Mengulik Sejarah Keraton Gunung Kawi yang Jadi Akulturasi 5 Agama - Tugujatim.id

Mengulik Sejarah Keraton Gunung Kawi yang Jadi Akulturasi 5 Agama

  • Bagikan
Objek Wisata Budaya Gunung Kawi di Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang. (Foto: RAP/Tugu Malang/Tugu Jatim)
Objek Wisata Budaya Gunung Kawi di Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang. (Foto: RAP/Tugu Malang/Tugu Jatim)

MALANG, Tugujatim.id – Jika kita mengunjungi Objek Wisata Budaya Gunung Kawi di Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, kita akan menyaksikan sendiri bagaimana 5 agama yang hidup secara harmonis.

Juru kunci Ciamsi Klenteng Dewi Kwan Im, Sholikin, menceritakan jika Objek Wisata Budaya Gunung Kawi dulunya adalah tempat menimba ilmu yang didirikan oleh Eyang Djoego (Raden Mas Soeryo Koesmono atau Kiai Zakaria II) dan Eyang Iman Soedjono (Raden Mas Iman Soedjono).

“Eyang Djoego dan Eyang Iman Soedjono beliau adalah ulama atau Wali Allah yang berperan menyebarkan agama Islam pada masa Perang Diponegoro (1825-1830). Dan Eyang Djoego itu masih cicit dari Kanjeng Bendoro Pakubuwono yang di Solo, masih keturunan dari Diponegoro,” ungkapnya saat dikonfirmasi beberapa waktu lalu.

“Kalau Eyang Iman Soedjono itu masih keturunan atau trah silsilah dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat Jogjakarta. Beliau masih keturunan dari Hamengkubuwono I,” sambungnya.

Objek Wisata Budaya Gunung Kawi di Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang. (Foto: RAP/Tugu Malang/Tugu Jatim)
Objek Wisata Budaya Gunung Kawi di Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang. (Foto: RAP/Tugu Malang/Tugu Jatim)

Kedua tokoh ini sendiri selain menyebarkan agama Islam, juga ikut membantu mengusir penjajah di wilayah Gunung Kawi. Keduanya juga mengajarkan berbagai ilmu pengetahuan dan agama tanpa memandang ras, suku, agama hingga bahasa.

“Beliau (keduanya) selain mengajarkan agama Islam juga ikut membantu mengusir penjajah dari Bumi Nusantara. Dan mengumpulkan prajurit maupun pemuda-pemuda untuk menimba ilmu, tetapi beliau tidak membeda-bedakan ras, suku, agama, warna kulit dan bahasa,” tuturnya.

Bahkan, setiap murid diwajibkan beribadah sesuai dengan agama dan kepercayaan mereka masing-masing. Tanpa harus terpaku kepada kepercayaan gurunya yang merupakan umat Islam.

“Setiap murid juga diwajibkan untuk sembahyang menurut agama dan kepercayaan masing-masing. Yang Islam buatlah surau atau waqaf atau yang sekarang disebut langgar, yang Nasrani buatlah gereja, Hindu pura, Budha wihara dan untuk orang Chinese membikin klenteng,” ungkapnya.

“Makanya semua ada dari masjid, gereja pura, wihara sampai klenteng yang merupakan akulturasi budaya tadi atau Bhinneka Tunggal Ika. Karena kita semua itu benar-benar minta kepada Tuhan yang Maha Esa menurut agama dan kepercayaan masing-masing, serta menimba ilmu Eyang Djoego dan Eyang Raden Mas Iman Soedjono,” lanjutnya.

Juru kunci Ciamsi Klenteng Dewi Kwan Im, Sholikin. (Foto: RAP/Tugu Malang/Tugu Jatim)
Juru kunci Ciamsi Klenteng Dewi Kwan Im, Sholikin. (Foto: RAP/Tugu Malang/Tugu Jatim)

Eyang Djoego dan Eyang Iman Soedjono sendiri wafat pada 1871 dan 1876, keduanya wafat hanya berselang 5 tahun. Dan hingga saat ini makam keduanya di Objek Wisata Budaya Gunung Kawi masih sering dikunjungi peziarah mulai dari orang biasa sampai pejabat publik.

“Eyang Djoego sendiri wafat pada 1871, sedangkan Eyang Iman Soedjono wafat pada 1876,” beber Sholikin.

Lebih lanjut, pria asli Desa Wonosari ini mengatakan hanya di Objek Wisata Budaya Gunung Kawi ini terdapat akulturasi budaya dari 5 agama.

“Di Malang Raya akulturasi semua budaya agama cuman ada di Gunung Kawi sini. Di sini gereja ada, pura di atas ada, keraton, wihara, masjid, klenteng,” tegasnya.

“Bangunan (kelenteng) ini juga termasuk akulturasi budaya seperti ukurannya dari Bali atau Hindu, tiangnya ini ada Jawa Mentaraman, di atas kita ini ada Paqua,” pungkasnya. (rap/gg)

  • Bagikan