MALANG, Tugujatim.id – Manik-manik saat ini biasanya jadi aksesori untuk mempercantik penampilan. Mulai dari aksesori kalung di leher, juga bisa dipakai di lengan maupun kaki. Namun ternyata manik-manik langka dalam era prasejarah dinilai sebagai benda yang disucikan. Beberapa manik-manik di era prasejarah itu tersimpan di Museum Ganesya, Kabupaten Malang, Jatim.
Dari sekian koleksi, koleksi manik-manik langka dari Kepulauan Solomon di Samudera Pasifik menjadi yang terjauh dimiliki. Manik-manik berwarna biru muda ini terlihat cukup unik, baik dari segi bentuk dan warnanya.
Pemandu senior Museum Ganesya Amri Bayu mengatakan, nenek moyang dulu memercayai manik-manik langka ini untuk bekal kubur, terutama bagi mereka yang paham animisme.
“Ini dijadikan sebagai bekal kubur. Untuk yang sudah meninggal dengan kepercayaan animis modern, dikalungkan manik-manik ini supaya rumah mereka bisa sampai ke surga. Ini kepercayaan animisme dinamisme,” kata Amri Bayu saat ditemui di Museum Ganesya, Jumat (06/10/2023).
Menurut dia, beberapa manik-manik langka juga menjadi penanda umur sang pemilik. Namun, hal itu masih hipotesa atau dugaan sementara dari penelitian yang sudah ada.
“Tapi ini masih hipotesa, ya masih perkiraan. Kalau umurnya beliau warna-warna hijau sudah dewasa, biru dan seterusnya, ini masih perkiraan belum ada penelitian valid untuk memvalidasinya,” tuturnya.

Dia mengatakan, era prasejarah saat masyarakat kuno belum mengenal tulisan, manik-manik yang diciptakan sudah cukup maju. Beberapa manik itu biasanya digunakan sebagai alat barter atau tukar menukar dengan aneka kebutuhan pokok.
“(Manik-manik) mereka bawa ke Nusantara untuk diproduksi atau benda sudah jadi digunakan sebagai alat barter,” katanya.
Tentu saja, koleksi manik-manik di Museum Ganesya seluruhnya asli. Hanya saja, patung yang digunakan untuk menempatkan manik adalah patung replika.
Manik-manik ini pun disimpan di dalam lemari kaca yang besar dengan pengawasan sensor dan kamera CCTV demi keamanan. Sebab, nilainya juga cukup mahal karena ada beberapa manik yang cukup langka.
“Manik-maniknya semua asli, tidak ada yang replika. Manik-maniknya tidak hanya dari Indonesia, tapi juga dari luar Indonesia. Manik polykron Indo-Pasifik, tidak di Indonesia, tapi Asia Tenggara di Kepulauan Solomon,” bebernya.
Dia mengatakan, koleksi manik ini jarang ada di museum wilayah Jawa Timur yang menyuguhkan peninggalan masyarakat prasejarah.
“Jadi Malang sebagai kota pariwisata juga harus ada khazanah tentang museumnya. Kan Malang museumnya juga banyak. Kami melengkapi apa yang belum dimiliki tema-tema di museum-museum itu ada di sini,” ujarnya.
Writer: Yona Arianto
Editor: Dwi Lindawati








