BLITAR, Tugujatim.id – Hari pertama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Kota Blitar diwarnai potret minimnya jumlah murid baru di sejumlah sekolah negeri. Salah satunya terjadi di SDN 3 Sukorejo, Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar, yang tercatat hanya mendapatkan 5 siswa baru pada tahun ajaran kali ini.
Kepala SDN 3 Sukorejo Agung Mukhlis mengungkapkan bahwa meski hanya diikuti oleh lima siswa, pelaksanaan MPLS di hari pertama tetap berjalan lancar dan ceria. Sesuai dengan acuan pemerintah, kegiatan dikemas secara ramah anak.
Baca Juga: Toko Seragam di Blitar Diserbu Pembeli Jelang Tahun Ajaran Baru, Sehari Laku 300 Potong
“Hari pertama MPLS di SD kami diikuti oleh lima siswa. Setelah upacara pembukaan, anak-anak diajak membuat kelompok untuk saling memperkenalkan diri,” ujar Agung saat ditemui TuguJatim.id di ruang kelas, Senin (13/07/2026).
Agung menjelaskan, materi MPLS tahun ini berfokus pada gerakan transisi yang menyenangkan. Di antaranya gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, gerakan rukun dengan teman, serta edukasi mengenai pentingnya makanan bergizi.
Faktor Penyebab: Kelulusan TK Sedikit hingga Persaingan Ketat
Kondisi minimnya siswa baru di SDN 3 Sukorejo ternyata bukan hal baru. Pada tahun lalu, sekolah ini juga hanya menjaring 5 siswa baru. Menurut Agung, ada beberapa faktor yang melatarbelakangi tren penurunan ini.
Pertama, jumlah lulusan dari taman kanak-kanak (TK) di sekitar sekolah memang sedang menyusut.
“Kebetulan di sekolah kami, TK terdekat seperti TK PKK 1 dan TK PKK 2, jumlah siswa yang lulus juga sedikit. Dampaknya tentu ke sekolah kami,” jelasnya.

Faktor kedua adalah letak geografis sekolah yang berada di zonasi padat lembaga pendidikan, sehingga memicu persaingan yang sangat kompetitif.
Di sepanjang Jalan Bungur saja, terdapat SDI Sukorejo dan SDN 1 Sukorejo. Belum lagi di sisi utara terdapat SDN 2 Sukorejo dan SDN Kauman 1. Saat ini, total keseluruhan murid di SDN 3 Sukorejo dari kelas 1 hingga kelas 6 berkisar 60 siswa.
Untuk menyiasati hal ini ke depan, pihak sekolah mengaku sudah menyiapkan sejumlah strategi guna merebut hati wali murid.
“Setiap akhir Desember kami rutin sosialisasi dengan mengundang anak-anak TK ke sekolah, misalnya lewat lomba melukis agar mereka kenal dengan lingkungan kami. Target ke depan, kami juga berencana mengadakan program pembinaan calistung (baca, tulis, hitung),” tambah Agung.
Respons Dinas Pendidikan Kota Blitar
Fenomena sekolah kekurangan murid ini mendapat perhatian serius dari Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Blitar. Kepala Dispendik Kota Blitar Dindin Alinurdin membenarkan bahwa ada beberapa SD negeri yang jumlah murid barunya di bawah 10 anak, utamanya di wilayah Kecamatan Sukorejo.
“Untuk sekolah yang wilayah sekitarnya memang kekurangan anak usia sekolah, tentu tidak bisa kami intervensi (secara instan). Namun, yang paling penting kami mendorong sekolah-sekolah di Kota Blitar untuk terus meningkatkan kualitas layanan pendidikannya,” kata Dindin beberapa waktu lalu.
Baca Juga: Fasilitas Gratis Sekolah Rakyat Kota Blitar Dipuji, Orang Tua Ketar-ketir soal Sistem Asrama
Dindin menekankan bahwa perbaikan ini harus menjadi komitmen bersama antara sekolah, dinas, lingkungan sekitar, hingga orang tua murid agar masyarakat tidak ragu menyekolahkan anaknya di sekolah terdekat.
Meski tahap Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) telah selesai, Dispendik Kota Blitar tidak tinggal diam. Saat ini, mereka tengah melakukan penjaringan intensif yang difokuskan pada Anak Tidak Sekolah (ATS).
“Kami saat ini berkoordinasi dengan pihak kelurahan dan kecamatan untuk menjaring anak-anak ATS agar bisa kembali mengenyam bangku pendidikan,” tegas Dindin.
Selain SDN 3 Sukorejo, berdasarkan data yang dicatat Dispendik Kota Blitar per 3 Juli lalu, terdapat 6 SDN lainnya dengan jumlah pendaftar kurang dari 10 siswa pada SPMB tahun ini, yaitu SDN 1 dan 2 Sukorejo, SDN 1 Rembang, SDN 2 Kauman, SDN 3 Karangtengah, dan SDN 3 Kepanjenlor.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: M. Luki Azhari
Editor: Dwi Lindawati








