Jangan Tunda Pemakaian Kacamata pada Anak Rabun Jauh

Jangan Tunda Pemakaian Kacamata pada Anak Rabun Jauh

  • Bagikan
Ilustrasi pemakaian kaca mata pada anak./tugu jatim
Ilustrasi pemakaian kaca mata pada anak. (Foto: Basra)

Tugujatim.id – Hasil studi di China menunjukkan bahwa penderita miopia atau rabun jauh meningkat seiring adanya pandemi yang bergejolak lebih dari dua tahun belakangan ini.

Dari sekian data, ternyata penderita anak-anak lebi dari 120.000 orang. Rata-rata usia mereka enam hingga delapan tahun. Bahkan di usia ini memiliki kemungkinan tiga kali lebih besar mengalami miopia di banding tahun sebelumnya.

Tentu saja sebagai penderita miopia mereka harus menggunakan kacamata. Tetapi, tidak semua orang tua tanggap dengan keadaan ini bahkan cenderung menunda. Orang tua beralasan bahwa mereka masih belia. Kebutuhan kacamata pada anak belia, mungkin saja ada di sekitar Anda sekalian.

Lantas apa akibat dari penundaan pemakaian kacamata pada anak?

Dokter Spesialis Mata Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA), dr Mohamad Nurdin Zuhri SpM menjelaskan bahwa penundaan pemakaian kacamata pada anak dapat menurunkan fungsi saraf mata. Hal ini bisa membuat mata terasa malas atau amblyopia seiring pertumbuhan anak.

“Pada masa anak-anak terjadi pertumbuhan saraf mata dan retina, sehingga dibutuhkan sinyal objek yang baik agar tidak menurunkan fungsi saraf mata ketika dia beranjak dewasa,” kata dr. Nurdin pada Basra partner Tugujatim.id, Selasa (13/7/2021).

Nurdin menjelaskan, jika kacamata merupakan alat bantu penglihatan yang bertujuan untuk membantu anak agar dapat melihat objek dengan lebih jelas.

Maka dari itu diharapkan penglihatan yang didapatkan oleh anak penderita miopi sama dengan anak dengan penglihatan mata normal.

“Jika anak tidak memakai kacamata, maka ia perlu usaha yang ekstra untuk melihat suatu objek. Nah itu tidak baik untuk saraf mata yang lama kelamaan dapat menyebabkan mata malas atau amblyopia,” jelasnya.

Menurutnya, mata malas atau amblyopia adalah suatu gangguan ketika penglihatan tidak akan pernah jelas seperti orang normal meskipun sudah menggunakan kacamata minus. Hal itu karena adanya gangguan saraf mata dan juga bagian otak yang berfungsi menerjemahkan sinyal dari saraf mata tersebut.

“Mata malas itu ketika ia disuruh membaca snellen chart, ia tidak bisa membaca sampai bawah, pakai ukuran kacamata berapapun sudah tidak bisa lagi,” tuturnya.

Ia mengungkapkan, bahwa orang tua tidak perlu khawatir saat anak memakai kacamata. Jika menurut anak pemakaian kacamata adalah suatu hal yang cukup mengganggu, salah satu terapi agar terbebas dari kacamata adalah operasi lasik.

“Tidak perlu khawatir jika anak-anak menggunakan kacamata, saat ia sudah berumur 18 tahun pilihannya adalah lasik, asal saraf mata kondisinya bagus,” ungkapnya.

Di luar negeri operasi lasik dianggap sebagai hadiah ulang tahun, karena 18 tahun merupakan usia awal diperbolehkan operasi lasik. Hal itu disebabkan karena pada usia tersebut kondisi anatomi mata telah terbentuk dengan sempurna.

“Biasanya umur dilakukan lasik itu minimal 18 tahun, sehingga banyak orang yang tidak sabar menunggu usia tersebut. Oleh karena itu operasi lasik mereka anggap sebagai hadiah ulang tahun,” pungkasnya.

Sumber Berita: Basra

  • Bagikan