• Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Kuburan Belanda di Surabaya

Kuburan Belanda di Surabaya salah satunya Makam Ereveld Kembang Kuning (foto: instgram @akuanggraenisepti)

Kuburan Belanda di Surabaya yang Menyimpan Kisah Masa Kolonial, Awas Merinding

Mochamad Abdurrochim by Mochamad Abdurrochim
4 hours ago
in Wisata
0
Share on FacebookShare on Twitter

SURABAYA, Tugujatim.id – Surabaya tidak hanya dikenal sebagai Kota Pahlawan, tetapi juga menyimpan jejak sejarah kolonial yang masih bisa ditemukan hingga sekarang. Salah satu jejaknya yang masih tertinggal adalah keberadaan kuburan-kuburan Belanda yang menjadi saksi bisu perjalanan kota ini pada masa Hindia Belanda.

Di balik suasananya yang sunyi dan terkadang menimbulkan kesan seram, kuburan-kuburan tersebut menyimpan banyak cerita tentang tokoh penting, tentara, hingga warga Eropa yang pernah tinggal di Surabaya. Inilah dua kuburan Belanda di Surabaya yang punya nilai sejarah dan kerap menarik perhatian pencinta sejarah maupun wisatawan yaitu Kuburan Belanda Peneleh dan Kuburan Ereveld Kembang Kuning

You might also like

Makam Gus Dur

Ziarah ke Makam Gus Dur Jombang, Ini Tips agar Perjalanan Nyaman

19/06/2026 11:00 AM
Malang

Street Food Malang Murah 10 Ribuan yang Rasanya Bintang 5

19/06/2026 10:30 AM

1. Kuburan Belanda Peneleh

Kuburan Belanda Peneleh merupakan salah satu kompleks pemakaman Eropa tertua di Surabaya. Dalam bahasa Belanda, kuburan ini dinamai De Begraafplaats Soerabaia.

Pemakaman ini dibuka dan diresmikan pada tahun 1847 dengan luas 6,5 hektar sebagai tempat peristirahatan terakhir bagi warga Eropa, pejabat Hindia Belanda dan warga lainnya yang tinggal di sana. Saat itu, Surabaya berkembang pesat sebagai pusat perdagangan sehingga banyak pejabat, pengusaha, tentara, dan keluarga Belanda menetap di kota ini.

Di kawasan ini terdapat ribuan makam kuno dengan desain nisan yang unik dan artistik. Salah satunya adalah adanya batu nisan yang disesuaikan dengan pangkat, jabatan, dan keluarga. Setiap nisan di makam ini mencantumkan biografi singkat dari orang yang dimakamkan, yang ditulis dalam bahasa Belanda. Pembagian ini melambangkan tingkat diskriminasi sosial yang tinggi pada masa kolonial waktu itu.

Makam yang ada di Peneleh ini menampung kurang lebih 33.000 jenazah dan beberapa makam disana merupakan milik tokoh penting pada masa kolonial seperti Paul Francois Corneille yaitu seorang Letnan Kolonel Artileri yang menjabat sebagai Direktur Artileri Constructie Winkel yaitu pusat produksi senjata terbesar di Hindia Belanda yang berbasis di Surabaya, ada juga Pierre Jean Baptiste de Perez Wakil Direktur Mahkamah Agung Hindia Belanda dan komisaris di beberapa perusahaan besar ia juga pernah menjabat sebagai Residen Surabaya dan Gubernur Sulawesi.

Disana juga terdapat makam Ohannes Kurkdjian yaitu seorang fotografer yang terkenal pada masanya yang hasil jepretannya saat ini banyak beredar di internet, kemudian ada juga makam seorang yang diakui sebagai pionir linguistik modern untuk beberapa bahasa yang digunakan di Nusantara, termasuk bahasa Melayu, Jawa, Sunda, Batak, Toba, Lampung, Kawi (Jawa Kuno), dan Bali yaitu Herman Neubronner van der Tuuk dan yang terakhir ada juga makam Pieter Merkus yaitu seorang Gubernur Jenderal Hindia Belanda ke-47. Keberadaan makam-makam orang penting tersebut menjadikan kuburan Peneleh sebagai semacam museum sejarah terbuka.

Ornamen marmer, patung malaikat, hingga simbol-simbol khas Eropa masih dapat ditemukan meski sebagian telah termakan usia. Salah satu bagian yang paling menarik perhatian adalah bangunan ossuarium atau yang dikenal masyarakat sebagai “Omah Balung” (Rumah Tulang). Bangunan ini dahulu digunakan untuk menyimpan tulang-belulang dari makam yang masa sewanya telah habis ketika lahan pemakaman mulai penuh.

