JEMBER, Tugujatim.id – Pemerintah Kabupaten Jember membuka ruang dialog khusus bagi generasi muda, termasuk mahasiswa dalam sebuah acara buka bersama yang digelar di Pendopo Wahyawibawagraha pada Sabtu, (7/3/2026).
Forum ini mempertemukan Bupati Gus Fawait dengan perwakilan berbagai organisasi kepemudaan serta Badan Eksekutif Mahasiswa dari sejumlah kampus di Jember.
Gus Fawait menyampaikan bahwa pertemuan semacam ini idealnya tidak hanya dilakukan saat Ramadan saja, melainkan dijadikan agenda rutin yang berkelanjutan.
Menurutnya, birokrasi sering kali hanya menyajikan laporan yang terkesan positif, sehingga masukan langsung dari mahasiswa dan organisasi pemuda sangat dibutuhkan untuk memperoleh gambaran kondisi nyata di lapangan.
“Pikiran mahasiswa cenderung segar, orisinil, dan berani melampaui batasan konvensional itulah yang saya butuhkan,” ungkapnya.
Dalam forum tersebut, Gus Fawait membeberkan sejumlah persoalan berat yang ia warisi saat pertama kali menjabat. Dari sisi kemiskinan, Jember menempati posisi yang memprihatinkan, yakni peringkat dua kemiskinan umum dan tertinggi untuk kemiskinan ekstrem di Jawa Timur.
Sementara itu, kondisi keuangan rumah sakit daerah sempat berada di ujung tanduk dengan beban utang mencapai Rp214 miliar.
Merespons krisis tersebut, pemerintah daerah menjalankan kebijakan penghematan agresif, mulai dari membekukan pembelian kendaraan dinas, memangkas agenda seminar, hingga merealokasi anggaran secara besar-besaran ke sektor kesehatan.
Hasilnya cukup signifikan, pendapatan RSUD dr Soebandi melonjak hampir dua kali lipat dalam kurun waktu kurang dari setahun, dari sekitar Rp15 miliar menjadi Rp31 miliar.
Di sektor pendidikan, pemerintah menemukan fakta mengejutkan, lebih dari 1.500 sekolah dalam kondisi rusak parah. Melalui sinergi anggaran daerah dan pusat, hampir 40 persen sekolah tersebut telah direnovasi sepanjang 2025. Pemerintah juga meluncurkan program beasiswa yang menyasar 20.000 mahasiswa asal Jember.
Terobosan lain datang dari sistem pelaporan publik “Wadul Gus’e”, yang menjadi jembatan langsung antara warga dan pemerintah. Dari hampir 12 ribu laporan yang masuk, sekitar 87 persen berhasil ditangani.
Selain itu, layanan cetak KTP kini diperluas ke 28 kecamatan di luar pusat kota, sehingga warga di pelosok tidak perlu lagi menempuh perjalanan jauh hanya untuk mengurus dokumen kependudukan.
Kepada para mahasiswa, Gus Fawait menegaskan bahwa sikap kritis tetap diperlukan, namun harus diiringi tawaran solusi yang konkret, bukan sekadar protes.
Ia juga menekankan bahwa tolok ukur keberhasilan pemerintahannya bukan pada jumlah program yang diluncurkan, melainkan pada seberapa besar angka kemiskinan dapat ditekan.
Acara diakhiri dengan tausiyah dan doa bersama, sebagai penguat tekad bersama untuk mewujudkan visi “Jember Baru, Jember Maju.”
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: Feni Yusnia*
Editor: Darmadi Sasongko








