Tugujatim.id – Sisi humanis dan inspiratif ditunjukkan dua sosok, polisi kembar asal Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Iptu Rahmat Kurniawan dan Iptu Rahmat Kurniansyah, tak sekadar perwira polisi. Mereka senantiasa hadir sebagai pengayom masyarakat dan menebar rahmat.
Hawa sejuk menyambut penulis saat memasuki pintu gerbang Kawasan Wisata Kahayya, Kamis (25/12/2025) siang. Berjarak sekitar 47 kilometer dari ibu kota Kabupaten Bulukumba, Provinsi Sulawesi Selatan, dengan akses jalan berupa tanjakan, berkelok, diapit jurang dan pegunungan, Desa Kahayya yang masuk dalam wilayah Kecamatan Kindang berada di ketinggian 900 – 1.800 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Desa Kahayya dihuni sekira 1.245 jiwa penduduk atau 314 kepala keluarga (Data Pemerintah Desa, tahun 2022). Desa ini merupakan hasil pemekaran dari desa induk, Desa Kindang, pada tahun 2010 silam. Berhawa sejuk dan dikelilingi bentang alam pegunungan, sebelah timur kaki Gunung Bawakaraeng dan di sebelah utara Gunung Lompobattang, mayoritas warga Desa Kahayya menggantungkan hidupnya dengan berkebun. Di antaranya menggarap lahan untuk perkebunan kopi, tembakau, buah-buahan, dan sayur-sayuran.
Bahkan, kopi dari Desa Kahayya telah berhasil menembus pasar ekspor hingga ke Jerman, Belanda, dan Amerika. Didukung kontur alam yang menawarkan pemandangan pepohonan yang hijau, panorama lereng-lereng pegunungan bak lukisan, keindahan aliran sungai yang terlihat dari ketinggian, serta hawa yang sejuk, Desa Kahayya perlahan menjelma menjadi desa wisata sejak tahun 2019. Ini tak lepas dari kejelian dan kreativitas warga setempat melihat potensi desanya sebagai salah satu destinasi wisata healing.
“Asyik loh (touring) motoran ke sana. Meski banyak tanjakan, tapi jalanan sudah diaspal,” kata Iptu Rahmat Kurniawan, Kepala Urusan Pembinaan Operasi (KBO) Sat Binmas Polres Bulukumba, meyakinkan penulis untuk mengunjungi desa tersebut saat kami berbincang di salah satu warkop di pusat ibu kota Kabupaten Bulukumba, Kamis pagi.
Bagi Iptu Rahmat Kurniawan, Desa Kahayya bukanlah tempat asing. Sejak tahun 2018, dia dan adiknya Iptu Rahmat Kurniansyah yang kini menjabat Kepala Seksi Profesi dan Pengamanan (Propam) Polres Sinjai, telah merintis sebuah Pondok Tahfidz Al-Qur’an gratis untuk tempat belajar mengaji anak-anak desa setempat.
Iptu Rahmat Kurniawan mengenang, masa-masa ketika akses jalan menuju Desa Kahayya jauh dari kata memadai. Jalanan rusak serta rumah-rumah warga belum tersentuh penerangan listrik dari PLN. Dia menuturkan, ide untuk mendirikan Pondok Tahfidz Al-Qur’an di Desa Kahayya bermula saat sang adik Rahmat Kurniansyah menjadi Kanit Binmas di Polsek Kindang.
“Itu awalnya inisiasi saya sama adik. Kebetulan, Desa Kahayya itu masih tergolong desa terpencil juga di Kabupaten Bulukumba. Wilayah tugas adik dulu waktu tugas di Polsek Kindang. Saya sempat berkunjung ke sana, belum ramai dikunjungi kayak sekarang,” ujar Iptu Rahmat Kurniawan.

Jumat (26/12/2025). Berada di bentang pegunungan Lompobattang dan Gunung
Bawakaraeng. Foto: Sapriadi
Hal senada diungkapkan Iptu Rahmat Kurniansyah. Saat menjadi Kanit Binmas Polsek Kindang, dia berkesempatan mengunjungi Desa Kahayya di tahun 2017. Saat itu, kondisi desa ini masih terisolasi dengan akses jalan yang jauh dari memadai. Dia mendapati anak-anak desa setempat tidak mendapatkan fasilitas khusus untuk belajar mengaji.
“2017, kondisi Desa Kahayya belum seramai sekarang. Akses jalan belum diaspal, dan saya dapati anak-anak desa tidak memiliki fasilitas khusus untuk mengaji. Karena itu, sebagai pembinaan masyarakat, saya dan kakak terdorong untuk mendirikan Pondok Tahfidz Al-Qur’an bagi anak-anak di Desa Kahayya,” ucap Iptu Rahmat Kurniansyah.
