• Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Potret Gedung Singa atau Gedung Algemeena (sebutan lain dari 'Perusahaan Umum Asuransi Jiwa dan Tunjangan Hidup Amsterdam', red) di Jalan Jembatan Merah Nomor 15 Krembangan Kota Surabaya, Senin (12/07/2021). (Foto: Rangga Aji/Tugu Jatim)

Potret Gedung Singa atau Gedung Algemeena (sebutan lain dari 'Perusahaan Umum Asuransi Jiwa dan Tunjangan Hidup Amsterdam', red) di Jalan Jembatan Merah Nomor 15 Krembangan Kota Surabaya, Senin (12/07/2021). (Foto: Rangga Aji/Tugu Jatim)

Kilas Sejarah Gedung Singa di Kota Surabaya hingga Gaya Arsitektur Khas Mesopotamia

Gigih Mazda by Gigih Mazda
5 years ago
in Pilihan Redaksi, Wisata
0
Share on FacebookShare on Twitter

SURABAYA, Tugujatim.id – Sekitar 120 tahun yang lalu, tepat pada Rabu, 13 Maret 1901 ada salah satu surat kabar Bahasa Belanda yang menulis bahwa akan ada bangunan berlantai satu dengan gaya arsitektur megah dan indah muncul di kawasan ‘Willemskade’ Kota Surabaya.

‘Willemskade’ sendiri, merupakan toponimi sebutan dari kawasan yang dibatasi oleh perairan, terletak di bantaran Sungai Kali Mas yang sekarang kita sebut dengan nama ‘Jembatan Merah’. Pada masa itu, memang lokasi ‘Willemskade’ merupakan pusat dari perdagangan dan mobilitas masyarakat di Kota Surabaya.

You might also like

Tempat jogging Surabaya

12 Tempat Jogging Surabaya Favorit Warga dengan Udara Sejuk

21/07/2026 2:39 PM
Muktamar

Pesantren Tambakberas Jombang Disterilkan, Golf Cart dan Becak Listrik Disiagakan untuk Muktamar NU

21/07/2026 11:17 AM

Bangunan yang digadang-gadang bakal dibangun itu bernama ‘Gedung Algemeene’. Lokasinya di ‘Willemskade 3’, Jalan Jembatan Merah Nomor 15 Krembangan Kota Surabaya. Satu kawasan dengan Jembatan Merah–lokasi terbunuhnya Brigjen AWS Mallaby, Pabrik Siropen, Polrestabes Surabaya dan Penjara Kalisosok.

Papan alaman Gedung Singa. (Foto: Rangga Aji/Tugu Jatim)
Papan alaman Gedung Singa. (Foto: Rangga Aji/Tugu Jatim)
Potret Gedung Singa atau Gedung Algemeena (sebutan lain dari 'Perusahaan Umum Asuransi Jiwa dan Tunjangan Hidup Amsterdam', red) di Jalan Jembatan Merah Nomor 15 Krembangan Kota Surabaya, Senin (12/07/2021). (Foto: Rangga Aji/Tugu Jatim)
Potret Gedung Singa atau Gedung Algemeena (sebutan lain dari ‘Perusahaan Umum Asuransi Jiwa dan Tunjangan Hidup Amsterdam’, red) di Jalan Jembatan Merah Nomor 15 Krembangan Kota Surabaya, Senin (12/07/2021). (Foto: Rangga Aji/Tugu Jatim)

Gedung Algeemene mempunyai nama lengkap ‘Algemeene Maatschappij van Levensverzekering en Lijfrente te Amsterdam’. Apabila diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia mempunyai makna ‘Gedung Perusahaan Umum dan Asuransi Jiwa Amsterdam’.

Gedung Algemeene seringkali disebut sebagai ‘Gedung Singa’, karena ada patung dua singa khas budaya Mesopotamia dan Mesir Kuno yang duduk di depan pintu masuk. Merupakan salah satu simbolisme yang unik dari gedung tersebut.

Gaya Arsitektur Gedung Singa

Gedung Singa didesain oleh arsitektur terbaik di dunia pada awal masa modern bernama Hendrik Petrus Berlage (1856-1934). Pada mulanya, Gedung Singa didesain oleh arsitek lain bernama Marius Jan Hulswit (1862-1921). Namun, proposal desain Hulswit ditolak oleh pemilik gedung dan perusahaan asuransi.

