SURABAYA, Tugujatim.id – Kelangkaan BBM subsidi dimanfaatkan pria berinisial SRW, warga Kota Surabaya, untuk meraih banyak keuntungan. Tapi, pergerakan dia dalam mengangkut dan menjual kembali dengan harga di luar pasaran terendus Direktorat Kepolisian Air dan Udara (Ditpolairud) Polda Jatim.
Pelaku SRW diringkus di Pelabuhan Dungkek, Sumenep, Madura, Selasa (05/04/2022), sekitar pukul 20.00. Dia diduga mengangkut dan niaga BBM subsidi pemerintah berjenis solar dan pertalite.
Dirpolairud Polda Jatim Kombes Pol Puji Hendro Wibowo menjelaskan, pengungkapan kasus BBM subsidi ini berdasarkan adanya informasi dari masyarakat. Sebab, di daerah Dengkek Sumenep terjadi kelangkaan BBM.
Laporan masyarakat itu diberikan kepada Tim Satgas Gakkum BBM Ditpolairud Polda Jatim. Setelah mendengar laporan itu, tim langsung melakukan pemantauan dan pengawasan di daerah Sumenep. Setelah beberapa hari dilakukan penyelidikan, baru didapatkan informasi valid.
“Dari informasi tadi tim bergerak mengecek di lapangan soal kelangkaan BBM subsidi. Akhirnya didapat informasi valid di tempat kejadian perkara (TKP) Pelabuhan Dengkek, Sumenep, terjadi dugaan pengangkutan niaga BBM,” kata Dirpolairud Kombes Pol Puji Hendro Wibowo pada Rabu (13/04/2022).

Setelah itu, tim langsung mengamankan pelaku serta kendaraan roda empat jenis pickup. Dalam mobil itu, pelaku mengangkut 4,5 ton bio solar dan pertalite. Ada dua cara yang digunakan pelaku dalam melancarkan aksi jahatnya itu.
Pertama, pelaku menggunakan surat rekomendasi yang dikeluarkan oleh instansi terkait. Seharusnya digunakan untuk sekali angkut. Namun, pelaku menggunakan surat rekomendasi sampai 3 kali. Selanjutnya, dia mengambil BBM subsidi menggunakan mobil. Dan mobil itu dimodifikasi untuk bisa diisi berkali-kali di SPBU. Dalam mobil itu juga ada jerigen untuk menampung BBM.
“Tim Satgas BBM Ditpolairud mengamankan 90 jerigen BBM. Sebanyak 50 jerigen berisi bio solar dan 40 jerigen lainnya berisi pertalite. Beratnya kurang lebih 4,5 ton,” tambahnya.
Tindakan itu dilakukan terdakwa sudah empat kali. BBM dijual kembali dengan pelaku dengan harga yang berbeda di pasaran. Kalau bio solar awalnya dijual Rp5.150 per liter. Pelaku menjual kembali Rp6.500 per liter.
“Selisih Rp 1.350 ribu per liter,” ungkapnya.
Sementara kalau BBM jenis pertalite, pelaku awalnya membeli dengan harga Rp7.650 ribu per liter. Namun, dijual kembali dengan harga Rp8.700 per liter.
“Selama melakukan kegiatan tersebut, pelaku mendapatkan keuntungan sekali angkut sebesar Rp50 juta dan jika 4 kali mendapat Rp200 juta,” ujarnya.
—
Terima kasih sudah membaca artikel kami. Ikuti media sosial kami yakni Instagram @tugujatim , Facebook Tugu Jatim ,
Youtube Tugu Jatim ID , dan Twitter @tugujatim








