• Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
No Result
View All Result
NU.

Ilustrasi NU. (Foto: AI)

Konflik PBNU sebagai Hiburan Ilahiah bagi Nahdliyin

Dwi Linda by Dwi Linda
6 months ago
in Catatan
0
Share on FacebookShare on Twitter

Penulis: Zulkarnain Mahmud, Santri Embongan

Tugujatim.id – Di tengah riuhnya konflik antar kiai atau ulama, sebagian warga Nahdlatul Ulama (NU) kerap terjebak dalam kesedihan, kekecewaan, bahkan kehilangan arah. Namun, dalam perspektif tasawuf, justru di sinilah letak peluang spiritual yang agung: ‘menggembirakan hati dalam menghadapi realitas yang tampak kelam’.

Konflik antar ulama bukanlah kiamat kecil. Ia adalah bagian dari dinamika sejarah umat yang terus bergerak. Maka, mengapa tidak dimaknai sebagai hiburan gratis dari Tuhan, sebuah pertunjukan kosmis yang mengingatkan kita bahwa bahkan para pewaris nabi pun manusia biasa?

You might also like

Gus Yahya.

Menakar Dua Periode Gus Yahya: Mungkinkah?

30/05/2026 8:27 PM
Tasyakuran 50 tahun pernikahan

Tasyakuran 50 Tahun Pernikahan Surya Burhanuddin dan Sjenny Jamain, Penuh Kesan dan Menginspirasi

03/05/2026 7:42 PM

Baca Juga: PBNU Tunjuk KH Zulfa Mustofa sebagai Pj Ketua Umum, Pimpin hingga Muktamar 2026

Sebagaimana dikatakan oleh Kiai Mushonef dalam Al-Hikam: “Apa yang tampak sebagai ujian, bisa jadi adalah rahmat yang disamarkan.”

Konflik, dalam kacamata ini, bukanlah musibah, melainkan sandiwara Ilahi yang menguji kejernihan batin umat. Maka, warga NU justru perlu menertawakannya, bukan dalam makna mengejek, tetapi sebagai bentuk tajalli (penyingkapan) bahwa dunia ini fana, dengan desain naskah cerita tuhan yang seru.

Dalam tasawuf, kesedihan yang berlarut-larut atas dunia adalah bentuk keterikatan yang menghalangi perjalanan ruhani. Maka, menyikapi konflik dengan gembira adalah bentuk tajrid : melepaskan diri dari keterikatan emosional terhadap dunia. Ini bukan sikap apatis, melainkan hikmah sufistik untuk menjaga kejernihan hati.

Otokritik dan Perlawanan Budaya: Menolak Kesedihan sebagai Norma

Budaya umat yang selalu menanggapi konflik dengan duka dan kepanikan adalah warisan kolonial spiritual: umat diajari untuk takut, bukan untuk merdeka secara batin. Maka, menertawakan konflik ulama adalah bentuk perlawanan budaya sebuah deklarasi bahwa umat tidak akan lagi menjadi korban drama elite.

Rabi‘ah al-‘Adawiyah pernah berkata:

“Apa pun yang datang dari Kekasih, aku menerimanya dengan cinta.”

WhatsApp Image 2025 12 12 at 10.27.43

Maka, jika konflik datang dari ketetapanNya, kita pun menyambutnya dengan cinta dan senyum. Karena cinta tidak selalu berbentuk pelukan; kadang ia hadir dalam bentuk debat, silang pendapat, bahkan perpecahan yang menyembuhkan.

Dalam dunia yang penuh kegaduhan, nahdlyin perlu memilih jalan yang sunyi namun terang: jalan kegembiraan. Maka, warga NU yang menertawakan konflik bukan sedang menghina ulama, tetapi sedang menyelamatkan jiwanya dari kesedihan yang tidak perlu.

Sebagaimana maqolah sufi berbunyi:
“Orang yang mengenal Allah, akan tertawa meski dunia terbakar.”

Karena bagi sufi, dunia ini hanya bayangan. Dan dalam bayangan, kita bebas menari, tertawa, dan bersyukur bahkan ketika para aktor utama sedang berseteru di panggung.

Ya anggap saja kita sedang nonton Netflix, film yang seru dan penuh intrik walau paket data mau habis.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id

Editor: Dwi Lindawati

Dwi Linda

Dwi Linda

Related Stories

Gus Yahya.

Menakar Dua Periode Gus Yahya: Mungkinkah?

by Dwi Linda
30/05/2026 8:27 PM
0

Oleh: Abdur Rahim** Tugujatim.id - Kepemimpinan di Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sedang berada di persimpangan yang tidak mudah. Ketegangan...

Tasyakuran 50 tahun pernikahan

Tasyakuran 50 Tahun Pernikahan Surya Burhanuddin dan Sjenny Jamain, Penuh Kesan dan Menginspirasi

by Mochamad Abdurrochim
03/05/2026 7:42 PM
0

JAKARTA, Tugujatim.id – Tasyakuran 50 tahun pernikahan Surya Burhanuddin dan Sjenny Jamain berlangsung penuh kesan, syukur, dan inspirasi di Hotel...

AHWA.

Menimbang Pelembagaan AHWA sebagai Otoritas Kepemimpinan NU

by Dwi Linda
14/04/2026 7:52 PM
0

Oleh: Abdur Rahim (Warga NU; tinggal di Desa Simo, Tuban)   TUBAN, Tugujatim.id - Beberapa waktu lalu, saya bertemu dengan...

Busana Khas Malang

Kajian Sejarah Busana Khas Malang

by Darmadi Sasongko
11/04/2026 3:25 AM
0

Tugujatim.id - Kajian Sejarah Busana Khas Malang ditulis oleh Dwi Cahyono, Yayasan Inggil. Identitas sebuah daerah tidak hanya tercermin dari...

Next Post
Bulog Mojokerto.

20 Koperasi Merah Putih Serap 50 Ton Beras dari Bulog Mojokerto

Merawat Jawa Timur

  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Info Kerjasama
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Hubungi Kami

© 2025 Tugu Jatim ID

No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial

© 2025 Tugu Jatim ID