MALANG, Tugujatim.id – Fakultas Hukum Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (FH Unikama) menggelar kunjungan studi klinis dan studi banding ke Bali pada 11-15 Januari 2026 yang bertujuan meningkatkan kompetensi lulusan.
Kegiatan ini juga bukan sekadar rutinitas akademik tahunan, melainkan sebuah ekspedisi intelektual untuk membuka mata mahasiswa terhadap ekosistem hukum yang kompleks. Mulai dari proses pembentukan regulasi hingga pelestarian nilai-nilai tradisi dalam masyarakat.
Dalam kunjungannya ke institusi negara yang ada di Bali, mahasiswa FH Unikama dihadapkan pada realitas bahwa hukum adalah perpaduan seni berpolitik dan ketegasan moral.
Penekanan Filosofis Pendidikan Hukum di Unikama
Dekan Fakultas Hukum Unikama, Darajatun Indra Kusuma Wijaya, S.H, M.H memberikan penekanan filosofis mengenai tujuan akhir dari pendidikan hukum di Unikama.

“Studi klinis dan studi banding ini, bukan hanya memberikan wawasan akademik, tetapi juga menumbuhkan kesadaran bahwa hukum harus dipahami dalam konteks sosial, budaya, dan politik,” tutur Darajatun.
Pendidikan hukum yang sejatinya tidak hanya berhenti di ruang-ruang kelas, tetapi membutuhkan praktik langsung dengan dinamika sosial.
“Kami berharap mahasiswa dapat mengintegrasikan pengetahuan yang diperoleh dengan praktik nyata, sehingga mampu menjadi lulusan yang berkompeten dan berintegritas,” sambungnya.
Saat berkunjung ke DPRD Provinsi Bali, mahasiswa menyelami permasalahan bagaimana sebuah aturan diracik melalui proses legislasi yang sarat dengan dinamika kepentingan publik.
Begitu pula saat rombongan mahasiswa FH Unikama berkunjung ke Kejaksaan Tinggi Bali. Mereka disadarkan bahwa di balik pasal-pasal pidana dan upaya pemberantasan korupsi, terdapat fondasi yang lebih mendasar, yakni integritas.
Dialog dengan pihak kejaksaan membuka wawasan bahwa profesi hukum menuntut tanggung jawab moral yang berat kepada negara, bukan sekadar kecakapan teknis semata.
Momentum Refleksi bagi Kepemimpinan Mahasiswa
Perjalanan studi klinis dan studi banding ini menjadi momentum refleksi bagi kepemimpinan mahasiswa melalui pertemuan Senat Mahasiswa FH Unikama dengan BEM FH Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas) Denpasar.

Studi Banding ke Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas) Denpasar. /Foto: Dok. Unikama.
Pertukaran gagasan ini melampaui sekadar studi banding organisasi, tetapi menjadi simpul solidaritas yang menegaskan peran mahasiswa hukum sebagai calon agen perubahan.
Ketua BEM Senat Mahasiswa FH Unikama, Navilla Afrelin melihat kolaborasi lintas kampus ini sebagai inspirasi vital untuk membangun jejaring yang kelak akan menopang karier dan perjuangan profesi mereka di masa depan.
Dimensi hukum kian terasa kaya ketika mahasiswa menjejakkan kaki di Desa Adat Penglipuran. Di desa yang menjadi ikon pelestarian budaya ini, mahasiswa belajar memahami living law atau hukum yang hidup di tengah masyarakat.
Mereka menyaksikan langsung bagaimana hukum adat tidak berdiri sebagai entitas kaku, melainkan menyatu dengan nafas kehidupan sehari-hari warga untuk menjaga harmoni sosial.
Pengalaman ini memberikan perspektif krusial bahwa di Indonesia, keadilan formal negara harus mampu berjalan beriringan dengan kearifan lokal yang telah mengakar kuat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: Bagus Rachmad Saputra
Editor: Darmadi Sasongko








