SURABAYA, Tugujatim.id – Di tengah kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), puluhan siswa Sekolah Dasar (SD) Karya Putra harus masuk sekolah mesti kondisi kelas terendam air akibat fenomena alam banjir rob. Akibatnya, siswa SD Karya Putra belajar dengan memakai sandal di kelas.
Genangan air memasuki kawasan sekolah dan merendam hingga 2 kelas. Walaupun harus belajar dengan kondisi ruang kelas yang terendam air, para siswa terlihat tetap antusias mengikuti pelajaran.
Pihak sekolah pun memilih tetap mengelar kegiatan belajar mengajar dengan melakukan beberapa penyesuaian, dimana anak anak diperbolehkan menggunakan sandal selama mengikuti pelajaran di sekolah.
Guru SD Karya Putra Nanda mengatakan, sekolah ini telah berdiri sejak 1997-an dan memang sudah menjadi langganan banjir rob. Sekolah yang saat ini memiliki sekitar 195 siswa ini telah terbiasa menghadapi banjir rob, dan para siswa biasanya diminta membawa sandal sebagai antisipasi.
“Kalau besar baru semuanya terendam. Kalau tidak terlalu besar ya biasanya dua kelas ini yang sering kena,” kata Nanda, Kamis (16/07/2026).
Baca Juga: Banjir Rob rendam Pesisir Pasuruan, Ketinggian Air Capai 50 Sentimeter
Menurut Nanda, banjir rob akhir-akhir ini lebih sering datang akibat proyek normalisasi Sungai Kalianak yang terletak hanya beberapa meter dari sekolah.
“Mulai ada pelebaran sungai itu malah tambah sering,” tambahnya.

Sementara itu, guru lain, Yuli menuturkan, siswa sudah terbiasa menghadapi banjir rob. Karena itu, pihaknya tetap menggelar kegiatan belajar mengajar di sekolah. Banjir rob biasanya terjadi antara 2 hingga 3 kali dalam sebulan dan meski sekolah telah berupaya melakukan perbaikan infrastruktur seadanya, kendala biaya membuat penanganan banjir belum maksimal.
“Saat rob datang, para siswa terbiasa memakai sendal, serta harus berangkat dan pulang sekolah dengan digendong oleh orang tua mereka,” tuturnya.
Banjir Rob Menjadi Bagian Kehidupan Warga
Sementara itu salah satu warga, Kalianak Timur, Hendro menjelaskan, jika warga telah terbiasa dengan fenomena banjir rob dan sudah menjadi bagian dari rutinitas dan kehidupan sehari-hari. Akan tetapi dirinya melihat banjir rob ketinggiannya meningkat beberapa tahun terakhir ini.
Menurut dia, sedikitnya lima RT di kawasan tersebut terdampak setiap kali banjir rob datang. Meski demikian, warga memilih tetap beraktivitas seperti yang sudah mereka lakukan selama puluhan tahun.
Baca Juga: BMKG Imbau Warga Pesisir Jawa Timur Waspada Banjir Rob pada 6-9 November
“Saya 63 tahun di sini ya sudah banjir. Tapi akhir-akhir ini makin parah tingginya,” pungkas Hendro.
Banjir rob tidak hanya menggenangi kawasan sekolah dan pemukiman, tetapi juga meluber hingga ke jalan Kalianak. Akibatnya kendaraan pribadi hingga truk harus melaju perlahan saat melintas. Kendaraan yang melintas pun terpaksa memperlambat lajunya, sehingga menimbulkan kemacetan yang cukup panjang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Husni Habib
Editor: Dwi Lindawati








