MOJOKERTO, Tugujatim.id – Budi daya jamur masih setia digeluti oleh Lasmari, warga Cepokolimo, Pacet, Kabupaten Mojokerto. Usaha yang sudah dia geluti selama 15 tahun lebih ini ternyata berawal dari coba-coba. Sebab, sebelum pria berusia 53 tahun tersebut menekuni usaha itu awalnya saat dia berjualan kayu.
“Pas berjualan kayu itu kami punya banyak serbuk kayu yang tidak terpakai. Lalu iseng-iseng secara otodidak belajar budi daya jamur. Kemudian belajar serius tentang jamur ke Malang,” terang Lasmari di kediamannya, Rabu (09/10/2024).
Lepas mendapat pelatihan tentang jamur di Malang, Lasmari memutuskan total menggeluti budi daya jamur. Kala itu, Lasmari ditemani dua karyawan saja. Perlahan, karyawan Lasmari bertambah hingga 12 karyawan. Seluruh karyawan tersebut berasal dari warga lokal.
Baca Juga: Usai Penetapan Pimpinan Definitif DPRD Surabaya Langsung Kebut Penyelesain AKD
“Jamur yang kami budi daya ini jamur tiram putih jenis florida. Jamur-jamur tersebut difokuskan pada tiga kandang yang masing-masing kandangnya berukuran 5 x 10 meter persegi,” bebernya.
Setiap kandang yang dimaksud oleh Lasmari berisi 5.000 buah baglog. Tiap baglog berisi campuran serbuk kayu dan dedak padi. Untuk setiap 1.000 buah baglog butuh dedak pagi sejumlah 1 kuintal dicampur serbuk kayu sejumlah 5 kuintal.
“Tiap-tiap baglog diisi dengan bibit jamur. Untuk 1 botol bibit jamur bisa mengisi 36 buah baglog. Nah bila ada yang beli bibit ke kami, satu botolnya seharga Rp7.000, sementara harga 1 buah baglog seharga Rp2.500,” imbuhnya.
Lasmari melanjutkan, jamur yang dibudidaya panen setiap 4 bulan sekali. Lalu, setiap sekali panen, jamur yang dihasilkan mencapai 3,5 kuintal.
“Setiap selesai panen, kami setor ke pengepul. Beberapa juga ada yang kami jual eceran,” ungkapnya.
Baca Juga: 7 Warung di Kenjeran Surabaya Terbakar Akibat Pegawai Ketiduran Saat Panasi Soto
Tidak hanya jamur, Lasmari juga menjual baglog kepada pelanggan setianya. Setiap hari tidak kurang dari 5.000 baglog dikirim ke tempat-tempat budi daya lain di sekitaran Mojokerto.
“Paling jauh pernah ke Madura. Karena kebanyakan kami aktif di paguyuban kami, di sekitaran Mojokerto,” jelas Lasmari.
Dia mengaku, dirinya menggunakan dana pribadi untuk pengembangan usaha budi daya jamur. Terkadang ada keinginan dirinya berkolaborasi dengan pihak terdekat semisal pihak desa.
“Semoga saja ada kesempatan, apalagi karyawan kami kan dari warga lokal semua,” harapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Hanif Nanda Zakaria
Editor: Dwi Lindawati








