Tugujatim.id – Di antara deretan gunung di Jawa Timur, Gunung Penanggungan memiliki julukan yang cukup populer, yakni Miniatur Mahameru. Sebutan tersebut bukan tanpa alasan. Meski memiliki ketinggian yang jauh lebih rendah dibanding Gunung Semeru, Penanggungan dinilai memiliki bentuk morfologi yang menyerupai gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut.
Julukan ini sudah lama dikenal di kalangan pendaki maupun pecinta alam. Selain karena bentuknya yang menyerupai Mahameru, Gunung Penanggungan juga memiliki karakter jalur pendakian yang menantang, panorama alam yang indah, serta nilai sejarah dan budaya yang sangat tinggi. Tak heran jika gunung yang berada di perbatasan Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Pasuruan ini menjadi salah satu destinasi favorit bagi pendaki, peziarah, hingga peneliti sejarah.
Lantas, mengapa Gunung Penanggungan dijuluki Miniatur Mahameru? Berikut penjelasannya.
1. Bentuk Gunung yang Mirip Mahameru
Alasan utama Gunung Penanggungan mendapat julukan Miniatur Mahameru adalah bentuk fisiknya yang menyerupai Gunung Semeru.
Gunung Penanggungan memiliki puncak utama yang menjulang dengan beberapa bukit atau puncak satelit yang mengelilinginya. Bentuk tersebut mengingatkan banyak orang pada Gunung Semeru yang juga memiliki kerucut gunung yang tegas dan lanskap pegunungan di sekitarnya.
Bedanya, Gunung Penanggungan memiliki ketinggian sekitar 1.653 meter di atas permukaan laut (mdpl), sedangkan Gunung Semeru mencapai 3.676 mdpl. Meski ukurannya lebih kecil, siluet Penanggungan sering dianggap sebagai “versi mini” Mahameru.
2. Memiliki Nilai Sakral Sejak Masa Kerajaan
Keistimewaan Gunung Penanggungan tidak hanya terletak pada bentang alamnya, tetapi juga sejarahnya.
Pada masa Kerajaan Kahuripan, Singhasari, hingga Majapahit, Gunung Penanggungan dipercaya sebagai kawasan suci. Banyak pertapa, pendeta, maupun bangsawan kerajaan melakukan kegiatan spiritual di kawasan gunung ini.
Dalam kitab Negarakertagama, kawasan Penanggungan dikenal dengan nama Gunung Pawitra, yang berarti gunung suci. Nama tersebut menunjukkan pentingnya kawasan ini dalam kehidupan keagamaan masyarakat pada masa itu.
3. Memiliki Ratusan Situs Peninggalan Sejarah
Salah satu keunikan Gunung Penanggungan dibanding gunung lain di Indonesia adalah banyaknya peninggalan arkeologi yang tersebar di lerengnya.
Para peneliti menemukan lebih dari 100 situs purbakala, mulai dari candi, petirtaan, gapura, arca, hingga pertapaan yang berasal dari masa Hindu-Buddha.
Beberapa situs yang cukup dikenal antara lain Candi Kendalisodo, Candi Yudha, Candi Putri, Candi Carik, Candi Bayi, Petirtaan Jolotundo, dan Candi Belahan yang berada di kawasan kaki gunung.
Keberadaan situs-situs tersebut menjadikan Gunung Penanggungan sebagai salah satu kawasan arkeologi pegunungan terpenting di Indonesia.
4. Jalur Pendakian yang Relatif Singkat
Meski tidak terlalu tinggi, jalur pendakian Gunung Penanggungan cukup menantang karena didominasi tanjakan yang curam.
Terdapat beberapa jalur pendakian yang umum digunakan, seperti melalui Tamiajeng (Mojokerto), Jolotundo, Ngoro, maupun jalur Kedungudi.
Rata-rata pendaki membutuhkan waktu sekitar 3 hingga 5 jam untuk mencapai puncak, tergantung kondisi fisik dan jalur yang dipilih.
Karena waktu tempuhnya relatif singkat, Gunung Penanggungan sering menjadi pilihan bagi pendaki pemula yang ingin merasakan pengalaman mendaki gunung.
5. Panorama Puncak yang Memesona
Sesampainya di puncak, pendaki akan disuguhkan panorama pegunungan yang luas.
Saat cuaca cerah, dari puncak Gunung Penanggungan dapat terlihat beberapa gunung besar di Jawa Timur, seperti Gunung Arjuno, Gunung Welirang, Gunung Semeru, Gunung Kawi, hingga Gunung Anjasmoro.
Pemandangan matahari terbit juga menjadi salah satu daya tarik utama. Hamparan awan yang menyelimuti kawasan Mojokerto dan Pasuruan membuat suasana di puncak terasa sangat memukau.
6. Kaya Flora dan Fauna
Kawasan Gunung Penanggungan masih didominasi hutan tropis pegunungan yang menjadi habitat berbagai jenis tumbuhan dan satwa liar.
Pendaki dapat menjumpai berbagai jenis pakis, pinus, tanaman endemik pegunungan, hingga beberapa jenis burung yang hidup di kawasan hutan. Kondisi alam yang masih cukup terjaga menjadi salah satu alasan mengapa kawasan ini memiliki nilai konservasi yang penting.
Karena itu, setiap pendaki diharapkan menjaga kebersihan serta tidak merusak vegetasi maupun situs sejarah yang berada di sepanjang jalur pendakian.
7. Destinasi Favorit Pendaki dan Wisata Sejarah
Gunung Penanggungan menawarkan pengalaman yang berbeda dibanding gunung lainnya.
Selain menikmati pendakian, pengunjung juga dapat mempelajari sejarah melalui berbagai situs peninggalan Kerajaan Majapahit yang tersebar di sepanjang lereng gunung.
Perpaduan antara wisata alam, sejarah, dan budaya inilah yang membuat Gunung Penanggungan memiliki daya tarik tersendiri. Banyak wisatawan tidak hanya datang untuk mencapai puncak, tetapi juga mengunjungi situs-situs bersejarah yang menjadi saksi perkembangan peradaban Jawa Timur pada masa lampau.
Lokasi Gunung Penanggungan
Gunung Penanggungan berada di perbatasan Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Gunung ini termasuk dalam kawasan hutan yang dikelola oleh Perum Perhutani dan memiliki beberapa jalur pendakian resmi yang dapat dipilih sesuai kebutuhan pendaki.
Bukan Sekadar Gunung, tetapi Warisan Sejarah Jawa Timur
Julukan Miniatur Mahameru yang melekat pada Gunung Penanggungan tidak hanya berasal dari bentuknya yang menyerupai Gunung Semeru, tetapi juga karena pesona alam yang mampu memberikan pengalaman pendakian yang berkesan dalam skala yang lebih ringkas.
Di balik keindahan panorama pegunungannya, Gunung Penanggungan menyimpan jejak panjang sejarah Kerajaan Kahuripan, Singhasari, hingga Majapahit melalui ratusan situs purbakala yang masih dapat dijumpai hingga kini. Kombinasi antara kekayaan alam, nilai spiritual, dan warisan budaya menjadikan gunung ini sebagai salah satu destinasi paling istimewa di Jawa Timur.
Bagi wisatawan maupun pendaki, Gunung Penanggungan bukan sekadar tempat untuk mencapai puncak, tetapi juga ruang untuk mengenal lebih dekat sejarah, budaya, dan bentang alam yang telah menjadi bagian penting dari perjalanan peradaban di Nusantara.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer : Annisa Syalsyavia/Magang
Editor: Mochamad Abdurrochim








