JEMBER, Tugujatim.id – Kabupaten Jember peringkat 3 kasus HIV di Jatim. Catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur periode Februari menunjukkan Kabupaten Jember dengan populasi mencapai 2,6 juta jiwa mencatat 229 kasus HIV.
Sementara itu, untuk Informasi terkini per tanggal 12 Oktober 2025 belum tersedia, namun risiko penularan HIV tetap mengintai berbagai kalangan tanpa pandang bulu.
Transmisi virus HIV dapat terjadi melalui berbagai jalur, antara lain aktivitas seksual tanpa pengaman, pemakaian alat suntik yang tidak steril secara bersama-sama, serta transmisi vertikal dari ibu yang terinfeksi ke janin selama masa kehamilan, proses kelahiran, atau pemberian ASI.
Akhmad Helmi Luqman, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Jember, menyatakan instansinya konsisten menggelar edukasi dan pemeriksaan untuk identifikasi awal.
“Begitu ditemukan kasus positif, tim kami langsung memberikan pendampingan supaya penderita cepat memulai terapi,” jelasnya pria yang akrab disapa Helmi saat dikonfirmasi pada Sabtu (11/10/2024).
Upaya meningkatkan awareness publik terhadap penyakit yang kerap tersembunyi ini dilakukan dengan berkolaborasi bersama berbagai kelompok, termasuk perkumpulan ODHA. Langkah ini bertujuan mendorong masyarakat yang memiliki faktor risiko untuk melakukan pemeriksaan kesehatan.
“Harapan kami, baik keluarga maupun individu yang bersangkutan berani terbuka agar terapi dapat dimulai sesegera mungkin,” tambah Helmi.
Di sisi lain, Indi Naidha dari Komisi D DPRD Jember mengungkapkan, mayoritas kasus berasal dari penduduk yang memiliki riwayat bekerja di wilayah lain. Karena itu, ia mendesak pemerintah hingga tingkat desa/kelurahan untuk melaksanakan monitoring dan screening berkala, khususnya terhadap warga yang baru kembali dari perantauan.
“Edukasi tentang hubungan yang legal dan penggunaan alat pencegah kehamilan secara tepat juga sangat krusial,” tuturnya.
Indi menegaskan peran vital fasilitas kesehatan tingkat pertama dan aparat desa dalam melakukan screening massal secara aktif.
“Kami telah menginstruksikan seluruh puskesmas untuk serius menekan prevalensi HIV, sambil memastikan pengidap HIV memperoleh pelayanan setara dengan pasien lain demi menjaga kesehatan mental dan emosional mereka,” paparnya.
Legislator dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan tersebut berpandangan bahwa tingginya angka temuan kasus baru bukan sepenuhnya berita negatif. Ia melihat data ini sebagai indikator efektivitas sistem pencatatan dan deteksi dini pemerintah.
“Setiap wilayah memiliki kasus HIV, namun tidak semuanya memiliki sistem dokumentasi yang optimal. Akibatnya, angka resmi yang tercatat seringkali jauh di bawah kondisi aktual,” tutupnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: Diki Febrianto
Editor: Darmadi Sasongko