Di sisi lain, Berlage sendiri merupakan arsitek terkemuka kelas global yang karya-karya geniusnya masih bertahan hingga saat ini dan menjadi idola banyak orang, terlebih para arsitek masa modern. Hal itu, dibuktikan langsung oleh eksistensi Gedung Singa yang masih berdiri kokoh hingga tahun 2021, dengan ukiran bangunan yang masih asli antara tahun 1901-1903.

Tampilan patung singa yang tampak di depan Gedung Singa Kota Surabaya. (Foto: Rangga Aji/Tugu Jatim)
Tampilan patung singa yang tampak di depan Gedung Singa Kota Surabaya. (Foto: Rangga Aji/Tugu Jatim)

Lebih jauh, Prof Dr Purnawan Basundoro SS MHum selaku Dosen Departemen Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (Unair) Surabaya sekaligus Ahli Cagar Budaya menegaskan bahwa yang menjadi unik dari Gedung Singa yaitu dirancang oleh 2 arsitek sekaligus, yakni Hulswit dan Berlage.

“Sejarah gedung ini sudah banyak ditulis, sehingga saya bahas desain saat gedung tersebut dibangun saja. Gedung Singa di Kota Surabaya merupakan gedung unik, karena digambar dan dirancang oleh dua arsitek,” terangnya, Senin (13/07/2021).

Selain itu, ada yang mempesona dari susunan bangunan tersebut. Pertama, seperti yang disebutkan di awal–ada dua patung singa yang berdiri di antara pintu masuk Gedung Algemeene. Yang menarik, kedua singa itu memiliki sayap tegak ke atas seakan bersiap untuk terbang. Ornamen patung singa itu dirancang oleh Joseph Mendesh da Costa (1863-1939), merupakan arsitek dari Belanda dengan rancangan garis tegas dan simbolisme.

“Setelah gedung selesai dibangun pada tahun 1903, di kanan dan kiri pintu masuk diberi patung binatang mitologis Mesir Kuno, yaitu ‘Singa Bersayap’. Petung tersebut dibuat oleh pematung Joseph Mendesh da Costa,” bebernya.

Kedua, ada ornamen lukisan yang menempel misterius di atas pintu masuknya, sebagian menyebutnya sebagai jenis karya ‘mosaik porselen’, untuk pemaknaan karya agung itu merupakan simbol keberpihakan Raja Firaun pada Ibu Eropa, ketimbang Ibu Jawa. Hal itu, ditunjukkan oleh simbolik kaki Raja Firaun yang menghadap kanan, sebagai bentuk pemilihan.

Berlage sendiri merupakan teman dari istri bos pemilik ‘project’ pembangunan Gedung Perusahaan Umum dan Asuransi Jiwa Amsterdam tersebut. Yang perlu dicatat, Berlage berupaya untuk mendesain rancangan Gedung Algemeene tanpa meninggalkan struktur karya Hulswit. Sebagai bentuk penghargaan dan penghormatan atas karya orang lain.

“Rancangan pertama, dibuat oleh Biro Arsitek Hulswit Fermont Cuypers. Namun, rancangan tersebut kurang disetujui oleh perusahaan yang minta dibuatkan gambar, sebuah perusahaan asuransi,” imbuhnya.

“Atas permintaan istri bos perusahaan asuransi tersebut, urusan gambar dialihkan ke arsitek Berlage yang tinggal di Belanda. Kabarnya, istri si bos adalah teman dari Berlage. Akhirnya Berlage menggambar gedung tersebut, tanpa meninggalkan desain awal yang telah dibuat oleh Hulswit,” tegasnya.

Gambar hasil pengembangan desain karya Berlage ada dalam dokumen berwarna kuning. Sedangkan milik Hulswit berwarna putih. Pembangunan Gedung Algemeene memerlukan waktu setidaknya 2 tahun, mulai 1901 sampai 1903. Sehingga usia gedung itu sudah mencapai satu abad lebih.

“Gambar yang dibuat oleh Berlage adalah gambar yang berwarna kuning dan gambar itulah yang dibangun. Pembangunan dimulai tahun 1901 dan selesai tahun 1903,” jelasnya.

Kendati desain yang ditawarkan Hulswit ditolak, namun proses pembangunan saat itu masih memakai jasa Hulswit. Bekerjasama dengan sosok lain, yang bernama W H Scheffer.

