JAKARTA, Tugujatim.id – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menggelar rapat pleno yang dipimpin langsung Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar di Gedung PBNU, Jakarta, Kamis (29/01/2026). Rapat tersebut menghasilkan keputusan penting dengan meninjau kembali hasil Rapat Pleno PBNU 9 Desember 2025 serta memulihkan posisi KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya sebagai Ketua Umum PBNU.
Rapat pleno ini dilaksanakan secara luring dan daring, serta diikuti jajaran pengurus PBNU. Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar menjelaskan bahwa rapat digelar secara mendesak demi menjaga keutuhan jam’iyah NU di tengah berbagai agenda besar organisasi serta situasi kebencanaan nasional yang sedang dihadapi bangsa.
Baca Juga: Rais Aam PBNU Layangkan Surat Tabayun ke Gus Yahya Terkait Keabsahan Undangan Harlah NU
“Keputusan pleno ini memang sangat mendadak. Secara aturan, undangan seharusnya disampaikan tujuh hari sebelumnya. Namun kami melihat ada banyak agenda besar yang harus diputuskan dan dilakukan secara bersama-sama,” ujar Kiai Miftach dikutip dari NU Online.
Menurut dia, kebersamaan dalam pengambilan keputusan merupakan spirit utama organisasi, sebagaimana yang telah digariskan dalam Muktamar ke-34 NU di Lampung serta kepengurusan hasil pergantian antarwaktu (PAW) yang telah disepakati sebelumnya.
“Semua itu kami kembalikan seperti semula. Ini bagian dari kedewasaan kami dalam berorganisasi. Pada Muktamar Lampung dulu, kami juga pernah mengambil kebijakan serupa,” imbuhnya.
PBNU Tinjau Kembali Sanksi Pemberhentian Ketum
Sebagai keputusan utama, Rapat Pleno PBNU menyepakati untuk meninjau kembali sanksi pemberhentian Ketua Umum PBNU yang ditetapkan dalam rapat pleno 9 Desember 2025. Dengan pertimbangan kemaslahatan yang lebih besar, rapat memutuskan memulihkan kembali posisi Gus Yahya sebagai Ketua Umum PBNU.
“Dengan mempertimbangkan persatuan dan keutuhan Nahdlatul Ulama, rapat pleno memutuskan menelaah ulang sanksi pemberhentian terhadap KH Yahya Cholil Staquf serta mengembalikan beliau ke jabatan Ketua Umum PBNU,” tegas Kiai Miftach.
Selain itu, rapat pleno juga memutuskan untuk memulihkan komposisi kepengurusan PBNU sebagaimana hasil Muktamar ke-34 NU di Lampung yang telah diperbarui melalui Surat Keputusan PAW tahun 2024.
Dalam forum tersebut, Rais Aam PBNU juga mengajak seluruh peserta rapat untuk menerima permohonan maaf Gus Yahya atas sejumlah persoalan yang sebelumnya menimbulkan polemik internal.
“Saya mengusulkan agar rapat pleno menyepakati untuk menerima permohonan maaf KH Yahya Cholil Staquf atas kelalaian dan ketidakcermatan dalam mengundang narasumber AKN NU serta pengelolaan keuangan PBNU yang belum memenuhi kaidah akuntabilitas,” ucapnya.
Rapat Pleno PBNU juga menerima pengembalian mandat dari KH Zulfa Mustofa sebagai Penjabat Ketua Umum PBNU. Pengembalian mandat tersebut disampaikan secara resmi melalui surat tertulis kepada Rais Aam.
“Kami menghormati dan menerima pengembalian mandat yang disampaikan KH Zulfa Mustofa sebagai Penjabat Ketua Umum, serta menyampaikan terima kasih atas kebesaran sikap beliau,” kata Kiai Miftach.
Dia menilai langkah tersebut sebagai bentuk tanggung jawab moral dan komitmen menjaga keutuhan organisasi. Menurut dia, pengembalian mandat itu justru menjadi pengembalian kehormatan bagi KH Zulfa Mustofa sendiri.
Selain persoalan kepemimpinan, rapat pleno juga menyepakati langkah-langkah perbaikan tata kelola organisasi, khususnya dalam aspek administrasi dan keuangan PBNU.
“Kami memutuskan meninjau ulang penerbitan seluruh surat keputusan PBNU, PCNU, maupun dokumen lainnya yang belum memenuhi kelengkapan tanda tangan Rais Aam, Katib Aam, Ketua Umum, dan Sekretaris,” ungkapnya.
Baca Juga: Lanjutan dari Pertemuan Lirboyo, Gus Yahya dan Gus Ipul Duduk Berdampingan!
PBNU juga berkomitmen memperbaiki tata kelola keuangan dan sumber daya organisasi sesuai prinsip transparansi dan akuntabilitas, termasuk memulihkan sistem Digdaya persuratan PBNU seperti sebelum 23 November 2025.
Menutup rapat, Kiai Miftach mengajak seluruh jajaran PBNU untuk membuka lembaran baru dan kembali menata niat berkhidmat di Nahdlatul Ulama.
“Keberadaan kami di jam’iyah ini hanya untuk khidmat dan ngalap barokah dari para muassis dan generasi salafus shalih. Jangan sampai di saat bangsa menghadapi banyak musibah, kita justru ribut sendiri,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Mochamad Abdurrochim
Editor: Dwi Lindawati