2. Kuburan Belanda Kembang Kuning

Kuburan Belanda Kembang Kuning atau yang kerap disebut makam Ereveld Kembang Kuning adalah pemakaman Belanda yang lokasinya berada di antara pemakaman umum Kembang Kuning. Kawasan ini dikelola oleh yayasan Oorlogsgravenstichting (OGS) dan berada di bawah pengawasan Kedutaan Besar Belanda yang didirikan sebagai pemakaman kehormatan Belanda di Surabaya.

Ereveld Kembang Kuning ini didirikan pada tahun 1947 yang dibangun untuk mengenang korban para tentara KNIL Belanda di pulau Jawa. Selain itu, di sini terdapat monumen Karel Doorman, monumen yang didirikan untuk penghormatan kepada para personel Angkatan Laut Belanda yang gugur dalam Pertempuran Laut Jawa pada tanggal 27 Februari 1942.

Kuburan Belanda di Surabaya
Kuburan Belanda Surabaya Peneleh (foto: Instagram @lengkong_sanggar_)

Ereveld Kembang Kuning merupakan salah satu kompleks pemakaman perang terbesar di Indonesia. Tempat ini menjadi peristirahatan terakhir bagi lebih dari 5.000 korban perang, baik warga Belanda maupun Indonesia, yang gugur selama Perang Dunia II dalam pertempuran melawan Jepang pada 1941–1945 serta pada masa Revolusi Kemerdekaan Indonesia tahun 1945–1949. Hingga kini, pemakaman tersebut menjadi pengingat penting akan sejarah perang dan perjuangan yang pernah terjadi di Surabaya.

Di dalam area Ereveld, pengunjung akan menemukan deretan nisan putih yang tersusun sangat rapi. Makam ini memiliki view seperti sebuah taman dan kompleks pemakaman ini kini menjadi salah satu situs sejarah kolonial paling penting di Surabaya dan sering dikunjungi peneliti maupun pecinta sejarah.

Itulah kedua daftar Kuburan Belanda Surabaya yang punya kisah masa lalu dibaliknya. Kuburan Belanda Peneleh dan Kembang Kuning tidak hanya sekedar tempat pemakaman, keduanya merupakan saksi perjalanan panjang Surabaya dari masa kolonial hingga era modern. Di balik kesan sunyi dan menyeramkan, tersimpan kisah tentang kehidupan masyarakat Eropa, peperangan, hingga perkembangan Kota Surabaya yang dahulu menjadi salah satu kota terpenting di Hindia Belanda.

Bagi pencinta sejarah, mengunjungi dua kuburan Belanda Surabaya ini dapat menjadi pengalaman unik untuk melihat langsung jejak masa lalu yang masih bertahan hingga sekarang.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id

Writer : Devi Ismayanti/Magang

Editor: Mochamad Abdurrochim

 

Tags: Berita Kota Surabaya hari iniberita Surabayaberita Surabaya hari iniKota SurabayaKota Surabaya hari inikuburan Belanda di SurabayaMakam Belanda di SurabayaSurabaya
Mochamad Abdurrochim

Mochamad Abdurrochim

Related Stories

Makam Gus Dur

Ziarah ke Makam Gus Dur Jombang, Ini Tips agar Perjalanan Nyaman

by Mochamad Abdurrochim
19/06/2026 11:00 AM
0

JOMBANG, Tugujatim.id – Makam KH. Abdurrohman Wahid atau yang lebih dikenal Gus Dur menjadi salah satu destinasi wisata religi paling...

Malang

Street Food Malang Murah 10 Ribuan yang Rasanya Bintang 5

by Mochamad Abdurrochim
19/06/2026 10:30 AM
0

MALANG, Tugujatim.id – Malang tidak hanya terkenal sebagai kota wisata dengan udara sejuk dan deretan destinasi menarik. Kota ini juga...

Kampung warna-warni Malang

Kampung Warna-Warni Malang: Spot Foto 1001 Warna + Jam Sepi Pengunjung

by Mochamad Abdurrochim
19/06/2026 10:00 AM
0

MALANG, Tugujatim.id – Di tengah padatnya kawasan perkotaan Malang, terdapat sebuah destinasi wisata yang berhasil menarik perhatian wisatawan berkat tampilannya...

Air terjun Jawa Timur

5 Air Terjun Jawa Timur yang Airnya Sebiru Tosca, Lokasinya di Mana Saja?

by Mochamad Abdurrochim
19/06/2026 9:45 AM
0

Tugujatim.id - Jawa Timur wisata alam yang terkenal dan menarik perhatian pengunjung tidak hanya pegunungan dan pantainya saja, tetapi juga...

Next Post
Arisan Emas

Arisan Emas di Pegadaian Jombang, Solusi Investasi Aman Tanpa Khawatir Harga Naik Turun

Merawat Jawa Timur

  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Info Kerjasama
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Hubungi Kami

© 2025 Tugu Jatim ID

No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial

© 2025 Tugu Jatim ID