JEMBER, Tugujatim.id – Kabupaten Jember tengah berupaya mewujudkan Kabupaten Layak Anak (KLA). Namun upaya tersebut bertolak belakang dengan keberadaan industri tembakau yang menjadi komoditas unggulan daerah ini.
Menanggapi itu, Bupati Jember, Muhammad Fawait menekankan posisi pemerintah yang akan hadir di antara upaya mewujudkan perlindungan kepada dan industri tembakau. Pria yang akrab disapa Gus Fawait itu menekankan pentingnya pendekatan yang tidak memihak satu kepentingan saja.
“Komoditas tembakau memiliki nilai strategis, begitu pula dengan pembinaan generasi penerus. Pemerintahan harus mampu mengakomodasi kedua aspek tersebut secara proporsional,” ungkap Gus Fawait usai Rapat Paripurna bersama DPRD Jember pada Rabu (25/6/2025).
Menurutnya, upaya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember meraih status KLA. Strategi awal yang ditempuh adalah penetapan institusi pendidikan percontohan sebelum implementasi menyeluruh dimulai tahun 2026.
“Pilot project di beberapa lembaga pendidikan telah disiapkan untuk kemudian dikembangkan lebih luas. Yang terpenting, anak-anak di Jember memperoleh lingkungan yang kondusif bagi perkembangan mereka,” jelasnya.

Gus Fawait menegaskan bahwa pembangunan sumber daya manusia masa depan tidak boleh diabaikan meski ekonomi daerah bertumpu pada industri tembakau. Setiap regulasi yang ditetapkan harus mempertimbangkan implikasi terhadap kesejahteraan anak.
“Orientasi keuntungan sesaat tidak boleh menggadaikan prospek generasi mendatang. Implementasi akan dilakukan secara bertahap dengan tetap memperhatikan kondisi riil masyarakat Jember,” terangnya.
Sementara itu. legislator dari Komisi D, Indi Naidha, menyambut positif komitmen tersebut, namun mengingatkan agar implementasi tidak sebatas retorika. Dia menyoroti urgensi sosialisasi menyeluruh dan persiapan teknis yang matang sebelum program dijalankan.
“Program percontohan jangan sampai dipaksakan tanpa analisis mendalam terhadap kondisi faktual. Masih terdapat institusi pendidikan yang kekurangan peserta didik, seperti di wilayah Silo. Hal ini memerlukan kajian komprehensif,” kritik Indi saat dikonfirmasi pada Jumat (26/6/2025).
Anggota dewan dari PDI-Perjuangan tersebut juga menekankan pentingnya keterlibatan berbagai kalangan kompeten dalam program KLA, bukan hanya lingkaran terbatas di sekitar kekuasaan.
“Tim yang dibentuk pemerintah boleh dilibatkan, namun jangan mengabaikan praktisi berpengalaman di bidang pendidikan dan advokasi anak,” ujar Indi.
Legislator tersebut juga menggarisbawahi kebutuhan ruang publik yang mendukung anak serta zona bebas asap tembakau di lingkungan sekolah, meskipun Jember merupakan sentra produksi tembakau.
“Institusi pendidikan harus menjadi safe zone. Setidaknya, pendidik tidak merokok di area pembelajaran. Ini komitmen sederhana namun fundamental dalam merealisasikan program Kawasan Ramah Anak,” pungkas Indi.
Inisiatif Kawasan Ramah Anak memerlukan dedikasi lintas sektor, mencakup bidang pendidikan, layanan kesehatan, proteksi dari tindak kekerasan, hingga pelibatan anak dalam proses pembangunan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: Diki Febrianto
Editor: Darmadi Sasongko








