Tugujatim.id – Hari Rabu terakhir dalam bulan Safar tahun ini jatuh pada Selasa, 5 Oktober 2021 M/27 Shafar 1443 H, terdapat tradisi yang dikenal dengan istilah Rebo Wekasan atau Rabu Pungkasan.
Rebo Wekasan adalah sebuah ritual tradisi masyarakat Jawa pada hari Rabu terakhir bulan Safar atau bulan ke dua penanggalan Hijriyah. Adapun nama lain dari Rebo Wekasan ini adalah Rabu Pamungkas, Arba Mustakmir, atau Arba Musta’mir.
Masyarakat Jawa memiliki banyak tradisi yang dilakukan dalam bulan Safar, salah satunya adalah tradisi amalan Rebo Wekasan. Tradisi ini bertujuan untuk menolak bala yang dipercaya bahwa bulan Safar adalah bulan penuh bala atau sial.
Bagi ulama yang percaya akan tradisi ini, mereka menyarankan untuk melaksanakan amalan-amalan baik agar terhindar dari bencana pada hari tersebut.
Doa dan Amalan di Rebo Wekasan:
1. Shalat hajat li daf’il bala’ (shalat hajat tolak bala’)
Pelasakanaan salat ini dimulai pada Selasa dari asar hingga maghrib. Atau bisa juga dilakukan pada waktu asar hingga maghrib di hari Rabu.
Shalat ini dilaksanakan empat rakaat, baik dengan dua tasyahud satu salam maupun dua tasyahud dua salam.
Jika dua tasyahud satu salam, maka niatnya sebagai berikut:
أُصَلِّيْ سُنَّةَ الْحَاجَةِ لِدَفْعِ الْبَلاءِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ لِلهِ تَعَالَى
Sementara jika dua tasyahud dua salam, maka niatnya adalah sebagai berikut:
أُصَلِّيْ سُنَّةَ الْحَاجَةِ لِدَفْعِ الْبَلاءِ رَكْعَتَيْنِ لِلهِ تَعَالَى
Setelah membaca al-Fatihah, kemudian membaca Surat al-Kautsar 17 kali, Surat al-Ikhlash 5 kali, Surat al-Falaq 1 kali dan Surat an-Nas 1 kali. Hal ini dilakukan tiap rakaat. Artinya tiap rakaat membaca semua surat tersebut.
2. Doa mohoh dijauhkan dari segala jenis bala’:
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ اللَّهُمَّ يَا شَدِيْدَ الْقُوَى وَيَا شَدِيْدَ الْمِحَالِ يَا عَزِيْزُ ذَلَّتْ لِعِزَّتِكَ جَمِيْعُ خَلْقِكَ اِكْفِنِيْ مِنْ جَمِيْعِ خَلْقِكَ يَا مُحْسِنُ يَا مُجَمِّلُ يَا مُتَفَضِّلُ يَا مُنْعِمُ يَا مُكْرِمُ يَا مَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا أَنْتَ اِرْحَمْنِيْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ .اللهم بِالسِّرِّ االْحَسَنِ وَأَخِيْهِ وَجَدِّهِ وَأَبِيْهِ وَأُمِّهِ وَبَنِيْهِ اِكْفِنِيْ شَرَّ هَذَا الْيَوْمِ وَمَا يَنْزِلُ فِيْهِ يَا كَافِيَ الْمُهِمَّاتِ يَا دَافِعَ الْبَلِيَّاتِ
فَسَيَكْفِيْكَهُمُ اللهُ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَحَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ اِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَصَلىَّ اللهُ تَعَالىَ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ الِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ (٣x)
“Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ya Allah, yang Maha sangat kekuatannya, yang Maha Kuat KepastianNya. Wahai Allah yang Maha Mulia, wahai Dzat yang karena karena kemulyaanMu seluruh maklukMu rendah, peliharalah saya dari kejelekan seluruh MakhlukMU. Wahai Allah yang memberikan kebaikan, kelebihan, kenikmatan dan kemulyaan. Wahai Dzat yang tidak ada Tuhan kecuali Engkau, sayangilah saya dengan kasih sayangMu. Wahai Allah yang Maha memberi Rahmat, Ya Allah dengan rahasia (sirrinya sayyidina Hasan, cucu Nabi) dan saudaranya, dan kakeknya, ayahnya, ibunya, anak-anaknya, peliharalah saya dari kejelekan hari ini dan segala kejelekan segala yang terjadi di dalamnya. Wahai Allah yang Maha Memelihara atau mencukupi orang-orang susah, Wahai Allah yang Maha menolak bala’ (cobaan).”
3. Membaca ayat kursi sesuai jumlah hari, yaitu 360 kali
4. Amalan-amalan, seperti bersedekah, silaturrahim, dan lain sebagainya yang dalam syari’at Islam memang digunakan untuk daf’ul bala’ (tolak bala’)