Bermula dari situ, keduanya lalu berembuk dengan tokoh masyarakat setempat terkait rencana mendirikan pondok tahfidz Al-Qur’an di Desa Kahayya.
“Kemudian kami hadirkan tokoh masyarakat (dalam pertemuan), ada yang siapkan tanah di depan rumahnya sekitar ukuran 10×10 (meter). Kami jalan, awalnya kami tidak yakin juga bisa terbangun (pondok tahfidz) itu. Niat awal saya dulu sama adik, bilang, mulai saja dulu. InsyaAllah sambil berjalan, semoga bisa cepat. Alhamdulillah, bangunannya selesai cuma dua bulan (pengerjaan),” imbuh Iptu Rahmat Kurniawan.
Selesai dibangun, pondok tahfidz sederhana ini diberi nama Pondok Tahfidz Bhayangkara. Iptu Rahmat Kurniawan menuturkan, dengan penamaan embel-embel Bhayangkara, dia berharap masyarakat bisa bekerja sama dengan Polri dan cinta kepada Polri.
“Pertama, karena saya polisi. Kemudian, diharapkan juga mungkin ada masyarakat lebih bisa bekerja sama dengan Polri, cinta kepada Polri. Karena mau tidak mau juga, saya besar, lahir dari kepolisian, dan kita harapkan memang ada dukungan juga dari masyarakat,” imbuhnya.
Pondok tahfidz tersebut selanjutnya diresmikan langsung Bupati Bulukumba saat itu, mendiang Andi Muhammad Sukri Andi Sappewali. Tepatnya pada Kamis (25/1/2018). Momen peresmian Pondok Tahfidz Bhayangkara sekaligus menjadi saat yang tepat bagi Iptu Rahmat Kurniawan untuk melaporkan kondisi Desa Kahayya ke Bupati Bulukumba melalui perantara ajudan.
“Alhamdulillah, betul. Bupati ke sana (Desa Kahayya) bawa Kepala PLN Bulukumba hadir di peresmian (Pondok Tahfidz). Kemudian, hadir beberapa perwakilan pimpinan cabang bank. Bisa dibilang, dengan kita menggagas pondok tahfidz di sana, berdampak (sosial). Termasuk jalannya. Listrik mulai (masuk) tahun 2020, sekarang sudah ramai sebagai desa wisata,” ujar Iptu Rahmat Kurniawan.

Pondok Tahfidz Bhayangkara, Desa Kahayya. Foto: Dokumentasi Pribadi
Usai diresmikan, polisi kembar ini melihat tingginya antusiasme anak-anak setempat untuk belajar mengaji di Pondok Tahfidz Bhayangkara. Pulang dari sekolah, sekira pukul 15.00 WITA, anak-anak Desa Kahayyang dengan penuh semangat berkumpul di pondok tahfidz untuk mengaji.
Menurut Iptu Rahmat Kurniawan, di masa-masa awal pendirian, keduanya bahkan nyaris tiap pekan menyempatkan waktu mengajari langsung anak-anak mengaji. Namun, seiring kesibukan sebagai perwira kepolisian, intensitas keduanya mengajar berkurang. Peran mereka digantikan ibu-ibu rumah tangga setempat.
“Dulu, hampir tiap pekan juga ke sana sama adik. Karena seru juga, jadi (sekalian) tempat berwisata. Meski perjalanan lumayan jauh, sampai di sana mengajar anak-anak, kayak lelahnya tidak berasa,” tutur Iptu Rahmat Kurniawan.
Melihat antusiasme anak-anak datang mengaji yang mencapai hingga 40-an orang, Iptu Rahmat Kurniawan bersama Iptu Rahmat Kurniansyah lalu memutuskan membeli sebidang tanah pada tahun 2020 dengan luas sekitar 1 hektare. Tak jauh dari Pondok Tahfidz Bhayangkara. Sebidang lahan yang dibelinya itu kemudian mereka wakafkan untuk pembangunan pondok pesantren tahfidz Al-Qur’an.
“Saya beli (tanah) sama adik. Saya pikir-pikir, mungkin bagus juga untuk ke depannya pengembangan ini. Nggak lama berjalan, saya sampaikan InsyaAllah saya mau bangun pondok pesantren di sini nantinya,” ujar Iptu Rahmat Kurniawan.
Tahun 2024, dilakukan peletakan batu pertama rencana pembangunan Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur’an di atas lahan hampir seluas 1 hektare itu. Namun, kesibukan keduanya sebagai perwira polisi membuat rencana pembangunan ponpes urung terlaksana. Apalagi, Iptu Rahmat Kurniansyah yang kini bertugas di Polres Sinjai atau berjarak sekitar 90 kilometer dari Desa Kahayya.
