BLITAR, Tugujatim.id – Presiden ke-5 Republik Indonesia Megawati Soekarnoputri menyampaikan orasi kebangsaan yang sarat akan peringatan keras bagi masa depan bangsa di Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar, Senin (15/06/2026). Di hadapan ribuan massa, Megawati di Blitar secara blak-blakan menyebut bahwa Indonesia belum sepenuhnya merdeka dan masih terus dihantui ancaman penjajahan gaya baru.
Momen refleksi tersebut terjadi saat Megawati meresmikan selesainya renovasi Istana Gebang serta monumen patung Bung Karno di Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar.
Di hadapan kader dan masyarakat, Megawati mengajak hadirin membayangkan andai saja Bung Karno tidak mengambil keputusan berani di masa lalu.
Baca Juga: Megawati Ulang Tahun Ke-79, PDIP Kota Malang Beri Kado Tanam Pohon Sukun dan Mahoni
“Bayangkan kalau Bung Karno tidak dengan keberanian mengatakan, proklamasi. Coba, siapa yang ngomong itu?” ujar Megawati memantik ingatan sejarah massa yang hadir.
Putri Sang Proklamator ini kemudian melanjutkan dengan pertanyaan retoris menohok yang langsung membakar atmosfer di area Istana Gebang.
“Apakah kalian sudah merdeka? Tidak. Tetap akan dijajah. Maukah kalian tetap dijajah?” seru Megawati lantang, yang langsung disambut teriakan “tidak” secara kompak oleh ratusan masyarakat.
Pinta Megawati ke Ahli Sejarah soal Narasi 350 Tahun
Guna menggugah kesadaran sejarah generasi muda, Megawati juga melontarkan kritik terhadap dogma sejarah yang selama ini diterima mentah-mentah oleh masyarakat. Salah satunya terkait durasi penjajahan kolonial di bumi pertiwi.
“Kita ini sebuah bangsa yang tadinya katanya, sampai hari ini saya minta ahli-ahli sejarah apakah betul, kita dijajah 350 tahun?” cetus Ketua Umum PDI Perjuangan ini.
Dia mengingatkan bahwa kemerdekaan yang dinikmati hari ini ditebus dengan harga yang sangat mahal. Megawati membeberkan, Bung Karno harus merelakan masa mudanya selama 22 tahun untuk keluar masuk penjara dan tiga kali diasingkan demi memperjuangkan kedaulatan bangsa.
“Dan mengapa merdeka itu dibikin menjadi merdeka oleh siapa? Coba sebut, oleh siapa? Yang keras! Kalian harus keluarkan kata-kata itu dari hati sanubari kalian. Ini tempatnya. Tidak hanya untuk didatangi, tapi diresapi, saudara-saudara,” tegasnya saat massa serentak meneriakkan nama Bung Karno.
Ada pemandangan menarik sebelum Megawati melontarkan kritik dan pesan mendalamnya tersebut. Begitu naik ke atas podium, dia memutuskan untuk mengesampingkan naskah sambutan formal yang telah disiapkan oleh panitia.
Baca Juga: Djamal Aziz Tanggapi tentang Panas Dinginnya Megawati dan Jokowi
Sambil berseloroh menggunakan bahasa Jawa, Megawati mengaku lebih memilih berbicara spontan dari hati nurani karena menganggap Istana Gebang adalah rumah yang penuh memori kekeluargaan yang sakral.
“Tadinya saya sudah dibikinkan nih sambutannya. Terus aku kok mikir, ini sambutan tak woco opo ora yo? Kalau saya baca jadi formal. Nggak ah, ini di rumah Eyang Kakung. Aku langsung aja ngomong, ‘Eyang Kakung, nyuwun sewu nggih, aku tak ngomong… ini ngomong hati nurani’,” pungkasnya.
Diketahui, monumen yang diresmikan tersebut merupakan patung Bung Karno setinggi 4 meter. Patung ini menampilkan figur Sang Proklamator dalam posisi duduk sembari membawa buku, yang kini melengkapi kawasan cagar budaya Istana Gebang Blitar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: M. Luki Azhari
Editor: Dwi Lindawati








