KEDIRI, Tugujatim.id– Kediri terkenal sebagai Kota Tahu namun nyatanya produksi komoditas kedelai petani di daerah ini masih sangat rendah. Bahkan, menurut data Badan Pusat Statistika (BPS) di tahun 2020 tidak ada petani yang menanam kedelai. Hal ini disebabkan nilai ekonominya rendah dibanding komoditas tanaman lain.
Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Perkebunan (Dispertabun) Kabupaten Kediri, Tri Retnani Yeni Astuti, membenarkan terkait rendahnya produksi kedelai di daerahnya.
Dia mengatakan, tahun 2020 memang petani tidak mau menanam komoditas kedelai. Sedangkan pada tahun 2021 hanya ada 50 hektare lahan yang ditanam kedelai dengan hasil sekitar 105 ton.
“Tahun 2021 hanya ada 1 kelompok tani di Kecamatan Mojo dengan luasan 50 hektare, sedangkan di tahun 2022 ini dengan kelompok yang sama tanamnya masih pada bulan Juli dan Agustus 2022,” ungkapnya.
Yeni, pangilan akrabnya, menambahkan banyak petani yang enggan membudidayakan tanaman famili leguminose tersebut. Hal itu lantaran nilai ekonominya rendah dibanding komoditas yang lain seperti jagung. Dia mencontohkan hasil budidaya Kediri per hektare menghasilakan sekitar 2 ton, dengan harga Rp 8.500. Maka, petani hanya mendapat Rp 20 juta per ha. Sedangkan untuk tananaman jagung hasil per hektar sekitar 7 ton, pedapatan petani paling sedikit Rp 28 juta.
“Sehingga petani lebih memilih tanaman jagung daripada kedelai, bukan berarti lahan kosong, cuma ditanamani komoditas lain,” tambahnya.
Dia menyampaikan upaya pemerintah untuk peningkatan produksi kedelai di Kabupaten Kediri terus dilakukan. Yaitu salah satunya memberikan bantuan kepada petani berupa paket benih, mikoriza, pupuk kimia, dan pupuk hanyati. Namun, respon petani masih sedikit. Sehingga, produksi kedelai di Kediri masih belum mampu memenuhi kebutuhan kedalai di daerah.
“Petani tidak mau kalau mandiri, sebab nilai hasilnya masih lebih rendah,” pungkas Yeni.







