MOJOKERTO, Tugujatim.id – Cuaca ekstrem di Kabupaten Mojokerto masih menimbulkan dampak yang merugikan masyarakat. Seperti, putusnya jembatan di Wonodadi, Kutorejo, Kabupaten Mojokerto. Parahnya, jembatan tersebut ambrol setelah tidak lama diperbaiki.
Praktis, mobilitas warga menjadi terganggu akibat putusnya jembatan di Wonodadi ini. Padahal, sebelumnya jembatan ini sempat diperbaiki akibat terjangan debit air sungai yang tinggi karena hujan deras.
Baca Juga: Pernah Putus, Jembatan di Wonodadi Kutorejo Mojokerto Rusak Lagi Akibat Cuaca Ekstrem
Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Mojokerto Abdul Khakim mengonfirmasi kabar tersebut. Khakim mengatakan, putusnya jembatan di Wonodadi disebabkan gerusan debit air sungai yang meningkat signifikan.
“Ditambah, jembatan sebelumnya pernah terkena gerusan yang sama. Jembatan dengan panjang 25 meter serta lebar 3 meter ini putus,” tandasnya, Jumat (21/11/2025).
Sebelumnya, jembatan ini juga pernah putus mendadak pada Sabtu (15/03/2025). Debit air Sungai Wonodadi yang meningkat akibat guyuran hujan deras diduga menjadi penyebab utama putusnya jembatan di Kutorejo.
Jembatan Sebelumnya Sempat Putus
Dari informasi yang dihimpun, putusnya jembatan di Kutorejo tersebut terjadi pada Sabtu (15/03/2025), sekira pukul 18.30 WIB. Putusnya konstruksi jembatan tersebut diketahui saat warga tengah berbuka puasa. Sebelumnya, sebagian besar wilayah Kabupaten Mojokerto diguyur hujan dengan intensitas lebat sejak siang menjelang sore hari.
“Beruntung tidak terdapat korban jiwa karena saat itu pas sepi tidak ada yang melintas (jembatan), warga juga tengah berbuka puasa,” terang Kepala Desa Wonodadi Miskan pada Minggu (16/03/2025).
Sebelum benar-benar putus, pihak desa sebenarnya sudah mendapati tanda-tanda kerusakan konstruksi jembatan pada bulan lalu.
“Bagian kanan dan kiri jembatan, mulai menggantung begitu,” ujar Miskan.
Akibat putusnya jembatan di Kutorejo, pergerakan warga Sumberkembar, Wonodadi, menjadi terganggu. Untuk menuju ke dusun atau desa terdekat saja, warga harus memutar sejauh hingga 5 kilometer.
“Untuk menuju balai desa saja harus memutar lewat Sawo dan Sumbertanggul, warga harus menempuh jarak lebih jauh dari biasanya,” jelas Miskan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Hanif Nanda Zakaria
Editor: Dwi Lindawati








