JEMBER, Tugujatim.id – Masyarakat yang tinggal di kawasan pinggiran Sungai Bedadung Jember mengambil inisiatif mandiri pasca-kejadian banjir pada pertengahan bulan Desember yang lalu. Kegelisahan terhadap ancaman tanah longsor mendorong mereka untuk tidak menanti kedatangan pertolongan dari pihak berwenang.
Langkah sederhana namun bermakna diambil untuk menjaga keamanan lingkungan tempat tinggal mereka. Kerja bakti menjadi metode yang dipilih oleh komunitas warga setempat. Dengan dana dan tenaga sendiri, komunitas tersebut mendirikan pembatas dari bambu sepanjang kurang lebih 15 meter di bagian tanggul Sungai Bedadung yang mengalami kerusakan.
Area ini terletak di kompleks Perumahan Villa Indah Tegal Besar, tepatnya Blok E, yang masuk wilayah administrasi Kelurahan Tegal Besar, Kecamatan Kaliwates.
Pembatas bambu ini tidak bertujuan untuk mencegah datangnya banjir, tetapi lebih kepada tanda peringatan agar penduduk lebih waspada saat beraktivitas di sekitar area tersebut.
“Langkah ini sepenuhnya berasal dari kepedulian warga sebagai bentuk peringatan supaya orang-orang tidak mendekati bibir sungai,” ungkap Tri Wahyudi selaku Ketua RT 05 RW 13 Kelurahan Tegal Besar, pada Senin (29/12/2025).
Menurutnya, keresahan terbesar datang dari tingkah laku anak-anak yang kerap bermain di area bantaran sungai. Kerusakan pada tanggul menimbulkan kekhawatiran bahwa anak-anak bisa terpeleset atau tercebur ke dalam sungai tanpa pengawasan.
Di samping itu, pagar tersebut juga berguna untuk mengatur lalu lintas para pemancing agar tidak mondar-mandir dengan bebas.
“Lokasi rumah berdekatan dengan titik longsor, banyak anak-anak kecil, kami khawatir mereka bermain dan tiba-tiba masuk ke sungai,” tuturnya.
Dia juga menyebutkan bahwa akses jalan di pinggir sungai kini menjadi lebih sempit setelah peristiwa banjir tersebut.
Sebelumnya, jalur tersebut memiliki lebar yang memadai untuk dilintasi, namun sekarang menyusut dan rusak karena dampak longsor.
Warga sempat menanyakan kapan akan dilakukan pembenahan tanggul mengingat saat musim hujan tiba, jalur itu menjadi berbahaya dan sulit digunakan.
“Saat hujan datang, kami cemas karena jalanan kian menyempit dan risiko longsor susulan masih tinggi,” kata Tri.
Ia mempertegas bahwa pembatas bambu itu sama sekali tidak dimaksudkan sebagai sistem pencegahan banjir. Tujuan utamanya adalah sebagai penanda visual agar masyarakat lebih sadar akan bahaya longsor yang masih mengancam.
“Dengan keberadaan penanda ini, diharapkan warga tidak mendekati terlalu dekat ke tepi sungai. Jadi ini bukan untuk pengamanan fisik, melainkan tanda agar masyarakat meningkatkan kewaspadaan,” jelasnya lebih lanjut.
Untuk masa mendatang, masyarakat mengharapkan adanya pembangunan struktur penahan sungai yang kokoh dan bersifat permanen.
Tri mengamati bahwa pada kejadian banjir sebelumnya, dorongan air dari dalam area pemukiman ternyata lebih besar dibandingkan derasnya aliran sungai, yang mengakibatkan tanggul roboh.
Ia mengharapkan pemerintah juga merancang sistem drainase yang baik agar tidak kembali memberikan tekanan berlebih pada tanggul.
“Keinginan kami adalah ada pembangunan tembok penahan yang solid dan perencanaan tata aliran air yang komprehensif,” tutupnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: Diki Febrianto
Editor: Darmadi Sasongko








