Catatan Mudik 26 -Kedai Kopi Cina Legendaris Warisan Pejuang Kemerdekaan Indonesia

Catatan Mudik 26 -Kedai Kopi Cina Legendaris Warisan Pejuang Kemerdekaan Indonesia

  • Bagikan
Kopi susu dan kopi O (kopi hitam) jadi varian minuman kopi terlaris di Kedai Kopi Kim Teng, Pekanbaru, Selasa, 10 Mei 2022.
Kopi susu dan kopi O (kopi hitam) jadi varian minuman kopi terlaris di Kedai Kopi Kim Teng, Pekanbaru, Selasa, 10 Mei 2022. (Foto: Abdi Purnomo)

PEKANBARU, Tugujatim.id — Hari belum begitu terang di Pekanbaru walau sudah hampir jam 7 pagi. Saya tiba di Ibu Kota Provinsi Riau itu pada Senin malam, 9 Mei 2022. Saya menginap satu malam di Sekretariat Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Pekanbaru dalam perjalanan mudik dari Kota Malang ke Kota Medan. Paginya, saya menerima sepotong pesan dari seorang jurnalis senior di Pekanbaru.

Ngopi di Kim Teng tuh asyiknya pagi, Bel. Kalau sudah siang, cocoknya di rumah makan Padang,” tulis Hasan Basril, sang pengirim pesan, Selasa, 10 Mei 2022. Hasan Basril salah seorang pendiri AJI Pekanbaru.

Hasan mengajak bertemu di sebuah kedai kopi legendaris di Pekanbaru yang bernama Kedai Kopi Tim Teng—sering ditulis Kimteng. Singkat cerita, saya dan Hasan bertemu di Kedai Kopi Kim Teng, bersama tiga anggota AJI Pekanbaru yang lain.

Mengunjungi Kedai Kopi Kim Teng laksana sebuah ritual wajib bagi para wisatawan. Ibaratnya, wisatawan jangan mengaku pernah mengunjungi Pekanbaru jika belum mencicipi kopi dan makanan di kedai kopi yang berdiri pada 1950 itu.

Bekas Ketua AJI Pekanbaru Fakhrurrozi Baidi mengatakan, Kedai Kopi Kim Teng sangat ternama di Provinsi Riau, khususnya di Kota Pekanbaru. Hampir setiap hari kedai ini dipenuhi pembeli. Bukan cuma masyarakat biasa, banyak pejabat pemerintahan, petinggi tentara dan polisi, serta bos perusahaan ngopi di sana.

“Kalau kita datang kesiangan, kita bisa tidak kebagian tempat di sini. Di akhir pekan, tempat ini ramai sekali sampai banyak orang yang antre,” kata Fakhrurrozi. Kedai Kopi Kim Teng buka mulai dari pukul 6 pagi sampai pukul 6 sore.

Benar saja, ruangan kedai yang jembar sudah dipenuhi pengunjung saat kami tiba. Ada sekitar 25 meja dan tiap meja dilengkapi empat kursi plastik. Untung masih ada satu meja kosong.

Terdapat enam gerai dagangan berjejer di area pintu masuk sehingga banyak menu pilihan. Pengelola Kedai Kopi Kim Teng memang menyediakan tempat bagi para pedagang, yang dikerjasamakan dengan sistem sewa maupun dengan bentuk kerja sama yang lain.

Kami memesan kopi susu, sate padang, mi ayam, soto medan, dan sop ikan. Sembari menanti pesanan, saya perhatikan hampir seluruh dinding ruangan ditempeli 27 papan iklan, mulai iklan konvensional sampai iklan digital, mulai iklan perbankan sampai iklan alat pertanian.

Di sisi kanan atas dinding ruang terpasang pula foto besar berlatar warna biru yang berbingkai hitam dan berlapis kaca. Bingkai foto ini berisi gambar seorang pria tua Cina berwibawa dalam balutan jas warna pastel. Sang pria berkacamata dan berpeci veteran. Di bagian kiri dada tergantung Bintang Gerilya dan tiga tanda kehormatan lain. Seluruh tanda kehormatan juga dibingkai kecil berwarna emas, persis di bawah foto besar.

