Harga Gabah Anjlok jadi Rp 3.600/Kg, Petani di Bojonegoro Mengeluh

  • Bagikan
Gabah yang tengah dijemur warga Bojonegoro. Harga gabah di Bojonegoro mengalami penurunan akibat musim hujan yang mengguyur beberapa wilayah akhir-akhir ini, sehingga menyebabkan kualitas gabah penurun hingga gagal panen. (Foto: Mila Arinda/Tugu Jatim)
Gabah yang tengah dijemur warga Bojonegoro. Harga gabah di Bojonegoro mengalami penurunan akibat musim hujan yang mengguyur beberapa wilayah akhir-akhir ini, sehingga menyebabkan kualitas gabah penurun hingga gagal panen. (Foto: Mila Arinda/Tugu Jatim)

BOJONEGORO, Tugujatim.id – Petani di Bojonegoro mengeluhkan anjloknya harga gabah seiring kondisi hujan yang mengguyur di beberapa wilayah akhir-akhir ini. Berdasar pengakuan petani, harga gabah yang sebelumnya dijual Rp 4.000/kg itu kini hanya dihargai Rp 3.600/kg. Terlebih, musim penghujan juga mengakibatkan beberapa petani harus mengalami gagal panen.

Hal tersebut salah satunya dirasakan petani asal Desa Jatigede, Kecamatan Sumberrejo, Kabupaten Bojonegoro, Nurfi’in. Ia mengeluhkan penurunan harga harga gabah yang diakibatkan musim penghujan dikala panen raya sehingga membuat kualitas gabah menjadi buruk.

“Sudah sering kalau mau panen raya seperti ini malah bareng sama musim hujan, jadinya kualitas gabah jadi jelek akibat sawah terlalu banyak terendam air,” jelasnya, Selasa (22/06/2021).

Laki-laki usia 49 tahun itu mengungkapkan bahwa tak serdikit masyarakat yang belum menyadari akan hal tersebut, sehingga para petani sering protes dan mengeluh dengan adanya penurunan harga gabah seperti saat ini.

Menurut Nurfi’in, saat ini harga jual gabah seharga Rp 3.600 hingga Rp 3.800/kg. Padahal sebelumnya bisa sampai Rp 4.000 hingga lebih. Bahkan kata Nurfi’in, dari beberapa kecamatan lainnya mencapai harga Rp 3.200.

“Sebelum musim hujan lalu, milik mertua saya terjual Rp 4.100 dari sawah dan itu belum di jemur. Tapi setelah musim hujan kemarin gabah saya mau di beli, tiba-tiba dibatalkan karena tahu kualitasnya yang jelek,” imbuhnya.

Sehingga saat musim penghujan seperti ini dianggap merugikan petani yang menyewa sawah untuk menanam padi tersebut. Selain untuk membayar sawahnya, mereka juga harus membeli pupuk yang harganya cukup tinggi, serta membayar tenaga buruh tani.

“Kalau saya sendiri tidak merasa begitu rugi karena sawah saya sendiri, namun bagi mereka yang menyewa sawah pastinya uang yang didapat juga pas untuk membayar kebutuhan lainnya,” tutur kepala rumah tangga yang memiliki satu anak ini.

Dirinya menjelaskan bahwa semua pasti akan ada kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kalaupun bagi mereka para petani yang mau untung pastinya mereka harus mengerjakan semua sendiri.

“Semua itu kembali pada diri kita masing-masing untuk menyikapi kenyataan seperti saat ini. Intinya kita semua harus belajar untuk banyak bersyukur,” pungkasnya.

  • Bagikan