“Pembangunan Gedung Singa tetap dilakukan oleh Hulswit Fermont Cuypers, karena perusahaan arsitek tersebut juga merangkap pemborong bangunan. Pembangunan dilakukan bekerjasama dengan W H Scheffer,” tegasnya.

Lebih lanjut soal mosaik porselen bergambar Raja Firaun, Ibu Eropa, Ibu Jawa dan Bayi yang menempel indah di atas pintu masuk Gedung Singa, karya itu dirancang oleh seniman terkenal pada awal masa modern juga yang bernama Jan Toorop. Sosok pria yang lahir di Purwokerto Jawa Tengah, namun memutuskan hidup di Belanda.

Spandul tulisan dijual di depan Gedung Singa, Kota Surabaya dan dalam proses lelang. (Foto: Rangga Aji/Tugu Jatim)
Spandul tulisan dijual di depan Gedung Singa, Kota Surabaya dan dalam proses lelang. (Foto: Rangga Aji/Tugu Jatim)

Berdasarkan data yang diperoleh Tugu Jatim, Jan Toroop sendiri merupakan salah satu seniman modernis awal yang memberikan kontribusi seni di dunia Eropa. Termasuk di Asia, tepatnya Kota Surabaya, Indonesia. Gedung Singa tersebut merupakan perpaduan antara Seni Lukis, Seni Patung dan Arsitektur yang begitu ciamik pada masa-masa itu.

“Di atas pintu diletakan lukisan yang dibuat oleh seniman yang sangat terkenal pada saat itu, Jan Toorop. Jan Toorop kelahiran Purworejo (Jawa Tengah, red), namun kemudian hidup di Belanda,” pungkasnya.

Dua ornamen unik yang menempel di Gedung Algemeene tersebut, merupakan representasi dari budaya yang berkembang saat masa kuno seperti Mesopotamia dan ‘Ancient Egypt’. Dalam kedua budaya kuno itu merupakan lambang ‘keabadian’. Sehingga, pemilik Gedung Algemeene ingin menyampaikan bahwa ‘uang pelanggan yang bakal disimpan di asuransi, dapat dijamin aman untuk selamanya’.

Perlu diketahui, baru-baru ini Gedung Singa yang begitu sarat sejarah dan makna di Kota Surabaya, bakal berpindah tangan karena sudah dilelang oleh Asuransi Jiwasraya. Seperti tulisan dalam spanduk yang menempel di depan pagar gedung yang terletak di kawasan Jembatan Merah tersebut.

 

Tags: cagar budayaheritageKota SurabayaSejarahSurabaya
Gigih Mazda

Gigih Mazda

Related Stories

Tempat jogging Surabaya

12 Tempat Jogging Surabaya Favorit Warga dengan Udara Sejuk

by Mochamad Abdurrochim
21/07/2026 2:39 PM
0

SURABAYA, Tugujatim.id - Mencari tempat jogging Surabaya yang nyaman dengan udara sejuk kini bisa kamu dapatkan dengan mudah. Yuk simak!...

Muktamar

Pesantren Tambakberas Jombang Disterilkan, Golf Cart dan Becak Listrik Disiagakan untuk Muktamar NU

by Mochamad Abdurrochim
21/07/2026 11:17 AM
0

JOMBANG, Tugujatim.id – Alih-alih kendaraan bermotor, panitia gelaran Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang...

Wisata Jombang

12 Tempat Wisata Jombang yang Cocok untuk Liburan Murah

by Mochamad Abdurrochim
21/07/2026 11:00 AM
0

JOMBANG, Tugujatim.id – Kabupaten Jombang tidak hanya dikenal sebagai Kota Santri, tetapi juga memiliki beragam destinasi wisata yang menarik untuk...

Jatim Park Group.

Liburan Lebih Hemat! Promo Spesial Tiket Online Jatim Park Group Berlaku hingga 26 Juli 2026

by Dwi Linda
21/07/2026 2:37 PM
0

BATU, Tugujatim.id – Jatim Park Group kembali menghadirkan promo spesial bagi wisatawan melalui program "Gratis Masuknya, Liburan Hemat" yang berlaku...

Next Post
Ilustrasi zodiak. (Foto: Pexels/Tugu Jatim)

Ramalan Zodiak Hari Ini, Selasa 13 Juli 2021

Merawat Jawa Timur

  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Info Kerjasama
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Hubungi Kami

© 2025 Tugu Jatim ID

No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial

© 2025 Tugu Jatim ID