Kendati demikian, keduanya tetap berikhtiar untuk melanjutkan pembangunan Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur’an itu di sela-sela kesibukan keduanya di satuan masing-masing.
“Tahun kemarin (2024), sudah peletakan batu pertama. Ikhtiar untuk membangun pondok pesantren sudah saya niatkan bersama adik,” kata Iptu Rahmat Kurniawan yang bersama adiknya Iptu Rahmat Kurniansyah sudah aktif di kegiatan-kegiatan keagamaan sejak masa sekolah dan berlanjut aktif di komunitas-komunitas dakwah di sela-sela tugas sebagai anggota Polri.

Kembar Identik yang Kompak, Terinspirasi dari Bapak
Kembar identik. Dua kata ini menggambarkan sosok Iptu Rahmat Kurniawan dan Iptu Rahmat Kurniansyah. Keduanya lahir di Sinjai pada 14 Juli 1985, merupakan putra kembar dari seorang pensiunan polisi AKBP (Purn) H Muh Arfah yang pernah menjabat sebagai Kasat Binmas Polres Bulukumba.
Menurut Iptu Kurniansyah, dia lahir hanya berselang beberapa menit setelah sang kakak Iptu Rahmat Kurniawan. Terlahir sebagai anak kembar, keduanya kompak sejak masa kanak-kanak hingga kini sebagai perwira Kepolisian RI. Iptu Rahmat Kurniawan mengatakan, mereka kompak sejak duduk di bangku SD, SMP, SMA, hingga bersamaan lulus kepolisian. Keduanya juga melangsungkan pernikahan di momen yang sama.
“Lahirnya sama-sama, SD-nya sama (sekelas), SMP-nya sama, SMA-nya sama, nikahnya sama-sama, masuk polisinya sama-sama, kuliahnya sama-sama, melanjutkan pendidikan sama-sama, dan naik pangkatnya sama-sama,” timpal sang adik, Iptu Rahmat Kurniansyah.

terinspirasi dari sosok bapak, AKBP (Purn) H Muh Arfah, yang pernah menjabat sebagai
Kasat Binmas Polres Bulukumba. Foto: Dokumentasi Pribadi
Terlahir dari bapak yang berkarier di kepolisian, membuat keduanya terinspirasi untuk mengikuti jejaknya sebagai anggota Bhayangkara. Semasa aktif sebagai polisi, H Muh Arfah tercatat sebagai Kasat Binmas terlama di Polres Bulukumba.
Iptu Rahmat Kurniansyah menuturkan, sisi humanis dan religius itu ditanamkan oleh sang Bapak sejak mereka kecil hingga petuah itu mereka terapkan selama berkarier di kepolisian. Dalam perjalanan karier, keduanya ditempatkan dalam Satuan Pembinaan Masyarakat (Sat Binmas).
“Memang itu pesan Bapak, kalau jadi polisi harus bisa mengayomi dan melakukan pembinaan ke masyarakat. Kalau kegiatan-kegiatan keagamaan, kami sudah aktif sejak di bangku sekolah. Pas jadi polisi, kami mulai aktif di lembaga-lembaga dakwah,” tutur Iptu Rahmat Kurniansyah.
Meski keduanya kini berbeda satuan dan berbeda wilayah tugas, Iptu Rahmat Kurniansyah mengatakan, dirinya sebagai Kasi Propam tidak jauh-jauh dalam kegiatan pembinaan.
“Kalau Binmas itu kan ke masyarakat, Propam ini melakukan pembinaan secara internal ke kepolisian,” ujar Iptu Rahmat Kurniansyah.
Di sisi lain, Iptu Rahmat Kurniawan selaku KBO Sat Binmas Polres Bulukumba banyak bersentuhan dengan masyarakat. Di beberapa kesempatan, dia kerap diundang sebagai penceramah di masjid serta kegiatan-kegiatan pengajian di masyarakat. Secara rutin, dia juga memberikan ceramah ke para tahanan maupun ke sesama anggota polisi.
“Khoirunnas Anfauhum Linnas, sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bisa memberikan manfaat kepada orang lain. Secara umum, setiap kita, InsyaAllah punya potensi memberikan manfaat sama orang,” tandas Iptu Rahmat Kurniawan.
[Redaksi: Diterbitkan 29 Desember 2025, Penyuntingan terakhir berupa penambahan foto, 1 Januari 2026]
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: Sapriadi
Editor: Darmadi Sasongko








