MOJOKERTO, Tugujatim.id – Masjid Mumbul Mojokerto, selain sebagai bangunan sarana mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta juga menyimpan cerita unik dari balik namanya.
Masjid Mumbul yang berada di Pekukuhan, Mojosari, Kabupaten Mojokerto saat diamati dari luar, terlihat memadukan warna hijau, putih serta sentuhan emas.
Pada bagian muka bangunan tersebut didominasi tulisan dari huruf Latin dan aksara Jawa. Terdapat pola lengkungan dan aksesoris menunjukkan bangunan yang memang sudah berusia.
Masjid Mumbul Mojokerto ini dulunya merupakan milik Pondok Pesantren Sambung Sari Noto Projo atau dikenal juga dengan Padepokan Mayangkoro. Pondok tersebut didirikan oleh mendiang Kiai Imam Malik.

Halimatus Sa’diyah, istri dari almarhum Kiai Imam Malik atau sering disapa Gus Malik menjelaskan bahwa Gus Malik mendirikan pondok tersebut sekira tahun 1992 silam.
Sebelum pondok berdiri, Gus Malik terlebih dahulu membangun sebuah tempat tirakat (riyadhoh) di sisi selatan masjid pondok yang digunakan sebagai tempat berzikir.
“Awal dulu sebelum ada pondok, kiai bikin tempat buat riyadhoh. Lalu tambah lama tambah banyak yang ikut. Tamu-tamu dari luar (Mojokerto) juga ikut riyadhohan di sini,” urainya Halimah, Senin (23/02/2026).
Tempat yang dimaksud oleh Halimah, bila dilihat dari depan, tampak gerbang yang mengharuskan pengunjung untuk menundukkan kepala bila hendak masuk.
Pada bagian atas gerbang tertulis lafal ‘Hadzaa baabus salaam’ kemudian pada sisi kiri dan kanan terdapat lafal Allah dan Muhammad yang disertai aksara Jawa pada bagian di bawahnya.
Setelah melewati gerbang tersebut, terdapat anak tangga untuk naik lalu turun menuju tempat riyadhoh. Di dalamnya tempat ini, begitu gelap sebab berupa lorong tanpa penerangan sama sekali.
Dulu, tempat ini tidak hanya digunakan oleh santri pondok, namun tamu-tamu yang datang berkunjung ke pondok turut menyempatkan diri untuk memanjatkan doa-doa di tempat tersebut.
“Tempat riyadhoh ini biasa dipakai santri, lalu ikut dipakai sama tamu-tamu dari tempat lain, biasanya untuk berdoa,” tambah Halimah.
Sayang, pasca Gus Malik berpulang pada 2009 lalu, perlahan banyak santri mulai boyong dari pondok tersebut. Terkini hanya tampak 1 orang yang bermukim di pondok tersebut.
Sehari-hari juga terlihat warga sekitar mengaji di masjid utama yang lokasinya berada di sebelah utara tempat riyadhoh.
“Kalau sekarang hanya warga sini yang mengaji di masjid itu (utara tempat riyadhoh). Ndak ada yang mukim di sini sejak Gus Malik meninggal,” tutur Halimah.
Nama Masjid Mumbul
Kata Mumbul sendiri dalam bahasa Jawa berarti melambung atau membumbung. Kata ini lekat dengan masjid ini sebab menggambarkan lantai kedua masjid yang bisa dibilang mumbul karena hanya ditopang bambu sebagai penyangganya.
Masjid Mumbul masih digunakan hingga kini tampak tidak memakai beton. Hanya terdapat bambu sebagai penyangga bangunan di atasnya. Meski begitu, masjid ini masih tampak kokoh. Warga sekitar menyebut masjid ini dengan sebutan Masjid Mumbul.
“Warga sini kenalnya itu Masjid Mumbul karena tidak pakai beton. Pakai bambu saja tapi kuat sampai sekarang,” kata salah satu warga sekitar, Muhammad Arif.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: Hanif Nanda Zakaria
Editor: Darmadi Sasongko