“Itu bapak saya, Pak Kim Teng yang punya kedai ini. Saya anaknya, saya generasi kedua yang mengelola kedai ini setelah bapak wafat,” kata Pak Liong alias Kaliono Tenggana kepada saya seraya menunjuk foto. Kaliono anak sulung dari tujuh bersaudara, hasil pernikahan Kim Teng (1921-2003) dan Fei Poan.

Foto besar Tan Kim Teng, pemilik Kedai Kopi Kim Teng, seorang pejuang Kemerdekaan. (Foto: Abdi Purnomo)

Pak Kaliono kelahiran tahun 1945 alias sudah berusia 78 tahun, tapi masih ligat atau tangkas membuat puluhan cangkir kopi panas pesanan konsumen. Ia mewarisi keahlian meracik kopi lantaran sejak remaja terbiasa membantu orangtuanya di kedai.

Kaliono memastikan resep kopi tetap sama sejak kedai berdiri. Kopi yang dipakai jenis kopi arabika dari dataran tinggi Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi. Biji-biji kopi dipanggang, digiling, dan diseduh oleh Kim Teng.

“Kalau kopi di sini tidak enak, tentu usaha kami sudah tutup sejak lama. Kebanyakan orang ke sini untuk sarapan dan makan siang,” ujar Kaliono, seraya menambahkan kopi susu dan roti bakar srikaya jadi menu sarapan khas terlaris. Rotinya buatan keluarga Kim Teng.

Cita rasa sedap dan khas minuman kopi di Kedai Kopi Kim Teng sudah bertahan selama 72 tahun dan sebagian besar riwayatnya merujuk sosok Kim Teng. Kim Teng lahir di Singapura pada Maret 1921 dengan nama lengkap Tan Kim Teng. Ia anak ketiga dari lima bersaudara, hasil perkawinan Tan Lung Chiu dan Tan Mei Liang.

Suasana di Kedai Kopi Kim Teng, kedai kopi legendaris di Kota Pekanbaru, Provinsi Riau, Selasa pagi, 10 Mei 2022. (Foto: Abdi Purnomo)

Kehidupan keluarga Kim Teng sangat miskin di Singapura. Saat Kim Teng berusia 4 tahun, ayahnya membawa keluarga menyeberang dari Singapura ke Pulau Padang, Riau, untuk mengubah nasib. Secara administratif, pulau seluas 986 kilometer persegi ini dulu masuk wilayah Kabupaten Bengkalis dan sekarang masuk wilayah Kecamatan Merbau, Kabupaten Kepulauan Meranti.

Keluarga Kim Teng berpindah tempat tinggal beberapa kali hingga akhirnya menetap di Bengkalis sejak 1934. Di Bengkalis, Tang Tjun Lan (anak tertua) menikahi Bok Tong An, seorang pedagang kelontong yang sering berdagang ke Kota Melaka, Malaysia dan Singapura. Tong An juga punya toko di Pekanbaru sehingga Tjun Lan pindah ke Pekanbaru pada 1935. Tjun Lan mengajak Kim Teng. Berselang empat tahun, seluruh sisa anggota keluarga orangtua Kim Teng ikut pindah ke Pekanbaru.

Saat berumur 22 tahun, Kim Teng menikahi Tjang Fei Poan pada 1943. Menjelang Jepang menyerah pada Pasukan Sekutu, Kaliono Tenggana lahir. Kim Teng aktif berjuang mempertahankan Kemerdekaan Indonesia dengan menjadi tentara pada Resimen IV Riau pimpinan Hasan Basri.

Kim Teng menjadi anak buah Letnan Satu RA Priodipuro, dengan tugas utama sebagai telik sandi atau mata-mata. Kim Teng juga bertugas mengurusi perbekalan perang, antara lain amunisi, bahan peledak, senjata, pakaian dan sepatu tentara, serta obat-obatan.

Kaliono Tenggana, 78 tahun, anak pertama dari tujuh bersaudara, hasil pernikahan Kim Teng dan Fei Poan, saat melayani pesanan di Kedai Kopi Kim Teng, Pekanbaru, Provinsi Riau, Selasa pagi, 10 Mei 2022. (Foto: Abdi Purnomo)

Kim Teng yang menyamar sebagai pedagang beberapa kali berhasil menembus blokade Angkatan Laut Belanda dengan membawa logistik maupun senjata dari Singapura untuk diserahkan kepada pasukan Indonesia di Riau.

