Tugujatim.id – Stasiun tertua Jawa Timur menjadi bagian penting dari perjalanan panjang sejarah perkeretaapian di Indonesia. Dibangun sejak masa pemerintahan Hindia Belanda pada akhir abad ke-19, sejumlah stasiun di provinsi ini awalnya hadir untuk mendukung aktivitas perdagangan, perkebunan, serta mobilitas masyarakat.
Seiring berjalannya waktu, bangunan-bangunan stasiun peninggalan kolonial tersebut masih bertahan hingga kini. Sebagian di antaranya tetap aktif melayani perjalanan kereta api antarkota maupun lokal, sekaligus menjadi saksi perkembangan transportasi rel di Jawa Timur selama lebih dari satu abad.
Bagi pencinta sejarah maupun wisata heritage, berikut deretan Stasiun tertua Jawa Timur yang masih beroperasi hingga saat ini.
1. Stasiun Surabaya Kota (Semut)
Stasiun Surabaya Kota atau yang lebih dikenal sebagai Stasiun Semut merupakan salah satu stasiun tertua di Jawa Timur. Stasiun ini mulai beroperasi pada 16 Mei 1878 dan dibangun oleh perusahaan kereta api swasta Staatsspoorwegen (SS).
Bangunannya masih mempertahankan arsitektur khas kolonial dengan sejumlah elemen asli yang tetap terawat. Hingga kini, Stasiun Surabaya Kota masih melayani berbagai perjalanan kereta api jarak menengah dan lokal serta menjadi salah satu ikon sejarah Kota Surabaya.
Lokasi: Jalan Stasiun Kota No. 9, Bongkaran, Kecamatan Pabean Cantikan, Kota Surabaya.
2. Stasiun Surabaya Gubeng
Dibuka pada tahun 1878, Stasiun Surabaya Gubeng menjadi salah satu pusat transportasi terbesar di Jawa Timur. Awalnya, stasiun ini dibangun sebagai bagian dari jalur Surabaya–Pasuruan yang menjadi penghubung penting pada masa kolonial.
Kini, Stasiun Gubeng menjadi stasiun utama di Surabaya yang melayani berbagai kereta api antarkota tujuan Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Malang, Banyuwangi, hingga Jember. Bangunan lama bergaya kolonial masih berdiri berdampingan dengan gedung modern yang dibangun untuk meningkatkan kapasitas pelayanan.
Lokasi: Jalan Gubeng Masjid, Pacar Keling, Kecamatan Tambaksari, Kota Surabaya.
3. Stasiun Pasuruan
Stasiun Pasuruan mulai beroperasi pada tahun 1878 sebagai bagian dari jalur kereta api Surabaya–Pasuruan. Sejak awal dibangun, stasiun ini berperan penting dalam mengangkut hasil perkebunan dan komoditas perdagangan dari wilayah Pasuruan menuju Pelabuhan Surabaya.
Saat ini, Stasiun Pasuruan masih aktif melayani kereta api antarkota maupun kereta lokal. Bangunan stasiunnya masih mempertahankan nuansa klasik dengan beberapa bagian yang telah direvitalisasi agar tetap nyaman bagi penumpang.
Lokasi: Jalan Stasiun No. 1, Trajeng, Kecamatan Panggungrejo, Kota Pasuruan.
4. Stasiun Bangil
Stasiun Bangil di Kabupaten Pasuruan mulai beroperasi pada tahun 1879. Keberadaannya sangat strategis karena menjadi titik pertemuan beberapa jalur kereta api, termasuk menuju Malang, Surabaya, dan Probolinggo.
Karena perannya yang penting dalam jaringan perkeretaapian Jawa Timur, Stasiun Bangil terus berkembang hingga kini. Bangunannya telah mengalami renovasi tanpa menghilangkan karakter sejarah yang dimilikinya.
Lokasi: Jalan Mangga No. 1, Kiduldalem, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan.
5. Stasiun Malang Kotalama
Sebelum Stasiun Malang menjadi stasiun utama seperti sekarang, Stasiun Malang Kotalama telah lebih dahulu beroperasi sejak tahun 1879. Stasiun ini menjadi bagian dari jalur Bangil–Malang yang dibangun untuk mendukung aktivitas ekonomi di wilayah Malang.
Meski kini lebih banyak melayani perjalanan kereta api lokal dan beberapa kereta antarkota tertentu, Stasiun Malang Kotalama tetap aktif beroperasi. Bangunan bergaya kolonialnya masih menjadi daya tarik bagi pencinta sejarah.
Lokasi: Jalan Kolonel Sugiono, Ciptomulyo, Kecamatan Sukun, Kota Malang.
