MALANG, Tugujatim.id – Kampoeng Wisata Keramik Dinoyo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang adalah sentra industri keramik yang ikonik di Kota Dingin ini. Sejak 1957, kampung ini sudah eksis dan dikenal sebagai penghasil gerabah dan perlengkapan rumah tangga. Namun kini, lokasi industri ini sudah jarang dikunjungi wisatawan meskipun produksinya terus jalan.
Menurut Syamsul Arifin, salah satu pemilik usaha kerajinan keramik di Dinoyo, seni kriya gerabah di Dinoyo ini memiliki sejarah cukup panjang dan diwariskan secara turun-temurun dari nenek moyang masyarakat di sana.
Setelah keramik Cina masuk ke Indonesia, masyarakat lalu mengembangkan keramik mereka menjadi keramik semi porselen. Bahannya juga beralih dari tanah persawahan menjadi tanah liat putih.
“Sampai saat ini, pengrajin keramik di Dinoyo masih menggunakan perpaduan bahan tersebut untuk membuat keramik dengan kualitas yang bagus,” kata dia saat ditemui di kediamannya pada Kamis (9/6/2022).
Masyarakat Dinoyo merintis industri kerajinan keramik mereka secara rumahan. Seiring berjalannya waktu, usaha rumahan milik masyarakat yang mulanya bertempat tinggal di wilayah persawahan ini berkembang menjadi salah satu sentra industri di Kota Malang.
Pada tahun 1998, lanjut Syamsul, masyarakat merintis Kampoeng Wisata Keramik Dinoyo atas instruksi pemerintah secara bersama-sama sebagai tempat wisata dan edukasi bagi pengunjung baik dari dalam maupun luar Kota Malang.

Perkembangan selanjutnya pada tahun 2010, masyarakat Dinoyo membentuk paguyuban bagi pengrajin dan pedagang keramik Dinoyo. Paguyuban ini bertujuan menjaga komunikasi antar pengrajin dan pedagang keramik di Dinoyo, serta mampu mngembangkan industri kerajinan keramik bersama-sama.
Jumlah industri rumahan di Kampoeng Wisata Keramik Dinoyo mengalami perubahan dari awal berdiri hingga saat ini. Angkanya semakin menurun.
“Dulu pernah sampai 50-an pengrajin, tapi sekarang ada kurang lebih 23”, imbuh Syamsul.
Dia mengatakan bahwa jumlah tersebut berubah dikarenakan berkurangnya pendapatan dan kunjungan dari pelanggan, terlebih selama pandemi. Omzetnya per hari juga turun drastis.

“Omzet juga terpengaruh banget selama pandemi ini. Dulu pas rame bisa dapet Rp 10 juta perhari, tapi kalau pandemi omzet dapet Rp 1-2 juta perhari soalnya sepi. Ada yang gulung tikar juga,” ucapnya.
Adapun harga dari produk yang dijual oleh pengrajin di kampung keramik Dinoyo bervariasi, mulai dari Rp 5 ribu hingga jutaan rupiah tergantung ukuran dan kesulitan pembuatannya.
Menurut Syamsul, hasil kerajinan masyarakat Dinoyo dipasarkan hingga ke luar kota seperti Bali, Kalimantan, Jakarta, Yogyakarta, Lampung, dan Surabaya.
Sementara Bu Am, pengrajin keramik lainnya, mengatakan bahwa dalam satu minggu normalnya pengrajin dapat melakukan pengiriman sebanyak dua sampai tiga kali sedangkan selama pandemi pengrajin hanya mengirim sekali saja dalam seminggu.
“Hal ini tak sebanding dengan jumlah keramik yang dihasilkan perhari. Ditambah lagi dengan kesulitan yang dialami selama proses pembuatan, seperti cuaca yang kurang mendukung dan kemungkinan produk gagal,” kata dia.
Dalam satu kali produksi, satu sentra dapat menghasilkan sekitar 500 buah keramik. Kemudian produk itu dibeli oleh tengkulak yang biasanya dalam jumlah banyak.
Selama ini untuk pemasaran produk mereka, pengrajin hanya mengandalkan toko yang dimiliki sebagai showroom dan menggunakan sosial media sebagai sarana promosi produk.

Menurut Bu Am, pemerintah sebenarnya juga memberikan perhatian terhadap kampung wisata ini, contohnya memberikan pelatihan kepada masyarakat mengenai proses pembuatan kerajinan keramik, namun jumlah pesertanya dibatasi dikarenakan pandemi.
Selain itu, pemerintah juga pernah memberikan bantuan berupa peralatan produksi dan perbaikan jalan. Sebelumnya, di kampung ini sering ramai pengunjung dari berbagai daerah yang ingin belajar proses pembuatan keramik.
—
Terima kasih sudah membaca artikel kami. Ikuti media sosial kami yakni Instagram @tugujatim , Facebook Tugu Jatim ,
Youtube Tugu Jatim ID , dan Twitter @tugujatim