Sehabis perang, Kim Teng berhenti jadi tentara dan sempat menganggur setahun. Ia kemudian ikut abangnya, Tjun Lan, yang buka warung kopi di Pekanbaru pada 1950 dengan menyewa sebuah rumah papan beratap daun rumbia dan berlantai tanah. Kedai kopinya bernama Kedai Kopi Yu Han, terletak di Jalan Sago.

Pada 1955, Kedai Kopi Yu Han dilanjutkan Kim Teng dan dipindahkan ke tepian Sungai Siak. Nama kedai kopinya berubah jadi Kedai Kopi Nirmala. Kedai kopi ini hanya bertahan hingga empat tahun akibat dampak pemberlakuan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 1959 tentang Larangan bagi Usaha Perdagangan Kecil dan Eceran yang Bersifat Asing di luar Ibu Kota Daerah Swatantra Tingkat I dan II serta Karesidenan.

Peraturan Presiden itu disebut pula sebagai Peraturan Pedagang Kecil dan Eceran (PPKE) yang berlaku mulai 16 November 1959. Sebenarnya, beleid ini ditujukan kepada warga negara asing (WNA). Semua orang asing dilarang berdagang di daerah-daerah di bawah tingkat kabupaten.

Namun, penerapan regulasi itu justru berdampak pada semua orang Cina yang berdagang di perdesaan, baik orang Cina berstatus WNA maupun orang Cina yang sudah berkebangsaan Indonesia. Akibatnya, ratusan ribu WNA Cina dipulangkan ke negeri leluhur.

Namun, Kim Teng bernasib mujur berkat statusnya sebagai Veteran Tentara Resimen IV yang berjasa besar selama perang kemerdekaan. Akhirnya, Kim Teng boleh buka warung kopi lagi pada 1961. Kedainya bernama Kedai Kopi Segar yang berlokasi di Simpang Sago, dekat Bank Danamon Pekanbaru sekarang.

Lalu, Kedai Kopi Segar dipindah ke lokasi dekat gerbang Pelabuhan Pelindo I dan lama-lama usahanya lebih populer dengan nama Kedai Kopi Kim Teng. Usahanya berkembang pesat hingga Kim Teng memindahkan kedai kopi dan keluarganya ke Jalan Senapelan (lokasi sekarang) sejak 13 Januari 2002. Kim Teng membeli dua rumah toko yang direnovasi jadi satu dan berwujud bangunan dua lantai. Lantai satu jadi kedai kopi dan lantai dua jadi tempat tinggal keluarga.

Kim Teng wafat pada 6 Mei 2003 di Pekanbaru. Jasad Kim Teng dimakamkan di Pekuburan Cina Umbansari di Kecamatan Rumbai, Pekanbaru, dengan memakai upacara pemakaman militer.

Usaha Kedai Kopi Kim Teng diteruskan oleh Mulyadi Tenggana alias Awai, cucu Kim Teng yang enam tahun kuliah di Kanada. Awai piawai mengembangkan kedai kopi warisan kakeknya hingga punya banyak cabang.

Kaliono mengatakan, Kedai Kopi Kim Teng sempat ditutup pada Juli 2017 oleh Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru. Penutupan dilakukan setelah Firdaus, sang wali kota, mengalami keracunan sehabis menyantap roti srikaya.

Namun, Firdaus bersikap bijak dengan menyebut Kedai Kopi Kim Teng sebagai kedai kopi legendaris yang jadi sudah aset daerah sehingga layak beroperasi kembali. Alhasil, dinas kesehatan mengizinkan Kedai Kopi Kim Teng beroperasi kembali pada 31 Juli tahun yang sama.


Terima kasih sudah membaca artikel kami. Ikuti media sosial kami yakni Instagram @tugujatim , Facebook Tugu Jatim
Youtube Tugu Jatim ID , dan Twitter @tugujatim

 

 

  • Bagikan