JEMBER, Tugujatim.id – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Jember melalui Komisi B turun langsung mengecek proyek infrastruktur pertanian atau optimalisasi lahan (oplah) di Kecamatan Bangsalsari, Selasa (03/02/2026), menyusul keluhan warga saat pertemuan akhir Januari lalu.
Kunjungan mendadak tersebut menyasar tiga lokasi bak penampung air di Desa Banjarsari, Tisnogambar, dan Tugusari yang merupakan bagian dari skema peningkatan produktivitas lahan pertanian.
Baca Juga: OPLAH 2025: Infrastruktur Irigasi Mulai Bangkit, Jember Siap Jadi Lumbung Pangan Jatim
Ketua Komisi B DPRD Jember Candra Ary Fianto menyatakan pemeriksaan lapangan dilaksanakan setelah para petani menyampaikan keberatannya dalam rapat dengar pendapat (RDP) pada 26 Januari 2026.
Melihat dana yang dikucurkan cukup besar, yakni senilai Rp115,9 juta untuk sumur di Tugusari yang digunakan untuk mengairi 25,21 hektare lahan pertanian, dan Rp159,4 juta di Tisnogambar untuk 34,66 hektare sawah.
“Temuan di lapangan akan kami kaji mendalam. Kami akan memanggil pihak dinas pertanian beserta kelompok tani untuk rapat lanjutan,” ujar Candra.
Warga Menilai Bangun Infrastruktur Tak sesuai Kebutuhan
Seorang petani setempat, Hariyanto dari Banjarsari, mengkritisi keras pelaksanaan proyek tersebut. Menurut dia, infrastruktur yang terbangun tidak sesuai kebutuhan riil di lapangan.
“Fasilitas yang kami terima nilainya cuma sekitar Rp10 juta, padahal anggarannya Rp91 juta. Ke mana sisanya?” tanyanya.
Baca Juga: Geram! DPRD Jember Selidiki Dugaan Penyimpangan Dana Optimalisasi Lahan hingga Tandon Air Rp91 Juta
Yang lebih ironis, Hariyanto melanjutkan, lahan mereka bergantung sepenuhnya pada air hujan.
“Kami cemas ketika kemarau tiba, bak penampung ini justru mubazir karena tidak tersambung dengan mata air atau sumber air lainnya,” keluhnya.
Hariyanto menuntut legislatif daerah mengaudit ulang program ini supaya benar-benar memberi manfaat bagi para petani, bukan sekadar proyek di atas kertas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Diki Febrianto
Editor: Dwi Lindawati








