menghadapi realitas yang tampak kelam’.
Konflik antar ulama bukanlah kiamat kecil. Ia adalah bagian dari dinamika sejarah umat yang terus bergerak. Maka, mengapa tidak dimaknai sebagai hiburan gratis dari Tuhan, sebuah pertunjukan kosmis yang mengingatkan kita bahwa bahkan para pewaris nabi pun manusia biasa?
Baca Juga: PBNU Tunjuk KH Zulfa Mustofa sebagai Pj Ketua Umum, Pimpin hingga Muktamar 2026
Sebagaimana dikatakan oleh Kiai Mushonef dalam Al-Hikam: “Apa yang tampak sebagai ujian, bisa jadi adalah rahmat yang disamarkan.”
Konflik, dalam kacamata ini, bukanlah musibah, melainkan sandiwara Ilahi yang menguji kejernihan batin umat. Maka, warga NU justru perlu menertawakannya, bukan dalam makna mengejek, tetapi sebagai bentuk tajalli (penyingkapan) bahwa dunia ini fana, dengan desain naskah cerita tuhan yang seru.
Dalam tasawuf, kesedihan yang berlarut-larut atas dunia adalah bentuk keterikatan yang menghalangi perjalanan ruhani. Maka, menyikapi konflik dengan gembira adalah bentuk tajrid : melepaskan diri dari keterikatan emosional terhadap dunia. Ini bukan sikap apatis, melainkan hikmah sufistik untuk menjaga kejernihan hati.
Otokritik dan Perlawanan Budaya: Menolak Kesedihan sebagai Norma
Budaya umat yang selalu menanggapi konflik dengan duka dan kepanikan adalah warisan kolonial spiritual: umat diajari untuk takut, bukan untuk merdeka secara batin. Maka, menertawakan konflik ulama adalah bentuk perlawanan budaya sebuah deklarasi bahwa umat tidak akan lagi menjadi korban drama elite.
Rabi‘ah al-‘Adawiyah pernah berkata:
“Apa pun yang datang dari Kekasih, aku menerimanya dengan cinta.”

Maka, jika konflik datang dari ketetapanNya, kita pun menyambutnya dengan cinta dan senyum. Karena cinta tidak selalu berbentuk pelukan; kadang ia hadir dalam bentuk debat, silang pendapat, bahkan perpecahan yang menyembuhkan.
Dalam dunia yang penuh kegaduhan, nahdlyin perlu memilih jalan yang sunyi namun terang: jalan kegembiraan. Maka, warga NU yang menertawakan konflik bukan sedang menghina ulama, tetapi sedang menyelamatkan jiwanya dari kesedihan yang tidak perlu.
Sebagaimana maqolah sufi berbunyi:
“Orang yang mengenal Allah, akan tertawa meski dunia terbakar.”
Karena bagi sufi, dunia ini hanya bayangan. Dan dalam bayangan, kita bebas menari, tertawa, dan bersyukur bahkan ketika para aktor utama sedang berseteru di panggung.
Ya anggap saja kita sedang nonton Netflix, film yang seru dan penuh intrik walau paket data mau habis.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Editor: Dwi Lindawati