6. Stasiun Mojokerto
Stasiun Mojokerto mulai beroperasi sekitar tahun 1880 bersamaan dengan pengembangan jalur Surabaya–Madiun. Stasiun ini menjadi salah satu penghubung penting bagi mobilitas masyarakat dan distribusi hasil pertanian di wilayah Mojokerto.
Kini, Stasiun Mojokerto melayani berbagai kereta api antarkota maupun kereta ekonomi yang menghubungkan sejumlah kota besar di Pulau Jawa. Letaknya yang berada di pusat kota membuat stasiun ini selalu ramai oleh penumpang.
Lokasi: Jalan Bhayangkara No. 39, Miji, Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto.
7. Stasiun Sidoarjo
Stasiun Sidoarjo merupakan salah satu stasiun bersejarah yang telah beroperasi sejak sekitar tahun 1878–1879. Kehadirannya menjadi bagian penting dari jalur Surabaya menuju wilayah timur Jawa.
Saat ini, Stasiun Sidoarjo masih aktif melayani kereta api komuter, kereta lokal, hingga beberapa kereta jarak jauh. Lokasinya yang berada di pusat Kabupaten Sidoarjo menjadikannya salah satu simpul transportasi utama di kawasan tersebut.
Lokasi: Jalan Gajah Mada, Lemahputro, Kecamatan Sidoarjo, Kabupaten Sidoarjo.
8. Stasiun Kertosono
Stasiun Kertosono mulai beroperasi pada tahun 1881 dan menjadi salah satu simpul perkeretaapian terpenting di Jawa Timur. Stasiun ini menghubungkan jalur menuju Surabaya, Madiun, Kediri, dan Jombang sehingga memiliki peran strategis sejak masa kolonial.
Hingga kini, hampir seluruh kereta api jarak jauh yang melintasi jalur selatan maupun tengah Pulau Jawa berhenti di Stasiun Kertosono.
Lokasi: Jalan Stasiun, Banaran, Kecamatan Kertosono, Kabupaten Nganjuk.
9. Stasiun Madiun
Stasiun Madiun resmi beroperasi pada tahun 1882 sebagai bagian dari pengembangan jalur kereta api menuju wilayah barat Jawa Timur.
Selain menjadi pusat pelayanan kereta api, kawasan ini juga berkembang menjadi lokasi Balai Yasa Madiun, salah satu fasilitas perawatan kereta api terbesar milik PT Kereta Api Indonesia (Persero). Hingga kini, Stasiun Madiun tetap menjadi salah satu stasiun tersibuk di wilayah Daerah Operasi 7 Madiun.
Lokasi: Jalan Kompol Sunaryo, Madiun Lor, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun.
10. Stasiun Jember
Stasiun Jember mulai beroperasi pada tahun 1897 dan menjadi pintu utama transportasi kereta api di wilayah Tapal Kuda. Sejak awal pembangunannya, stasiun ini berperan penting dalam mendukung distribusi hasil perkebunan kopi, tembakau, dan komoditas lainnya dari kawasan Jember menuju Surabaya.
Kini, Stasiun Jember melayani berbagai kereta api jarak jauh menuju Surabaya, Yogyakarta, Jakarta, Banyuwangi, hingga lintas Pulau Jawa lainnya. Bangunannya juga telah mengalami modernisasi tanpa meninggalkan nilai sejarah yang dimilikinya.
Lokasi: Jalan Wijaya Kusuma No. 5, Kepatihan, Kecamatan Kaliwates, Kabupaten Jember.
Warisan Sejarah yang Tetap Hidup
Keberadaan stasiun tertua Jawa Timur menunjukkan bahwa infrastruktur perkeretaapian di provinsi ini telah berkembang sejak lebih dari satu abad lalu. Meski telah mengalami berbagai perubahan dan modernisasi, banyak stasiun peninggalan masa kolonial yang masih mempertahankan karakter arsitektur aslinya sekaligus tetap menjalankan fungsi sebagai pusat transportasi.
Bagi masyarakat maupun wisatawan, deretan stasiun tersebut bukan hanya menjadi tempat naik dan turun kereta, tetapi juga menyimpan nilai sejarah yang penting dalam perjalanan perkembangan transportasi di Indonesia. Mengunjungi stasiun-stasiun ini menjadi cara sederhana untuk menikmati jejak sejarah sambil melihat bagaimana bangunan berusia ratusan tahun masih berfungsi hingga sekarang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer : Annisa Syalsyavia/Magang
Editor: Mochamad Abdurrochim







